Teks dan Foto: Novia Harlina
Erni membawa bibit ubi jalar dalam sebuah ember hitam dan cangkul ke lahan tak jauh dari Sungai Batu Busuk, Kota Padang, sore itu. Ia akan menanam puluhan bibit di tanah yang hampir setahun lalu diterjang banjir bandang atau galodo.
Lahan yang berjarak sekitar 20 meter dari pinggir sungai itu masih dipenuhi material banjir berupa batu dan pasir. Agar bisa kembali bercocok tanam, Erni telah menimbun permukaan lahan dengan tanah yang juga berasal dari material galodo, dibantu anaknya.
“Tumbuh dan berisi nanti ya,” gumam perempuan berusia 60 tahun itu saat menanam bibit ubi satu per satu. Sementara itu, beberapa perempuan lainnya membersihkan gulma di antara sayuran yang lebih dahulu mereka tanam bersama dalam dua bulan terakhir.
Dari lahan yang dahulu seluas setengah hektare itu, kini Erni hanya bisa memanfaatkan sebagian untuk menanam beragam sayuran bersama perempuan Batu Busuk lainnya. Dahulu lahan itu adalah sawah dan kini tak lagi bisa dikelola seperti sebelum bencana.
“Dulu ditanami padi, ada juga kakao, kelapa, tapi habis sudah diterjang galodo,” katanya, Minggu (4/10/2026).
Sebelum bencana, sawah itu dapat dipanen dua kali setahun. Pada panen terakhir sebelum galodo, Erni memperoleh sekitar 11 karung padi. Jika dijual, setiap karung bernilai sekitar Rp 450 ribu.
Namun, sebagian hasil panen biasanya disimpan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Selain padi, setiap dua bulan ia juga panen kelapa, bisa dijual atau dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ketika terjadi galodo pada akhir November 2025, sebanyak 14 karung padi yang baru dipanen masih tersimpan di rumahnya. Namun, bencana mengubah kehidupan keluarganya. Beberapa hari sebelum galodo terjadi, suaminya meninggal dunia.
Erni dan keluarganya tak sempat menyelamatkan satu pun barang dari rumah mereka. Bencana itu juga mengubah kondisi lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.
“Dulu wilayah ini memang dalam dan sawahnya masih bagus. Setelah bencana, semuanya berubah,” katanya.


Kini, lahan yang tersisa tak lagi bisa dimanfaatkan seperti sebelum bencana. Erni pun memilih mengolahnya bersama perempuan lain di Batu Busuk dengan menanam beragam sayuran, daripada membiarkannya telantar.
Gagasan berkebun bersama itu berangkat dari keresahan perempuan yang terdampak bencana. Mereka membutuhkan kegiatan untuk kembali berkumpul dan beraktivitas setelah kehilangan tempat serta sumber penghidupan.
Ermidawati, 53 tahun, salah satu penggerak kelompok bilang kegiatan tersebut awalnya hanya berupa wacana dan pertemuan. Para perempuan ingin memiliki aktivitas yang bisa membantu mereka melewati masa sulit setelah bencana.
“Biar ada kegiatan, jadi kami bisa berkebun. Minimal berkumpul, hilang stres,” katanya.
Gagasan itu mulai dibicarakan sekitar Juni 2026. Setelah beberapa kali pertemuan dan pelatihan bersama Yayasan Bina Kelola Lestari (Bila), kegiatan berkebun mulai berjalan sekitar dua bulan terakhir.
Kelompok tersebut awalnya beranggotakan 14 orang. Karena sebagian anggota tinggal di kawasan yang lebih tinggi, mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari tujuh orang. Saat ini, dua anggota sedang sakit sehingga 12 orang masih aktif dalam kegiatan berkebun.
Menurutnya sebagian besar anggota merupakan perempuan yang kehilangan suami. Dari tujuh perempuan yang mengelola kebun di lokasi tersebut, lima di antaranya merupakan janda.
Yayasan Bila membantu menyediakan berbagai kebutuhan awal untuk berkebun, mulai dari bibit, pupuk, waring, cangkul, ember, dan terpal hingga perlengkapan lainnya. Pendampingan juga dilakukan melalui sejumlah pertemuan dan pelatihan sebelum kegiatan berkebun berjalan.
Di atas lahan yang dipenuhi sisa material galodo itu, kini tumbuh terong, cabai, pakcoy, tomat, ubi jalar, dan jagung. Sejumlah tanaman mulai menunjukkan hasil. Tomat mulai berbuah, sedangkan terong mulai berbunga.
“Pakcoy sudah panen, tapi hanya sedikit saja kami tanam pakcoy, jadi hasilnya kami bagi dengan anggota dibawa pulang untuk konsumsi,” katanya.

Hampir setiap sore, para perempuan datang ke kebun, baik untuk membersihkan gulma maupun sekadar memeriksa pertumbuhan tanaman. Bagi mereka, berkebun bukan hanya soal menghasilkan sayuran, tetapi juga menjadi hiburan dan ruang untuk berkumpul setelah melewati bencana.
Ermidawati mengatakan, hasil kebun nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi anggota. Jika produksi berlebih, sebagian hasilnya akan dijual. Uang penjualan dicatat dan diputar kembali sebagai modal kelompok.
Ia berharap kegiatan tersebut tetap berjalan meski pendampingan dan bantuan dari yayasan berakhir. Karena itu, kelompok berupaya mengelola hasil penjualan agar bisa digunakan kembali untuk membeli kebutuhan berkebun.
“Kalau ada program, bagusnya yang memang bisa berjalan dan berkelanjutan,” katanya.


Ketika Sumber Penghasilan Ikut Hilang
Kehilangan lahan pertanian bukan satu-satunya persoalan ekonomi yang muncul setelah galodo. Menurut Ermidawati, sebelum bencana sebagian laki-laki di Batu Busuk bekerja mengambil batu di sungai, tetapi setelah banjir bandang kondisi sungai berubah dan pekerjaan tersebut tidak lagi bisa dilakukan seperti sebelumnya.
Akses warga juga terganggu setelah jembatan putus. Sebelum jembatan rusak, ibu-ibu yang membuat kue dapat dengan mudah menyeberang untuk berjualan, tetapi setelah akses tersebut terputus, biaya transportasi meningkat sehingga sebagian perempuan mencari pekerjaan lain.
Ada yang bekerja di laundry, menggosok pakaian, menjadi pengasuh anak hingga bekerja di kafe. Pendapatan dari pekerjaan tersebut tidak selalu tetap sehingga keluarga harus menyesuaikan kembali cara mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bapak-bapak yang biasanya bekerja setiap hari juga kehilangan pekerjaan. Kalau ada yang ikut bekerja dengan orang lain, penghasilannya juga tidak tetap. Terpaksa ibu-ibu ikut bekerja,” katanya.
Setelah kehilangan rumah dan lahan, sebagian perempuan juga harus mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurutnya kebun sayuran dapat menjadi salah satu jalan untuk kembali menghasilkan, meski skalanya masih kecil. Ia berharap kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha kelompok yang dapat memberikan pemasukan secara rutin.
Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap lahan pertanian yang rusak akibat bencana. Menurutnya, warga membutuhkan program yang tidak berhenti pada pemberian barang, tetapi benar-benar membantu mereka mengembalikan sumber penghasilan.
Ferawati, 41 tahun, juga kehilangan sawah akibat galodo. Ketika bencana terjadi, ia berada di rumah bersama suami, tiga anak dan orang tuanya, termasuk anak bungsunya yang saat itu baru berusia tujuh bulan.
Saat air mulai membesar, mereka berusaha menyelamatkan diri menuju tempat yang lebih tinggi. “Waktu awal lari, kami mengikuti jalur air bersama anak-anak,” katanya.
