The Zone of Interest dan Ironi Menjadi Apa yang Pernah Kamu Benci

oleh: A Muawal Hasan

 

 

 

Pada Juli 2014 lalu seorang fotografer asal Denmark memotret kondisi orang-orang yang asik menonton sesuatu di atas bukit pada malam hari. Allan Sorensen namanya. Ternyata dia memotret warga Kota Sderot, Israel, yang ternyata sedang menyaksikan roket-roket militer Israel menghujani pemukiman warga di Jalur Gaza, Palestina.

 

Allan mengatakan, para penonton bersorak dan bertepuk tangan tiap kali roket menghantam sasaran. Ia bahkan melihat ada yang membawa popcorn serta minuman bersoda. Momen itu terjadi sepuluh tahun lalu. Namun kengeriannya masih terasa hingga sekarang. 

 

Kamu mungkin berpikir, kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kan?

 

Tidak.

 

Mereka melakukannya secara terbuka dan terang-terangan.

 

Media besar seperti The New York Times, ABC News, dan The Guardian juga pernah meliputnya. Laki, perempuan, tua, muda, mereka datang dari berbagai kota di Israel, termasuk ibukota Tel Aviv, dan berkunjung ke Sdoret hanya untuk merasakan pengalaman menonton genosida.

 

Lokasi Sderot memang hanya selemparan batu dari Gaza bagian Utara. Kota ini memiliki berbagai fasilitas seperti taman anak-anak, sekolah, perumahan yang tertata rapi, bahkan area bermain golf. Kehidupan berjalan relatif normal di sana. Berbeda dengan kehidupan di Gaza, yang berjarak cuma satu kilometer, dan dipisahkan oleh tembok pembatas.

 

 

 

 

Kebijakan apartheid Israel membuat warga Gaza kehilangan hak asasinya. Mereka terpenjara dalam berbagai aspek: mobilitas, pemenuhan kebutuhan pokok, pencarian pekerjaan, dan lain sebagainya. Hak atas rasa aman juga otomatis hilang sebab roket Israel sanggup meluluhlantakkan rumah hingga merenggut nyawa mereka.

 

Agak sulit membayangkan kondisi yang begitu kontras terjadi di era kekinian. Kenyamanan versus ketidaknyamanan. Kesejahteraan versus penderitaan. Kehidupan versus kematian. 

 

Untungnya, para seniman menolak diam. Mereka terus mengingatkan kita lewat karya-karyanya yang menyorot isu kesenjangan nasib ini. Contohnya, yang baru-baru ini menghantui pikiran saya, adalah film The Zone of Interest.

 

Sayup-Sayup Suara Horor

 

 

The Zone of Interest berfokus pada kehidupan keluarga Rudolf Hoss (Christian Friedel) pada tahun 1943. Rudolf adalah anggota SS Nazi Jerman. Istrinya bernama Hedwig (Sandra Huller), dan mereka memiliki lima orang anak. 

 

Kehidupan keluarga Rudolf adalah jenis yang banyak orang idam-idamkan . Mereka tinggal di sebuah rumah dua tingkat dengan interior yang cantik. Ruangannya banyak. Halamannya luas, bak permadani hijau lengkap dengan kolam renang, rumah kaca, gazebo, dan sekelilingnya ada lahan berkebun serta menanam bunga matahari, mawar, dahlia, marigold, dan lain sebagainya.

 

Bunga-bunga itu akan mekar di musim panas, ketika keluarga Rudolf menghabiskan waktu luang dengan berjemur, berenang di kolam renang, atau sesekali berenang di sungai dekat rumah yang airnya mengalir jernih. Tentu saja mereka punya pembantu dan tukang kebun untuk mengurus itu semua.

 

Jadi, dimana letak kesenjangannya?

 

Mereka Belajar Mematikan Empati

 

Rudolf bisa mendapatkan fasilitas yang serba-memadai karena ia adalah komandan kamp konsentrasi Auschwitz. Dan rumahnya tepat berada di samping ladang pembantaian orang-orang Yahudi itu.

 

Uniknya, sutradara Jonathan Glazer tidak mempertontonkan tragedi yang kita kenal sebagai holocaust itu secara visual. Ia memberitahu penonton via suara.

 

Bayangkan, dalam satu adegan, kita melihat istri Rudolf mengajak ibunya jalan-jalan di halaman rumah. Ia menjelaskan nama-nama tanaman yang berhasil ia tumbuhkan, berbincang di gazebo, sambil mensyukuri kemapanan yang telah mereka raih. 

 

Namun, sayup-sayup kita juga diperdengarkan suara letusan senjata dan jeritan orang-orang yang sedang meregang nyawa. Kita hanya bisa membayangkan anak buah Rudolf memasukkan korban holocaust ke dalam bunker, lalu mengisinya dengan gas beracun. 

 

Ingat, dua kejadian ini berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Jaraknya pun amat dekat, karena hanya dipisahkan oleh tembok setinggi tiga meter. Suara-suara yang mengerikan itu terdengar tak kenal waktu–siang, sore, malam, saat keluarga Rudolf terjaga maupun saat mereka berusaha tidur.

 

Film terasa makin horor karena istri Rudolf dan anak-anaknya tahu apa yang sedang terjadi. Mereka paham ayahnya sedang memimpin genosida terhadap orang-orang yang dicap sebagai musuh negara (hanya karena berbeda ras!), yang didatangkan dari berbagai wilayah pendudukan dengan menggunakan kereta api.

 

Perasaan mereka tidak (terlalu) terusik. Mereka telah belajar mematikan empati, lalu menjalankan rutinitas seperti biasa, senormal-normalnya. 

 

Ironi Zionisme

 

Judul film diambil dari istilah “zone of interest”, kawasan sekitar Auschwitz seluas kurang lebih 40 kilometer persegi. Area sekitarnya selalu dijaga oleh anggota SS, Gestapo, dan polisi lokal. Selain digunakan untuk menjalankan holocaust, “zone of interest” juga dipakai untuk program tanam paksa.

 

Holocaust berlangsung antara tahun 1941-1945. Jumlah korbannya sekitar enam juta, atau sepertiga dari total populasi orang-orang Yahudi di Eropa. Ini statistik yang menunjukkan betapa kejamnya Nazi Jerman, serta mengapa holocaust penting untuk terus diperbincangkan, tentu agar kejadian yang sama tidak terulang.

 

Sayangnya, sejarah bergerak secara ironis.

 

Orang-orang Yahudi yang selamat dari kekejaman Nazi (dan secara umum kekerasan berbasis anti-semitisme di Eropa) mengalami trauma yang luar biasa. Banyak di antaranya yang makin mendukung gerakan Zionisme yang bertujuan untuk mendirikan negara/tanah air bagi bangsa Yahudi.

 

Zionisme sebenarnya sudah berkembang sejak abad ke-19. Khususnya setelah Theodor Herzl, bapak Zionisme modern, menerbitkan pamflet berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada tahun 1896. Pada Perang Dunia kedua, holocaust ibarat katalisator yang mempercepat laju gerakan ini.

 

Kita sudah lumayan akrab dengan apa yang terjadi selanjutnya. Wilayah Palestina dipilih sebagai kawasan pendirian negara Israel pada tahun 1948. Gelombang imigrasi meningkat. Warga Palestina kian terdesak. Ruang hidup mereka semakin terokupasi. Dan Israel mulai melakukan apapun untuk mempertahankan eksistensinya, memperluas teritorinya, termasuk dengan mempraktekkan ragam kejahatan kemanusiaan.

 

Pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel memberikan balasan yang jauh lebih masif dan intensif ke Jalur Gaza. Hingga hari ini. Saking intensnya, mereka seperti tidak bermaksud membebaskan sandera atau melumpuhkan Hamas. Mereka nampak ingin meratakan Gaza sepenuhnya, dan menyingkirkan penduduknya.

 

Amat ironis, bukan? Saat kita berubah menjadi apa yang pernah kita benci?

 

Masa Lalu, Masa Sekarang

 

 

Film The Zone of Interest memenangi penghargaan Best International Feature dan Best Sound di ajang Academy Awards ke-96. Dalam pidatonya Jonathan berterima kasih kepada pihak-pihak yang berjasa dalam pembuatan filmnya. Ia lalu menyampaikan pesan yang menggegerkan Hollywood:

 

“Seluruh keputusan dibuat untuk mencerminkan sekaligus mengkonfrontasi diri kita di hari-hari belakangan ini. Bukan “lihat apa yang mereka lakukan dahulu”, tapi “lihat apa yang kita lakukan sekarang.” Film kami menunjukkan dampak dari dehumanisasi dalam bentuk yang paling buruk. Hal itu membentuk seluruh masa lalu dan masa sekarang.”

 

“Saat ini kami berdiri di sini sebagai orang-orang yang menyangkal ke-Yahudi-an mereka dan holocaust yang dibajak oleh (kekuatan) pendudukan, yang telah menyebabkan konflik bagi banyak orang yang tak bersalah. Baik korban pada tanggal 7 Oktober di Israel maupun serangan yang sedang berlangsung di Gaza, seluruh korban dehumanisasi ini, bagaimana kita melawannya?”

 

Oh, sungguh pernyataan yang puitis dan tepat waktu. 

 

Saya setuju dengan refleksi Naomi Klein dalam kolomnya untuk The Guardian. Ia menangkap pesan Jonathan, bahwa tidak etis bagi Israel untuk menggunakan trauma holocaust sebagai pembenaran atau kedok atas kekejaman yang mereka lakukan saat ini. 

 

Jonathan juga ingin menyadarkan kita bahwa proses pemusnahan sebuah bangsa tidak sejauh yang kita bayangkan. Tiba-tiba saya tersentil. Nyatanya, kini pelanggaran HAM bisa tampil sedekat muka. Lebih tepatnya saat kita membuka ponsel, sembari tiduran di kasur yang nyaman.

 

Kita punya pilihan untuk tidak mengacuhkannya. Sebagaimana yang keputusan keluarga Rudolf, kita tinggal berlatih mematikan tombol empati. Tapi kita adalah manusia normal. Kita bukan monster. Maka, mengutip pertanyaan Jonathan, bagaimana kita melawannya?



Dukung kami untuk menghadirkan cerita, dan liputan yang mendalam terkait yang terpinggirkan.

 

Silahkan klik tautan dibawah ini.