Madu Kelulut dan Perlawanan Perempuan Sikalang Atas Tambang Batu Bara

Penulis: Novia Harlina | Foto: Jaka HB

Efdarianti menanam bunga dan merawat tumbuhan di sekitar rumahnya agar tetap asri. Ia juga tidak pernah membersihkan halaman depan maupun belakang dengan menyemprotkan bahan kimia. Semua itu ia lakukan untuk menjaga lebah kelulutnya tidak meninggalkan kotak-kotak berukuran 50 x 50 sentimeter yang ia letakkan di sekeliling rumah. Sekali sebulan Efda memanen madu yang tersimpan dalam kantong-kantong kecil di kotak  itu menggunakan alat seperti spuit atau sedotan khusus.

Biasanya untuk satu kotak, ia pernah memanen hingga satu liter madu. Setelah menyedot madu-madu itu ke dalam tabung, sarang kemudian ditutup kembali. “Satu liter itu bisa dijual Rp350 ribu,” kata Efda, Sabtu (28/2/2026).

Membudidayakan madu kelulut, katanya, mulai dilakukan sejak awal 2023 yang memberi harapan baru untuk membangun kemandirian ekonomi tanpa menghalangi hak-hak warga dalam melawan kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu bara oleh CV Tahiti Coal. 

“Kami hidup dengan kekhawatiran bahwa kawasan permukiman suatu saat dapat mengalami penurunan tanah atau bahkan amblas, jarak lubang tambang itu dari pintu rumah saya hanya 500 meter,” ujarnya.

Ibu dua anak ini bercerita saat ini dampak tambang batu bara sudah dirasakan masyarakat Desa Sikalang Kota Sawahlunto, Sumatera Barat beberapa tahun terakhir, salah satunya adalah perubahan kualitas air. Jika sebelumnya air di kampungnya jernih, kini menjadi menguning. Endapan putih muncul pada ember dan bak mandi, bahkan menyebabkan peralatan seperti mesin cuci lebih cepat rusak. 

“Bahkan kalau keramas pakai air di rumah itu, rambut terasa kaku setelah mandi dan sabun sulit berbusa. Beberapa warga bahkan mengalami gatal-gatal,” kata dia.

Efda dan warga lainnya sudah berulang kali melakukan protes kepada perusahaan dan pemerintah daerah, namun hasilnya nihil. “Bahkan ada saudara saya yang protes menyampaikan aspirasi, dia malah diteror sampai dia trauma dan akhirnya pasrah,” sebutnya.

Bu Efda memanen madu kelulut dengan aju pelindung agar lebah tak masuk ke matanya/Foto: Jaka HB

Oleh sebab itu, budidaya madu kelulut ini menjadi pilihan bagi Efda dan rekan-rekannya didampingi dan difasilitasi oleh Walhi Sumatera Barat untuk memperkuat solidaritas. Sebab lahan pertanian juga tidak lagi sesubur itu sehingga tanaman tidak tumbuh dan menghasilkan.

“Tanam pisang dan pinang, malah buahnya tidak maksimal, ya itu karena tanah tidak subur lagi,” jelasnya.

Perempuan lainnya dari kelompok ini, Ida mengatakan ia adalah salah satu korban tambang batu bara yang berada dekat dengan pemukimannya. Dampaknya, tanaman yang ia tanam tidak lagi produktif, air juga menjadi kotor, sementara kebutuhan ekonomi terus meningkat.

“Awalnya kami berpikir apa yang bisa kami lakukan dalam kondisi ini. Lalu muncul ide untuk mencoba budidaya lebah kelulut. Madu ini tidak membutuhkan lahan luas dan perawatannya juga tidak terlalu sulit, cukup dengan menjaga lingkungan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar,” kata Ida.

“Dalam perjuangan ini, kami terus bertahan. Ada juga yang diiming-imingi uang dan berbagai hal lainnya. Tapi perjuangan yang sudah kami jalani selama bertahun-tahun tidak akan tergantikan oleh bujuk rayu seperti itu,” lanjutnya.