Rumahnya rusak berat. Dinding hancur dan sejumlah barang hanyut, sementara keluarganya kemudian menetap di kawasan yang lebih tinggi sambil menunggu hunian tetap selesai dibangun.
Sawah yang sebelumnya menjadi bagian dari sumber penghasilan keluarga juga sudah tidak bisa digunakan. Kini suaminya menumpang mengolah lahan milik keluarga untuk menanam bayam dan kangkung yang dapat dipanen sekitar 20 hingga 25 hari.

Bangkit Setelah Galodo
Keinginan para perempuan Batu Busuk yang mencari cara agar tetap bisa bertanin dengan lahan yang sangat terbatas akhirnya difasilitasi oleh Yayasan BILA yang merupakan organisasi masyarakat sipil di Sumbar yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, termasuk mendampingi kelompok masyarakat dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan dan memperkuat pengelolaan sumber daya alam.
Direktur Yayasan BILA, Agus Teguh Prihartono mengatakan Batu Busuk dipilih sebagai lokasi pendampingan karena sebagian besar warga sebelumnya menggantungkan penghidupan pada pertanian. Galodo pada 2025 merusak bahkan menghanyutkan sebagian sawah dan kebun, sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan rumah tangga.
“Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan darurat. Penghidupan masyarakat juga perlu dipulihkan, termasuk perempuan yang punya peran penting dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Menurut Teguh, enam bulan setelah galodo, sebagian warga masih bergantung pada bantuan logistik dari pemerintah dan pihak lain. Perempuan yang kehilangan lahan juga menghadapi kerentanan ekonomi karena kebutuhan pangan, pendidikan anak dan tempat tinggal tetap berjalan.
Kondisi itu mendorong BILA mendampingi kelompok perempuan membangun demplot pertanian sebagai ruang untuk kembali beraktivitas sekaligus memenuhi sebagian kebutuhan pangan.
“Demplot ini bukan hanya untuk menghasilkan sayuran. Ini juga menjadi ruang bagi perempuan untuk kembali beraktivitas secara produktif dan perlahan membangun kembali penghidupan mereka,” ujarnya.
Dalam pendampingan hingga akhir Oktober 2026, perempuan belajar menanam, merawat hingga memanen, sekaligus membangun kapasitas kelompok agar kegiatan dapat berlanjut secara mandiri.
Perubahan yang paling terlihat sejauh ini justru berada pada aspek psikososial. Sebagian perempuan yang mengalami trauma setelah bencana mulai memiliki aktivitas rutin dan ruang untuk berkumpul.
“Mereka menyampaikan bahwa lahan atau demplot ini menjadi salah satu bentuk trauma healing. Di sini mereka bisa berinteraksi, melakukan aktivitas bersama, merawat tanaman dan kembali punya rutinitas yang membuat mereka merasa produktif,” kata Teguh.

Dari sisi ekonomi, hasil demplot belum mampu menggantikan pendapatan yang hilang. Hasil panen masih lebih banyak dikonsumsi anggota kelompok sehingga manfaatnya baru terasa sebagai pengurangan pengeluaran pangan.
Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala utama. Pekarangan sebagian warga juga tidak memadai karena kondisi tempat tinggal pascabencana masih terbatas. Selain itu, pengalaman kelompok dalam mengembangkan usaha alternatif masih minim.
“Kegiatan demplot ini lebih tepat dilihat sebagai tahap awal pemulihan penghidupan dan ketahanan pangan, bukan sebagai pengganti langsung seluruh pendapatan yang hilang akibat bencana,” kata Teguh.
Untuk keberlanjutan, BILA mendorong kelompok membangun inisiatif dan rasa memiliki terhadap kegiatan. Beberapa anggota yang memiliki pekarangan mulai menanam secara mandiri, sementara kelompok mulai membicarakan rencana setelah pendampingan berakhir.
“Kelompok harus mulai punya kemampuan dan inisiatif sendiri untuk melanjutkan kegiatan,” ujarnya.
Namun, Teguh menilai kebun sayur saja tidak cukup untuk memulihkan penghidupan warga yang kehilangan lahan. Pemerintah tetap perlu memulihkan aset penghidupan, termasuk lahan pertanian dan infrastruktur, sekaligus memastikan kepastian tempat tinggal warga.
“Kalau hanya kebun sayur, tentu tidak cukup. Ini penting sebagai salah satu pintu masuk pemulihan, tetapi tidak bisa menggantikan seluruh penghidupan yang hilang,” katanya.
Menurut Teguh, pemulihan juga perlu disertai upaya mengurangi risiko bencana agar lahan yang masih tersisa tidak kembali rusak. Pemerintah, masyarakat dan organisasi pendamping perlu terlibat bersama dalam menentukan arah pemulihan, termasuk mempertimbangkan akses terhadap lahan produktif bagi warga yang kehilangan lahan akibat galodo.

Tak Ada Solusi dari Pemerintah Padang
Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Padang mencatat ratusan hektare sawah terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Sebagian lahan mengalami kerusakan berat hingga menyebabkan gagal panen, sementara puluhan hektare lainnya hilang tersapu arus.
Di Kecamatan Pauh, sekitar 42 hektare sawah dinyatakan tidak lagi dapat dimanfaatkan karena terbawa arus banjir. Kondisinya berbeda dengan lahan yang mengalami kerusakan, yang masih memiliki kemungkinan untuk dipulihkan dan kembali digunakan untuk bertani.
Sementara di Kecamatan Kuranji, sekitar 102 hektare sawah mengalami kerusakan dengan kategori sedang hingga berat. Adapun sekitar 210 hektare sawah di wilayah Pauh dan Koto Tangah mengalami kerusakan ringan dan masih memungkinkan untuk diperbaiki.
Kepala Dispertan Kota Padang, Yoice Yuliani, mengatakan pemerintah hingga kini belum memiliki skema khusus untuk memulihkan lahan sawah yang hilang akibat banjir bandang.
Jika sejumlah daerah lain dapat mengganti lahan yang hilang melalui program pencetakan sawah baru, Kota Padang menghadapi persoalan keterbatasan lahan sehingga pilihan tersebut sulit diterapkan.
Akibatnya, sawah yang hanyut terbawa arus belum dapat dipulihkan sebagai lahan pertanian. Pemerintah daerah menganggap lahan tersebut sudah tidak lagi memungkinkan untuk dikembalikan karena telah menyatu dengan aliran sungai.
“Lahan yang hilang itu sudah menyatu dengan sungai,” kata Yoice.
Sebagai langkah sementara, Pemerintah Kota Padang berencana memberikan bantuan ekonomi sebesar Rp1 juta untuk setiap keluarga yang sawahnya mengalami kerusakan berat atau hilang. Bantuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan validasi data penerima.
Untuk ganti rugi itu, pemerintah kota meminta warga Batu Busuk yang kehilangan lahan pertanian untuk membuka rekening Bank Nagari. Mereka dijanjikan akan mendapat dana dukungan ekonomi.
“Tapi sampai kini belum ada, padahal warga sudah bikin rekening,” kata Ermidawati.
Warga Batu Busuk lainnya, Efrizenti (60) juga katakan hal yang sama. Ia sudah membuat rekening Bank Nagari karena disuruh oleh Dinas Pertanian Kota Padang. Rekening itu akan dipakai untuk penyaluran bantuan pertanian.
“Sepertinya tinggal janji saja ya, saya hanya menerima bibit kelapa dari dinas pertanian, tapi juga tak bisa ditanam di lahan sendiri kan lahannya tertimbun,” ia menambahkan.
*Liputan ini didukung independen.id x AJI Indonesia
