Catatan Kecil Menjelang Setengah Abad KOMMA-FPUA

Penulis: Rakhmat Hidayat (298/KM/89)

Kelompok-kelompok mahasiswa pecinta alam pernah menempati strata tertinggi dalam kehidupan organisasi kampus paska runtuhnya orde lama. 

Pada era 1960 sampai 1970-an menjadi masa keemasan dan kejayaan kelompok ini, dengan lahirnya banyak organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) di berbagai kampus di Indonesia.

Tren ini muncul sebagai wadah penyalur minat penjelajahan alam serta sebagai respons untuk membangun kembali idealisme mahasiswa saat kegiatan politik praktis dibatasi.

Beberapa organisasi Mapala yang berdiri pada dekade ini seperti Mapala UI, MAPAGAMA, Mapala Silvagama, WANADRI dan MAHUPALA Bandung. Di Sumatera berdiri KOMMA-FPUA yang sebelumnya Bernama MAPALA FAPERTA UNAND, KOMPAS USU, WATALA, WIGWAM dan lainnya.

Perkembangan pesat kelompok-kelompok pencinta alam ini juga ditandai dengan dicetuskannya Kode Etik Pencinta Alam Indonesia pada Januari 1974.

Kegiatan Bersama KOMMA dan WRI

Keberadaan organisasi kepecinta alaman terus berjalan seiring dengan organisasi lainnya seperti Dewan Mahasiswa yang kemudian berubah menjadi Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa selain kelembagaan berbasis agama dan afiliasi politik seperti HMI, PMKRI, GMKI, PMII, GMNI dan lainnya.

Peran yang sangat khas menggabungkan antara aktivitas petualangan di alam bebas, kajian dan gerakan penyelamatan lingkungan maupun upaya kongkrit penghijauan serta aksi bersih sampah.

Dari rahim kelompok pecinta alam ini lahirlah lembaga-lembaga yang sampai saat ini tetap eksis menjadi garda terdepan untuk penyelamatan lingkungan seperti WALHI, SKEPHI, LATIN, WARSI, dan banyak aktivisnya yang kemudian bergabung ke WWF Indonesia, Greenpeace, Sawit Watch  Kehati, KI, Burung Indonesia dan lainnya.

Di lereng Bukit Gadut, Universitas Andalas memiliki aset yang jarang dimiliki kampus lain, yaitu hutan penelitian.

Sementara tak jauh dari kampus, berdiri tegak kawasan Tahura Bung Hatta.  Membentang sebagai paru-paru kota Padang. Di antara kedua ruang hijau ini, KOMMA-FPUA, bergerak sebagai jembatan antara ilmu, aksi, dan kecintaan pada alam.

Peran mereka tidak berhenti pada sekadar kegiatan pendakian dan petualangan. Keberadaan hutan penelitian kampus idealnya bisa menjadi laboratorium hidup yang dirawat bersama oleh Forum Komunikasi Pecinta Alam Universitas Andalas.

Mereka idealnya secara rutin terlibat dalam pemantauan jalur interpretasi, pembersihan semak liar yang mengganggu regenerasi alami, dan pendataan jenis tumbuhan lokal.

Bagi KOMMA-FPUA Kegiatan ini bisa dilakukan bersama dosen dan laboran, alumni yang bergiat di isyu lingkungan juga kelompok pecinta alam lainnya.

Sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga melihat langsung bagaimana proses suksesi, konservasi tanah, dan pengelolaan kawasan bekerja di lapangan. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa hutan bukan objek penelitian yang jauh, melainkan ruang belajar yang harus dijaga setiap hari.

Hubungan dengan Tahura Bung Hatta memperkuat peran itu. Sebagai kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan Padang dan Solok, Tahura menghadapi tekanan alih fungsi lahan, ilegal logging, perburuan liar, sampah pengunjung dan kekurangan anggaran pengelolaankawasan. KOMMA-FPUA bisa masuk sebagai mitra kegiatan edukasi dan restorasi. Juga bisa menggagas alternatif pendanaan inovatif, baik skema imbal jasa lingkungan,  nilai ekonomi carbon, pohon asuh, ekowisata dan lainnya untuk pengelolaan yang lebih baik kedepan.  KOMMA-FPUA pernah terlibat dalam penanaman bibit endemik di zona rehabilitasi, pembuatan papan informasi jalu, hingga kampanye perlindungan Tahura. Keterlibatan ini memberi mahasiswa pemahaman bahwa menjaga kawasan konservasi membutuhkan kolaborasi, bukan kerja sendiri.

STUDY TOUR_27 JULI 1977 (2)
STUDY TOUR_27 JULI 1977 (1)

Yang paling penting adalah peran mereka dalam menumbuhkan cinta alam di kalangan mahasiswa baru dan masyarakat kampus. Lewat berbagai ekspedisi gunung, rimba, gua-gua alam dan pengabdian masyarakat. Pada kegiatan tersebut dapat mencecap berbagai pembelajaran dari alam dan komunitas dilevel tapak. Pada berbagai aktivitas, KOMMA-FPUA dapat memasukkan nilai etika lingkungan ke dalam setiap kegiatan. Bukan sekadar mengajarkan cara mendirikan tenda dan mendaki gunung tapi juga kenapa api unggun harus dipadamkan sempurna, mengapa tumbuhan obat tidak boleh diambil sembarangan, dan bagaimana hutan penelitian kampus serta Tahura bisa jadi model pengelolaan berbasis kearifan lokal Minangkabau.

Dampaknya terlihat pada dua hal. Pertama, meningkatnya jumlah mahasiswa yang tertarik untuk bergabung dengan kegiatan kepecinta alaman,  memilih skripsi berbasis ekologi hutan dan agroforestri pada penelitiannya karena mereka sudah terbiasa masuk hutan sejak awal kuliah. Kedua, tumbuhnya rasa memiliki terhadap kawasan hijau di sekitar kampus. Ketika ada rencana pembangunan yang mengancam ruang terbuka hijau, suara mahasiswa yang berasal dari pengalaman langsung di lapangan menjadi lebih kuat dan berbasis data.

Memasuki usia yang ke 50 tahun, KOMMA-FPUA membuktikan bahwa cinta alam tidak tumbuh dari slogan. Ia tumbuh ketika mahasiswa diberi ruang untuk merawat hutan, gunung, gua-gua alam dan pesisir laut serta beraksi nyata di Tahura Bung Hatta, dan melihat langsung hubungan antara hutan yang sehat dengan kesejahteraan manusia. Dari sinilah peran mereka melampaui organisasi kampus, yaitu menjadi penjaga ingatan ekologis dan penggerak perubahan kecil yang konsisten di Ranah Minang tercinta khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Selamat menjelang setengah abad KOMMA-FPUA. Terimakasih untuk berbagai pembelajaran yang telah diberikan.

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi