Puluhan tahun sejak merdeka Mentawai menjadi ladang uang untuk korporasi kayu. Banyak pihak yang terlibat. Mulai dari pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat hingga tokoh agama. Menurut beberapa sumber perusahaan kayu memberikan fee pada tokoh masyarakat yang lebih besar dari pada pemilik lahan yang kayunya ditebang. Dampak-dampak ekologisnya sudah terjadi berkali-kali namun penebangan tetap terjadi. Tak hanya di Sipora yang sedang ramai membicarakan urusan izin perusahaan kayu PT SPS (Sumber Permata Sipora), tapi juga di Pagai Selatan dan Pagai Utara serta di Siberut yang memiliki benteng terakhir bernama Taman Nasional Siberut.
Sementara hingar bingar perpolitikan ibukota hancur lebur karena banalnya negara ini dengan perangkat-perangkatnya, hutan tetap jadi tempat yang setenang-tenangnya pikiran mengendap. Namun seperti halnya ketenangan dan kebebasan berpikir yang berusaha dikontrol dan ditakut-takuti oleh negara, hutan juga dipangkas perlahan.
Ada beberapa argumen yang menurut kami lucu setiap kali ada protes tentang penebangan hutan besar-besaran di Mentawai.
“Buat apa kayu dibiarkan membusuk di dalam hutan gitu aja. Mending dijual kan?” Kata orang-orang yang kebelet kaya dan tidak belajar dari masa lalunya. Sekaligus tak memikirkan nasib orang lain yang lebih rentan.
“Singapura aja nggak ada hutan tetap bagus negaranya,” kata anak muda lain yang kurang literasi.
Dalam kondisi negara yang ditunggangi banyak serigala, kita masih percaya mereka akan menjadi pemakan sayur ketimbang daging saudaranya sendiri. Padahal mata kita yang sehat tahu ada bentuk-bentuk serigala di baliknya.
Kalau mau dilawan argumen tadi, kita bisa ambil contoh Singapura yang menaikkan pajak setinggi-tingginya untuk menambal sana-sini kerusakan lingkungannya dan menahan banjir besar yang beberapa kali merusak kota mereka. Dalam kondisi ekonomi negara kita hari ini, tentu saja kita sama zeperij menabur garam di lautan jika menerima begitu saja argumen orang-orang yang ingin menebang pohon banyak di sana. Kita tak sama dengan Singapura yang ekonominya kuat.
Sedang kayu dalam hutan, menyimpan air dan mengikat tanah agar tak tumpah dan membuat manusia yang selalu merasa beradab itu bisa tidur nyenyak. Tapi tak semua orang mengetahui dan mau tahu, kan?
Roehanaproject kemudian berusaha menyusun argumen dengan cerita-cerita berseri tentang dampak dan warisan penebangan besar-besaran itu. Janji-janji kesejahteraan yang selalu jadi lagu lama yang tak pernah tinggal lama di tanah para Sikerei ini.
Kami kemudian mengumpulkan data kayu yang keluar dari Mentawai selama 3,5 tahun belakangan untuk menambah daftar historis deforestasi. Jumlahnya cukup untuk membangun rumah-rumah dan ribuan lapangan sepak bola. Jumlahnya juga bisa membangun puluhan ribu uma khas Mentawai. Luasan hutan yang hilang pun sama halnya dengan beberapa kali pulau Bali.
Sementara itu tata ruang pada beberapa lokasi juga sulit diubah karena statusnya hutan produksi yang sudah dimiliki oleh perusahaan kayu. Seperti di Pagai Selatan yang warganya banyak pindah dari kawasan pesisir ke daerah tinggi karena tsunami lebih dari satu dekade lalu. Sayangnya lahan tempat mereka pindah sudah ada izin perusahaan dan pemerintah daerah setempat kesulitan melakukan pembangunan dan warga juga kebingungan mau berkebun. Sementara itu Pagai Utara yang sudah ditinggalkan perusahan, tak dibersamai dengan kesejahteraan yang jadi janji utama setiap korporasi masuk.
Roehana Project bersama Trend Asia dan beberapa media lokal seperti Mongabay Indonesia, Uggla.id dan Mentawaikita.com berkolaborasi melakukan liputan mendalam bagaimana kayu ditebang dalam jumlah besar-besaran di Mentawai dan bagaimana dampak ekologis hingga ekonominya. Mulai dari dampaknya terhadap satwa endemik seperti primata, banjir dan kekeringan yang menyebabkan masalah ekonomi, rusaknya tanah dan konflik sosial antara pemilik lahan dan masyarakat lainnya. Belum lagi dampak iklim yang terjadi seperti maraknya Ispa dan tidak tentunya cuaca hingga ancaman hilangnya tanaman-tanaman yang bisa dijadikan obat oleh Sikerei.
Kami akan berangkat dari kesejahteraan primata endemik di Mentawai. Sebab menjaga satwa juga termasuk menjaga manusia. Selanjutnya cerita sisi lain akan kami publis secara berseri. Sehingga pembaca bisa mengikuti dengan perlahan cerita-cerita dari lapangan tersebut.
Kami memberikan kabar buruk, bukan untuk menambah kecemasan. Namun agar kita semua bisa menyusun strategi dan bersiasat mencegah kerusakan lebih besar terjadi.
Redaksi Roehana Project
