Senandung Penambang Pasir Sungai Kurao

Perahu pengangkat pasir

Oleh: David Utomo

Dunia pasir adalah dunia yang menyenangkan untuk anak-anak. Pasir ada di mana-mana dan menjadi agregat penting dalam pembangunan. Belantara beton telah berdiri mengelilingi kita. Setiap tahun, seluruh dunia telah menggunakan 50 miliar metrik ton pasir. Saat pasir terus dieksploitasi, perlahan-lahan akankah bumi kehabisan pasir? Andai kata benar, maka hanya tersisa pasir di gurun-gurun yang tidak cocok untuk membangun konstruksi dunia. 

Saat ini hanya penambangan pasir laut yang dilarang karena merusak ekosistem perairan, tapi apakah penambangan pasir di sungai tidak dilarang? Saya tak punya jawaban walaupun pada akhirnya akan menciptakan dampak yang sama dengan penambangan pasir laut, tetapi Sungai Kurao punya cerita lain.

Pemandangan Sungai Kurao

Sejak tahun 1980-an sepanjang Sungai Kurao Kota Padang yang kini airnya berwarna kuning nyaris coklat. Airnya beriak bila angin bertiup atau ketika perahu sedang melintas di permukaannya yang tenang. Masyarakat lokal telah menambang pasir secara tradisional di sana. 

Sekali dalam beberapa jam biduk-biduk pembawa pasir akan melintas. Sedangkan tempat pembongkaran pasir yang terlama berada di pinggiran Hutan Kota Padang. Keseluruhan lokasi pembongkaran pasir itu mencakup empat titik, dua di tepian sungai Kurao yang menghadap Pemakaman Umum Tunggul Hitam dan satu lagi di bawah jembatan Kurao.

Setiap unggukan pasir dan kerikil yang merupakan sumber daya alam tak terbatas di sana akan dibawa menggunakan mobil Mitsubishi L300 atau truk. Sopir-sopir pengangkut pasir akan mengantarkan ke tempat-tempat yang sedang dalam masa pembangunan seperti rumah dan jalan beton.

Para penambang pasir yang berkulit gelap akibat tersengat sinar matahari saban hari. Ada seorang lelaki yang telah menambang pasir sejak masa remaja, Codoik panggilannya. Dia dengan bertelanjang dada sedang rapatkan biduknya yang tidak ada muatan waktu tengah hari tiba.

Kabar yang sering saya dengar bahwa Sungai Kurao adalah tempat habitat buaya. Menghadapi tantangan seperti buaya Codoik buaya tidak akan mengganggu.

“Kalau berada di dalam air itu kita tidak boleh sombong. Memang benar ada buaya di sini, yang penting jangan sombong, telinga buaya itu telinga angin, selama tidak bermaksud buruk, ia merasa buaya tak akan mengganggu. Kalau sudah tengah hari kita berhenti,” katanya sambil menonton sungai yang mengalir tak henti-hentinya.

Buaya di Sungai Kurao yang dekat dengan para penambang pasir bagaikan sebuah pistol yang siap ditarik pelatuknya, kehadiran ancaman yang paling dekat dan yang harus diwaspadai penambang pasir hanyalah seekor buaya. Sejauh ini, reptil bertubuh besar yang hidup di Sungai Kurao itu telah sering menampakkan diri bahkan kadang-kadang ke darat untuk pemanasan, para penambang pasir seolah-olah menganggap itu seperti pemandangan seekor sapi yang sedang merumput. Namun, ancaman tetaplah ancaman bahkan batu yang diam bisa melukai kita.

Romi berusia tiga puluh lima tahun adalah orang yang sangat ramah. Ketika saya datang ke lokasi pembongkaran pasir, terlihat ia sedang berbaring di kursi panjang di sebuah warung dekat tepian Sungai Kurao. Lalu Romi bangkit dari posisi berbaringnya. 

“Belum ada pasir, sedikit yang menambang sekarang. Ada satu yang sedang jalan, sebentar lagi dia balik,” Kata Romi pada saya.

“Tidak. Saya tidak mencari pasir.Tetapi ingin bertemu orang-orang yang mencari pasir di sini,” Jawab saya.

Romi pun menuturkan bagaimana kisah orang-orang yang menambang pasir di sungai Kurao. 

“Tentang buaya, dua hari lalu ada seekor seekor yang berenang ke sini. Kalau sudah tampak buaya biasanya hanya yang bermental berani saja terus mencari pasir. Ada yang pernah mati ketika mengambil pasir, tapi tidak dimakan buaya, lebih ke kondisi harapan kesehatan,” ucap Romi.

“Tantangan yang sangat menyusahkan itu lebih ke cuaca, kalau hari hujan air sungai jadi dalam dan keruh, susah buat mengambil pasir,” tambahnya.

Kedalaman sungai Kurao mencapai dua sampai tiga meter, penambang menggunakan pentas adalah kayu yang berukuran mulai dari satu setengah meter sebagai tempat berpijak yang dipancangkan ke dasar sungai. Pancang atau lebih sering disebut pentas oleh penambang pasir berada di samping biduk jika mencari di air yang dalam, tujuannya sebagai tempat berpijak untuk menuangkan pasir ke atas biduk.

“Ada dua jenis penambang pasir di sini. Yang memilih pasir di dasar sungai untuk dikeruk dan ada yang sebaliknya. Kalau tidak dipilih biasanya pasir itu ditolak tukang bangunan dan dikembalikan lagi ke sini. Pasir Lubuk Alung dan Padang Sarai yang paling jadi primadona. Tapi di sini ada seorang penambang pasir yang cukup bagus akan kualitas pasir yang diambilnya. Sehari seorang penambang mampu mengangkut pasir sebanyak 3 biduk, tapi itu tergantung tenaga dan waktu,” Kata Romi.

“Pasir sama saja, yang penting adukan dengan air mani masak,” bantah Codoik.

Tiba-tiba seorang penambang pasir bernama Suwendi yang mengenakan topi cendera mata bertulisan KFC menyela. “Susah cari uang kan? Ini sudah tengah hari cuma dapat satu biduk dan biduk bocor pula. Lihatlah, pekerjaannya terlihat sepele, padahal ini berat. Mau bagaimana lagi, syukurlah saya masih bisa makan sekeluarga. Bisa banyak-sedikit disimpan, kalau tidak menyimpan di masa kini, hidup jadi susah. Kalau tidak simpan uang bisa menikah dengan orang,” keluhnya.

Biduk tiris menanti karam, sebelum itu terjadi si induk semang harus mengambil langkah untuk memperbaiki biduk. Pemilik biduk atau “Orang Tepian” mereka menyebut hanya mengetahui bahwa 2 biduk berarti 3 kali mobil melakukan bongkar-muat, “Satu Biduk kalau penuh isinya satu setengah mobil bak L300. Setengahnya untuk yang punya biduk. Minimal dapat dua biduk untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” Kata Romi.

Penambangan pasirs di sungai Kurao

Rata-rata dalam sekali muat, satu biduk pasir, para penambang telah mengantongi uang Rp.65.000 juga terkadang ada beberapa sopir truk yang memberikan persenan kepada para penambang pasir dengan tujuan mencari pasir yang bagus. Ketika penambang biduk pasir berada di tepian, nantinya akan ada seseorang yang akan bekerja menurunkan pasir-pasir dari atas biduk, mereka mendapatkan upah sebesar Rp.20.000 untuk menurunkan dari atas biduk dan Rp.15.000 untuk memuat ke atas mobil bak L300.

“Kalau kita yang membongkar pasir dari atas biduk, rasanya letih. Habis menyelam ambil pasir itu betis dan paha terasa penat, tidak mungkin untuk membuka pasir di biduk ke tepian,” terang Romi.

Setiap penambang pasir memiliki teknik tersendiri yang terbagi dalam dua metode, menyelam dan teknik pengambilan menggunakan tali. Alat-alatnya berupa ember besi yang telah dilubangi sebagai penyaring udara, sekop dan mereka tak menggunakan alat penyedot karena semuanya akan tersedot tanpa pandang bulu, pasir yang dicari pun bercampur dengan lumpur, bahkan ikan-ikan kecil bisa tersedot dan itu merusak ekosistem dan ekologi yang ada di sungai.

Pasang surut air menjadi pedoman penambang pasir di Sungai Kurao selain cuaca hujan. Ketika air surut, penambang pasir mengejar target sampai jam lima sore. “Kalau kini pasir sudah berkurang.Belum ada air besar datang akhir-akhir ini,” ungkap Romi.

Siluet Penambang Pasir
Sampan yang terletak di bibir sungai

Permintaan pasir terus meningkat dan tak terpuaskan. Ini menjadikan penambangan pasir di sungai sebagai sebuah isu lingkungan yang menjadi pembicaraan utama. Menghentikan penambangan adalah sebuah solusi meskipun larangan itu adalah hal yang terbaik untuk alam, namun orang-orang telah lama mencari penghidupan di sana bagaimana? Siapa yang merusak sungai? 

Para penambang pasir memiliki kesadaran menjaga sungai seperti selalu memisahkan sampah yang ikut terbawa diantara pasir ke atas biduk dan tidak membuangnya lagi ke sungai. Singkatnya, polemik penambangan pasir sangat berliku sepanjang, seolah-olah kita menunjuk diam-diam bahwa para penambang pasir telah merusak sungai. Tetapi, masih belum tentu kebenarannya karena masih ada orang yang membuang sampah ke sungai dan itu merupakan penyebab utama datangnya air bah.

Sedimen yang telah dikeruk sepanjang hari itu akan memakan waktu ribuan tahun untuk kembali mengisi kembali cadangan sedimen tersebut. Proses masuknya sedimen datang dari erosi lereng bukit oleh udara dan erosi dasar tepi sungai. Dampak yang terlihat dari penambangan pasir adalah pelebaran dan penurunan dasar sungai. Jika krisis pasir tak terelakkan di masa mendatang, maka konflik agraria akan terjadi dan orang akan saling membunuh demi mendapatkan pasir. 

Untuk itu saya teringat Mad Max: Fury Road karya George Miller, sebuah film berlatar pasca-apokaliptik dengan pemandangan gurun yang gersang. Menurut saya, Fury Road mengambil tema keserakahan sumber daya air dan minyak yang menjadi langka. Plot film itu sederhana, Pejuang jalanan Max dan pengemudi ganas Furiosa berlomba melintasi gurun melarikan diri dari kejaran Immortan Joe, pemimpin armada War Boys dan seorang tiran yang menguasai sumber daya udara di dunia yang hancur. 

“Harapan adalah sebuah kesalahan. Jika kamu tidak bisa memperbaiki apa yang rusak, kamu akan menjadi gila,” Kata Max Rocktansky.

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi