Penulis:
Prof. Dr. Ir. Rosyani, MS
Guru Besar Ilmu Lingkungan Univeritas Jambi | Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup LPPM Universitas jambi
Foto: Dokumentasi Tim Universitas Jambi
Bersama Tim Pengabdian Masyarakat LPPM-Unja, DPPM Dikti Saintec. Sejenak saya memisahkan diri dengan ditemani Adib dan Alvindo (anggota tim pengabdian masyarakat LPPM-Unja) menyelusuri titik awal lokasi banjir di lokasi ”Batu Busuak” Kota Padang. Menyusur lokasi koordinat tertinggi, sepanjang perjalanan saya terus berpikir, dan melihat ke bawah tebing luapan luapan air yang tidak terkendali.
Derap aliran air yang kencang, jika diikuti dengan hujan di hulu luapan akan semakin membesar, membuat masyarakat sekitar selalu terjaga.
Saya teringat perbincangan dengan Pak Anuar (74) warga Batu Busuak. Saya bertanya padanya tentang gambaran galodoh beberapa waktu lalu. Menurutnya itu yang terbesar dan tidak setiap tahun katanya ada banjir. Selain itu juga tidak ada penggundulan hutan di hulu.
Pak Anuar mengatakan buktinya kayu yang hanyut dibawa arus bukanlah kayu bekas tebangan. Kayu-kayu tersebut masih ada umbi atau akarnya. Menurut Anuar kayu-kayu itu tercerabut akibat longsor dan tekanan arus air yang tinggi.
Kemudian air yang tadinya jernih berubah menjadi keruh, di atas sana terdapat tempat pemandian yang jernih, yang dilindungi oleh POKDARWIS sebelum peristiwa banjir. Pendapat saya banjir kali ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.
Saya kemudian bertanya apakah dia berjaga-jaga ketika derap aliran air bergerak kencang, bahkan melewati rumah rumah tetangga atau sanak keluarganya yang dibawah dan yang berada di sempadan sungai?
Anuar mengatakan dapat mengetahui dari tanda-tanda alam, dari curah hujan, yang kadang hanya berhenti sebentar kemudian deras berjam jam. Pada saat itulah Anuar merasakan bahwa banjir akan datang ke lokasi wisata Batu Busuak. Banyak pendapat simpang siur terhadap kejadian dari luapan banjir di Batu Busuak.
Dari sisi lingkungan terlihat bahwa lokasi sempadan sungai telanjang, tanpa pohon sebelum luapan banjir, dan sesudah, run off bergerak tanpa halangan seolah olah, pori pori tanah menghilang dan kemampuan daya dukung lahan untuk menahan air melemah. Tampak bahwa keseimbangan ekosistem sudah mulai rapuh. Kelerengan yang tajam menghantam semua yang berada di bawah.



Pasca banjir, air tidak lagi bersih dan bening seperti biasanya, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Kami mendapat bantuan instalasi air bersih dari Pengabdian Masyarakat LPPM Universitas Jambi Pendanaan DPPM KEMDIKSAINTEK, kata salah seorang masyarakat yang ada di desa. Trauma anak anak tentang banjir terobati dengan petak bermain, tawa anak anak telah membuyarkan ingatan mereka tentang banjir. Sentuhan pelayanan kesehatan (PMI Provinsi Jambi, Mitra UNJA), telah mengurai senyum Inyiak yang menggandeng tangan anak cucu mereka untuk bermain dan mendapatkan layanan kesehatan.


Kajian dari sisi lingkungan, sudah saatnya untuk melakukan penataan pemukiman penduduk yang tidak bertanggul di sepanjang sempadan sungai. Terbukti pemukiman yang hanyut, hilang dan hancur berada di sempadan sungai. Pendekatan political ecology pada masyarakat yang terdampak di sempadan sungai selayaknya untuk direlokasi, ada pertukaran sementara masyarakat tidak dirugikan, ada pemahaman dari sisi lingkungan dan kebencanaan yang diedukasi pada masyarakat terdampak. lokasi sempadan dapat ditanami dengan tanaman pionir, seperti yang terdapat di pemandian terdapat banyak tanaman pohon pionir yang dapat menahan gerakan air keluar dari sempadan ke arah pemukiman..


Pendekatan lingkungan adalah bentuk isyarat alam yang diberikan, dari kearifan lokal yang telah lama melekat, masyarakat dapat memahami kondisi demikian.
Relokasi dan beradaptasi dengan lingkungan bencana adalah suatu pilihan yang dapat dilakukan dengan pendekatan Isyarat alam. Alam sebenarnya ingin berbicara, bahwa di lokasi sempadan dengan kontur terendah bukanlah lokasi pemukiman. Mohon kenali aku alam menyapa. Merespon iklim yang eksrim saat ini. Curah hujan yang tinggi yang menjadi isyarat.
Beberapa hari di lokasi membuat saya sebagai orang luar (bukan penduduk setempat) selalu terjaga dan berjaga, bila hujan datang air meluap sampai melebihi jembatan Kelurahan Lambung Bukit. Turun dan naik. Masyarakat tidak tenang, dan cemas. Mereka tidak hanya butuh bantuan. Tapi kajian mendesak yang impelementasinya tidak mengulangi banjir di Batu Busuak. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai solusi kajian lingkungan adalah:
(1)Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelegaraan Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup berkaitan dengan kawasan lindung: sempadan sungai termasuk dalam ketentuan lindung, oleh sebab itu posisi rumah yang dibangun di sempadan sungai merupakan hal yang riskan untuk menjadi pemukiman atau hunian, di Batu Busuak.
Seluruh bangunan rumah yang hanyut dan hilang berada di sempadan sungai. Sebab itu membangun jalur hijau sebagai barrier di sempadan adalah pilihan yang tepat, tanaman yang digunakan adalah tanaman lokal yang terdapat di Batu Busuak.
(2) Pori tanah, sebagai daya dukung penahan air, sebagai sumber air tanah perlu mendapat kajian secara serius dan spesifik, dalam kajian mikrocopies. Sementara itu lahan dan jenis tanaman yang dapat menjadi serapan air perlu mendapat kajian yang mendalam, sehingga kajian tidak terlihat terpisah tapi menjadi satu kesatuan ekosistem desa, kelurahan dan Kota padang yang berkelanjutan.
(3) Berdasarkan Permen PUPR NOMOR 28/PRT/M/2015 Tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau Pasal 8; berbunyi Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d, ditentukan paling sedikit berjarak 5 (lima) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur Sungai.
Saya melihat ada banyak alat berat bergerak membersihkan jalur aliran sungai di Batu Busuak. Namun ada banyak hal mendesak menurut saya.
Salah satu tindakan mendesak adalah segera periksa-ulang atau disusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Pauh Kota Padang. Segera impelementasikan, supaya masyarakat tidak resah, dan peristiwa tidak terus berulang ulang tergantung dengan curah hujan.
Mitigasi dan Adaptasi terhadap masyarakat terdampak harus segera dilakukan dan terencana.