Oleh: Arif P Putra
Barangkali, India-Pakistan tak ubahnya kakak adik yang menyimpan sekam dalam diri. Kecemburuan tak bersebab, kemarahan seketika, dan ungkapan sayang yang malu-malu– pasca pemisahan India dan Pakistan pada Agustus 1947. Ada hubungan rumit dan sebagian besar permusuhan yang berakar pada banyak peristiwa sejarah dan politik. Momen ini memunculkan satu film yang cukup drama—patriotik; Gold.
India dan Pakistan memiliki sejarah perfilman yang panjang (dan bermasalah). Sebelum 2006, pembajakan film Bollywood sangat marak di Pakistan dan menyebabkan Pakistan melarang film Bollywood. Namun, larangan tersebut kemudian dicabut demi keuntungan kedua negara. Namun, karena konflik militer yang terus berlanjut, Asosiasi Produser Film India memberlakukan larangan sementara bagi pekerja Pakistan di India pada 2016.
Pakistan kemudian melarang perilisan film India di negara tersebut pada 2019—meskipun larangan tersebut dicabut setelah beberapa bulan. Empat tahun kemudian Mahkamah Agung India mengeluarkan putusan serupa indikasi ketegangan kedua negara yang mungkin mencair karena sama-sama menolak petisi pelarangan artis Pakistan di India. Selain karena kesuksesan global The Legend of Maula Jatt yang juga memberi harapan kepada para kreatornya bahwa film tersebut akan berhasil dirilis di India.
Bila film menjadi satu-satunya alat propaganda, maka India sudah dipastikan menang tanpa kolaborasi dengan negara mana pun. Industri film India menghasilkan sekitar 1500-2000 film setiap tahun dalam lebih dari 20 bahasa. Bollywood, yang berpusat di Mumbai, adalah industri film terbesar di dunia dan memproduksi sekitar 1000 film per tahun. Beberapa rumah produksi terkemuka termasuk Yash Raj Films (YRF) dan Aamir Khan Productions.
Bollywood (sinema Hindi) adalah salah satu bagian terpenting, tetapi sinema regional seperti Telugu, Tamil, Malayalam, dan Kannada juga sangat populer. Sedangkan Pakistan ada banyak fakor penyebab negara ini tidak memproduksi film, mulai dari lembaga sensor, bioskop yang pudur, persaingan pasar, dan islamisasi yang membuat banyak produser film tidak berkembang. Tidak ada angka spesifik. Tetapi dari beberapa referensi, produksi film di Pakistan pada tahun 2020 adalah sekitar 132 film. Angka ini mencakup film-film yang diproduksi untuk bioskop dan juga film yang ditayangkan di media digital. Beberapa perusahaan produksi ternama yang berkontribusi dalam produksi film Pakistan antara lain Momina Duraid Productions, Hum Films, dan 9th Art Productions.
Beberapa sumber menyebutkan Industri film Pakistan, yang sering disebut sebagai Lollywood, menghadapi beberapa tantangan yang membatasi cakupannya dibandingkan dengan industri film India yang lebih menonjol, yang dikenal sebagai Bollywood. Berikut adalah beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kesenjangan ini:
Konteks Sejarah: Industri film Pakistan telah mengalami kesulitan sejak masa keemasannya pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ketidakstabilan politik, tantangan ekonomi, dan masalah sosial telah memengaruhi kualitas produksi dan jangkauan penonton.
Investasi Terbatas: Bollywood diuntungkan oleh investasi yang signifikan, baik di dalam negeri maupun internasional. Sebaliknya, industri film Pakistan sering kali tidak memiliki dukungan finansial yang sama, yang menyebabkan nilai produksi yang lebih rendah dan lebih sedikit sumber daya untuk pemasaran dan distribusi.
Kendala Budaya dan Sosial: Perfilman Pakistan beroperasi di bawah undang-undang sensor yang lebih ketat, yang dapat membatasi ekspresi kreatif dan jenis cerita yang dapat diceritakan. Hal ini dapat menghambat kemampuan industri untuk menghasilkan konten yang beragam dan menarik yang menarik bagi khalayak yang lebih luas.
Persaingan dari TV dan Konten Asing: Drama televisi sangat populer di Pakistan, sering kali mengalahkan film. Selain itu, masuknya film asing, terutama dari Bollywood dan Hollywood, bersaing untuk mendapatkan perhatian penonton dan pendapatan box office.
Preferensi Penonton: Film-film India sering kali memiliki daya tarik yang lebih luas karena genre-genrenya yang beragam, bintang-bintangnya yang banyak, dan basis penggemar yang mapan. Film-film Pakistan cenderung melayani narasi budaya yang lebih spesifik, yang dapat membatasi penontonnya.
Tantangan Distribusi: Jaringan distribusi film Pakistan kurang berkembang dibandingkan film India, sehingga lebih sulit bagi film lokal untuk menjangkau penonton di luar pusat kota besar.
Kualitas Konten: Meskipun ada keberhasilan penting dalam beberapa tahun terakhir, banyak film Pakistan berjuang dengan kualitas naskah, nilai produksi, dan strategi pemasaran, yang dapat memengaruhi daya saing mereka.
Bakat yang Berkembang: Meskipun ada banyak bakat di Pakistan, industri ini belum sepenuhnya memanfaatkan atau mempromosikan bakat ini dalam skala besar dibandingkan dengan Bollywood, yang memiliki infrastruktur mapan untuk membina dan mempromosikan artis.
Tak sedikit artis keturunan Pakistan-India akhirnya memilih berkarir di India ketimbang Pakistan. Alasannya barangkali lebih menjanjikan untuk jenjang karir dan finansial. Meski India didominasi keluarga Kapoor, Khan, Bachchan, Copra dan Deol. Artis-artis yang keturunan Pakistan memilih berkarir di India; Raj Kapoor, Dilip Kumar, Gulzar, Sunil Dutt, Shekhar Kapoor, dan Amreesh Puri. Silang budaya dan DNA India-Pakistan takkan bisa ditepis, walau gesekkan yang menyebabkan konflik bernegara terus saja berulang-ulang.
Baru-baru ini aku membaca berita tentang situasi dua kubu yang kembali memanas. Negara yang serupa dua kakak beradik, histori panjang kedua negara ini cukup banyak dicatat, ditayangkan, didebatkan, didiskusikan bahkan dijadikan lelucon dalam dunia perfilman. Berita tersebut membawaku kembali ke film-film yang berlatar dua negara ini. Tentu saja banyak film yang membawa tema dua kakak beradik ini.
Banyak orang mungkin langsung mengingat film Bajrangi Bhaijaan, 2015. Film yang dibintangi idola sejuta umat, Salman Khan. Film ini begitu membekas dalam ingatan banyak orang, barangkali. Terlebih satu babak saat perpisahan Munni dan Pawan. Ketika Munni tiba-tiba bisa bersuara dan memanggil Pawan; polos dan terdengar tulus. Tapi, pengantar momen tersebut yang tidak kalah dramatik. Penonton disajikan suasana perbatasan antara India dan Pakistan, bagaimana ketegangan antara dua negara itu begitu kental. Bahkan tidak lagi soal sentimen bernegara, lebih dari itu adalah persoalan agama yang lantas membenturkan mereka.
India-Pakistan dalam film
Kemudian ingatan lain membawa aku pada momen Manto. Bombay, 1946: Di tengah perjuangan kemerdekaan melawan Kekaisaran Inggris dan peringatan dini tentang pemisahan India, Saadat Hasan Manto, seorang penulis cerita pendek mapan bekerja di dunia gemerlap industri film Bombay sebagai penulis naskah. Meskipun Manto memiliki hubungan yang renggang dengan Progressive Writers’ Association, banyak anggotanya adalah teman dekatnya, termasuk penulis feminis, Ismat Chughtai. Mereka berdua dibebaskan dari tuduhan kecabulan untuk karya mereka masing-masing. Manto memiliki banyak pengagum dan teman di industri film. Yang paling dekat adalah Shyam Chadda, seorang aktor pemula yang menawan dan Ashok Kumar, seorang aktor, sutradara, dan produser terkenal. Tapi, pendukung terbesarnya dan pilar kekuatan yang tak tergoyahkan adalah istrinya, Safia.
Dalam film ini ketegangannya lebih Nampak terang. Bagaimana konflik agama antara India dan Pakistan begitu terang. Manto yang seorang penulis masyur itu akhirnya pindah habis ke Pakistan. Situasi konflik yang berkelindan ini mungkin nyaris sama dengan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998. Yang cukup dikenal sebagai bentrok terbesar antara massa dan pemerintah. Namun, melebar keperusakan properti masyarakat tiongha.
Barangkali, India-Pakistan tak ubahnya kakak adik yang menyimpan sekam dalam diri. Kecemburuan tak bersebab, kemarahan seketika, dan ungkapan sayang yang malu-malu. Atau jangan-jangan dua negara ini terjebak dalam asmara masa lalu; cinta yang tak sampai, cinta tak direstui atau penghianatan asrama yang berujung kecewa. Pasca pemisahan wilayah setelah India dan Pakistan pada bulan Agustus 1947. Pembagian tersebut menimbulkan hubungan yang rumit dan sebagian besar bermusuhan yang berakar pada banyak peristiwa sejarah dan politik. Momen ini memunculkan satu film yang cukup drama—patriotik; Gold, 2018. Film ini diperankan Akhsay Kumar sebagai pelatih tim hoki India, waktu Olimpiade Berlin tahun 1936, ketika tim India bermain hoki dan final melawan Jerman. Momen yang sungguh dramatik. Setelahnya, pada tahun 1948 pasca kemerdekaan India. Pertandingan hoki akan kembali di helat di London. Tapan Das sebagai pelatih yang diperankan Akshay Kumar, bertekad membentuk tim hoki kembali. Ini kesmepatan yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama dalam bayang-bayang Inggris. Akhirnya ia punya kesempatan membawa bendera India.
Sementara itu, India memperoleh kemerdekaan, tetapi juga terbagi menjadi India dan Pakistan. Selama kerusuhan, Imtiaz terluka ketika beberapa orang Hindu dan Sikh mencoba membakarnya hidup-hidup, tetapi diselamatkan oleh Tapan dan Himmat. Mereka tiba di rumah Imtiaz di klub hoki, tetapi yang membuat mereka kecewa, rumahnya dibakar dan dihancurkan. Imtiaz yang patah hati menolak untuk tinggal lebih jauh di India dan pergi ke Lahore. Tapan yang patah hati menceritakan bahwa seiring dengan pembagian negara, impian dan aspirasi mereka juga hancur. Setengah dari tim akhirnya bermain untuk Pakistan, sementara beberapa lainnya, terutama orang Anglo-India, pindah ke Australia. Ketegangan dalam film ini seolah menggambarkan bagaimana konflik agama dalam pemerintahan begitu sengit bila dibandingkan lainnya. Tapi tentu saja konflik tersebut bermuara pada persoalan kepentingan.
Sejarah India dan Pakistan bila disibak agak berlebihan memang takkan pernah habis. Mulai dari romantisme sampai ketaksukaan yang tak beralasan seperti dalam film sekuel Gadar: Ek Prem Katha, 2001 dan 2023 yang diperankan Sunny Deol. Film ini berlatar belakang Ketika pemisahan India-Pakistan pada tahun 1947. Film ini memberikan sisi lain dari asrama Islam-Hindu-Sikh. Selama Pemisahan India tahun 1947 yang penuh kekerasan, populasi yang bermigrasi bentrok di perbatasan India dan Pakistan yang baru terbentuk. Tara Singh, seorang Sikh India, yang awalnya berpartisipasi dalam pembunuhan kaum Muslim, bertemu dengan Sakina Ali, seorang wanita Muslim, di tengah kekacauan itu. Mengenalinya sejak masa kuliah mereka, ia melindunginya dari gerombolan yang bermusuhan. Untuk melindunginya, ia mengoleskan darah ke dahinya, secara simbolis mengklaimnya sebagai istri Sikh-nya. Cintanya itu berhasil ia bawa lari ke India. Seolah permasalah sampai di situ.
Pada sekuel ke-2 berjudul Gadar 2 cerita dimulai kembali pada tahun 1954, Hamid Iqbal, Mayor Jenderal Angkatan Darat Pakistan, ingin membalas dendam pada Tara Singh karena telah membunuh 40 prajuritnya saat Tara melarikan diri dari Pakistan bersama istrinya Sakeena dan putranya Charanjeet “Jeete”. Iqbal mengeksekusi ayah Sakeena (yang lebih dikenal sebagai tuan takur), Ashraf Ali, karena membantu Tara melarikan diri ke India. Meski film ini cukup membosankan sebagai film sejarah India-Pakistan, tapi cukup bagus dalam narasi-narasi yang dibangun. Masih sama dengan kebanyakan film India-Pakistan, India selalu Nampak benar dan berusaha untuk benar.
Di antara judul-judul film yang begitu membekas tentang India-Pakistan. Bagiku, hanya Bhaag Milkha Bhaag, 2013, yang cukup terang dalam narasi dan kilas balik bagaimana situasi mencekam India-Pakistan dalam konflik. Film ini, bila dibandingkan yang lainnya, cukup adil dan jujur. Film ini berdasarkan kehidupan Milkha Singh, seorang atlet dan Olimpiade India yang merupakan juara Commonwealth Games dan juara 400m dua kali Asian Games. Film ini dimulai pada Olimpiade Musim Panas 1960 di Roma, di mana Milkha Singh berkompetisi dalam lomba lari 400 meter. Pelatihnya berteriak “Bhaag Milkha Bhaag!” (“Lari, Milkha, lari!”), dan Singh tiba-tiba dibawa kembali ke kenangan masa kecil yang menghantuinya, menyebabkan dia turun ke tempat keempat. Ingatannya penuh dengan kekacauan saat pemisahan India 1947, yang mengakibatkan kekerasan agama massal di Punjab dan pembunuhan orang tua Singh. Kilas balik menunjukkan Singh tiba di Delhi sendirian, di mana dia kemudian bertemu saudara perempuannya. Tinggal di kamp pengungsian yang miskin, Milkha berteman dan bertahan hidup dengan mencuri.
Film ini menunjukkan bagaimana orang-orang sekitar memandang trauma kehidupan seseorang pada masa lampau. Orang-orang mungkin saja bisa mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tetapi si trauma tentu saja tidak mudah. Ketika mengingatnya saja, sudah menjadi ketakutan, apa lagi harus berhadapan dengan masa lalu tersebut. Itulah yang dialami Milkha dalam film ini. Ketakutannya pada masa terjadinya konflik begitu menghantui. Ia diundang oleh perdana menteri India, Jawaharlal Nehru, untuk memimpin tim India di Pakistan dalam perlombaan persahabatan dengan Abdul Khaliq, Singh dengan tegas menolak untuk pergi karena trauma harus melarikan diri dari rumahnya di Pakistan yang baru dibentuk saat masih kecil. Perdana menteri mengetahui tentang Singh tetapi akhirnya meyakinkannya untuk pergi. Sesampainya di Pakistan, Singh melewatkan konferensi pers dan pergi ke desanya di mana, ditunjukkan bagaimana orang tuanya dibunuh dan kata-kata terakhir ayahnya adalah “Bhaag Milkha Bhaag!”. Dia mulai menangis dan dihibur oleh seorang anak laki-laki yang ternyata adalah putra dari teman masa kecilnya, Sampreet. Dia kemudian bertemu Sampreet.
Gambaran-gambaran dalam film-film berlatar India-Pakistan selalu saja memunculkan spekulasi beragam. Sebagian barangkali terhanyut dengan jiwa patriotisme aparat India dalam membela negaranya. Sebagian barangkali akan membenci Pakistan dalam penolak-penolakannya terhadap agama Hindu India. Digambarkan sebagai teroris dan kelompok radikal mungkin saja menjadi bentuk terpojoknya Pakistan dalam film-film India. Kemudian konspirasi-konspirasi dalam banyak film seolah ingin mengatakan bahwa Pakistan tidak aman untuk nonmuslim. Konspirasi yang barangkali sengaja dibuat oleh pejabat-pejabat yang mempunyai kepentingan. Film-film yang berlatar India-Pakistan secara tidak langsung menyampaikan bahwa konspirasi/peristiwa/konflik atau apapun tidak yang membawa-bawa nama agama, hanyalah sebuah strategi, sebuah intrik politis.
Pakistan selalu digambarkan anti nonmuslim, walau dibeberapa bagian selalu diselipkan tokoh Pakistan yang taat dan jujur. Tapi itu tidak akan merubah apa-apa tentang narasi yang dibangun dari awal sampai akhir. Itu jadi alasan mengapa aku lebih suka Telugu dan Malayalam atau Tollywood. Mereka menyajikan film dalam lingkup keseharian, tema yang sederhana, penceritaan juga tak berbelit-belit dan plot twist yang membuat tidurku terganggu. Walau kisah India-Pakistan seumpama dua cinta yang berseberangan, pada hakikatnya kisah ini tidaklah hanya dua, melainkan cinta segitiga: India-Pakistan-Bangladesh. Bangladesh adalah cinta yang tak dianggap karena kemiskinan dan melarat. Padahal negara ini memiliki peran penting dalam sejarah dan kisah romantisme India-Pakistan.
Perang Kemerdekaan Bangladesh atau Perang Pembebasan Bangladesh adalah konflik bersenjata antara Pakistan Barat (kini Pakistan) dan, Pakistan Timur (kini Bangladesh) dan India, yang menyebabkan didirikannya negara Bangladesh. Perang ini berlangsung dari tanggal 26 Maret sampai 16 Desember 1971 dengan Pakistan Barat melancarkan operasi militer terhadap penduduk, pelajar dan personel bersenjata di Pakistan Timur untuk menghancurkan perlawanan mereka menuju kemerdekaan dari Pakistan. Bantuan India terhadap Mukti Bahini menyebabkan konflik bersenjata antara India dan Pakistan (Perang India-Pakistan 1971). Tentara militer India dan Mukti Bahini berhasil mengalahkan pasukan Pakistan Barat di Pakistan Timur. Setelah perang ini, Pakistan Timur merdeka sebagai negara yang kini disebut Bangladesh. Ini menjadi salah satu konspirasi Bangladesh dalam upaya kemerdekaan. Film IB71, 2023, menceritakan peristiwa tersebut cukup terang dan adil. Tetapi masih saja menaruh Pakistan sebagai dalang. Negara bagian Timur Pakistan ini kerap dijadikan sumber konspirasi guna mengecoh India. Pasca tragedi pembajakan pesawat Gangga milik India, terjadilah perang antara India dan Pakistan yang dimenangkan oleh India. Sehingga terbentuknya satu negara baru bernama Bangladesh.
India dan Pakistan seakan berpulun dalam romantisme masa lalu yang tak habiskan. Sentimen yang sengaja diwariskan tidak lagi tentang agama, lebih dari itu adalah persoalan manusia-manusianya. Babak lain dari konflik akan menjadi pintu masuk bagi negara lain, diminta atau tidak mereka akan tetap masuk. India-Pakistan masih saja tergambar dalam benakku tentang romantisme masa lalu yang belum usai, belum lansai. Dan film-film India menjelma serangan tak kasat mata, tiap tahun selalu ada produksi film berlatar India-Pakistan, terbaru “The Diplomat” rilis maret 2025. Film ini berangkat dari kisah nyata, film kesekian yang diperankan Jhon Abraham terkait “romantisme” kelindan India-Pakistan. Sambil menulis tulisan yang cukup panjang ini, aku masih mengingat banyak film berlatar India-Pakistan.
Beruntungnya saat menulis aku diiringi lagu If – Bread. If a picture paints a thousand words, then why can’t I paint you? The words will never show, the you I’ve come to know.
Arif P. Putra, lahir di Surantih, Pesisir Selatan. Buku tunggalnya yang telah terbit Suara Limbubu (JBS, Yogyakarta 2018), sebuah novel Binga (Purata Publishing, 2019), dan Menyilau Tenju Langgai (Purata Publishing, 2023). Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema kearifan lokal dan cerita-cerita yang berkaitan dengan masyarakat tradisional. Saat ini Arif aktif berkegiatan di Komunitas Serikat Budaya Marewai, sebuah komunitas yang berfokus melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Minangkabau. Arif berkontribusi dengan menulis dan membuat film dokumenter. Film-film yag disutradarainya bisa dilihat di kanal Youtube Marewai TV ia mengisi rubrik pelesiran/budaya di www.marewai.com. Karya-karya tulisnya pernah dimuat beberapa media, seperti Kompas, Tempo, Bacapetra.co, Suara Merdeka, Haluan, Solopos, Rakyat Sultra, Minggu Pagi, Sastramedia, Janang.id, Koran Merapi, Radar Banyuwangi, Tarbiyah Islamiyah, Bali Post dan lainnya. Emerging Ubud Writers and Readears Festival UWRF 2024, Penerima Anugrah Sastra Andalas 2022 Penulisan Cerpen Bahasa Minangkabau, Pemenang Lomba Menulis Essay Festival Silat Tradisi Nusantara Taman Budaya, Padang (2024).
Temui saya di; pemikiranlokal.blogspot.com, instagram: @arif_p_putra facebook: Arif P Putra