Ida menyebut ada dua jenis madu yang dihasilkan. Salah satunya berasal dari lebah Trigona (Tetragonula) yang dikenal lebih jinak. “Ada juga yang suka menyengat itu jenis Trigona itama kalau memanennya pakai baju tertutup seperti baju astronot,” sebutnya.

Madu Kelulut Dukung Perekonomian

Perempuan lainnya di Sikalang, Titin telah membudidayakan madu kelulut sejak beberapa tahun sebelum konflik dengan perusahaan tambang sekitar 2018. Hasilnya cukup menjanjikan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara perawatannya relatif mudah dilakukan.

“Cuma memang ada kendala kalau lingkungan tidak bagus, lebahnya bisa stres dan pergi dari sarangnya di kotak-kotak itu,” katanya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa budidaya madu kelulut tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, tetapi juga dapat berkembang sebagai strategi pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal. 

Dalam penelitian Warsidah, Neva Satyahadewi, Roslina Rosi Tamara, dan Putri (2023) yang dipublikasikan dalam Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Studi tersebut mendokumentasikan praktik pendampingan budidaya lebah kelulut di Kalimantan Barat yang dilakukan secara partisipatif melalui penyuluhan dan praktik langsung. 

Hasilnya, pengetahuan dan keterampilan masyarakat meningkat, diikuti dengan peningkatan kualitas serta produksi madu. Bahkan, budidaya ini berkembang menjadi usaha kecil berbasis keluarga yang mampu menopang ekonomi rumah tangga.

Selain memiliki nilai ekonomi, madu kelulut juga menyimpan manfaat kesehatan yang signifikan. Penelitian Sari, R., Widodo, Y., dan Kusuma, A. (2022) dalam Jurnal Teknologi Pangan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur menunjukkan bahwa madu kelulut mengandung senyawa bioaktif dalam jumlah tinggi, seperti antioksidan dan flavonoid. 

Kandungan antioksidan tersebut berperan dalam menangkal radikal bebas yang dapat memicu berbagai penyakit degeneratif, sementara flavonoid memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri yang berpotensi meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kesehatan secara umum.

Tambang Batu Bara perusahaan Tahiti Coal berada di belakang pemukiman warga Sikalang/Foto: Jaka HB

Perlawanan dan Bayang-Bayang Tambang Batu Bara

Budidaya madu kelulut ini merupakan pendampingan terhadap warga dilakukan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat, terutama bagi kelompok perempuan di Desa Sikalang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, yang tengah menghadapi konflik dengan perusahaan tambang batu bara bawah tanah.

Direktur Walhi Sumatera Barat, Tommy Adam, mengatakan konflik mulai terasa sejak 2018, ketika masyarakat perlahan menyadari berbagai perubahan di lingkungan mereka. Sumber mata air yang sebelumnya mengalir dari Bukit Sibanta mulai hilang, sementara aktivitas tambang bawah tanah bergerak semakin mendekati permukiman warga.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius di tengah masyarakat. Posisi tambang yang berada di bawah permukiman diduga memicu penurunan tanah atau subsidence di sejumlah titik yang berdekatan dengan rumah warga.

“Ini yang kemudian membuat masyarakat merasa tidak aman. Apalagi aktivitas tambang berada tepat di bawah ruang hidup mereka,” katanya.

Selain ancaman terhadap struktur tanah, persoalan air bersih juga menjadi dampak yang paling dirasakan. Akses air bersih semakin sulit, bahkan sebagian warga terpaksa menggunakan air dari genangan bekas tambang yang dipompa dan dialirkan ke rumah-rumah.

“Ia memicu berbagai masalah kesehatan, terutama penyakit kulit yang dialami warga dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.

Melihat situasi itu, Walhi Sumatera Barat memperkuat pendampingan, khususnya kepada kelompok perempuan di Desa Sikalang. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah pengembangan budidaya lebah madu kelulut melalui bantuan stup dan koloni lebah.

Warga mendapatkan bantuan dua jenis lebah Trigona itama dan Trigona thoracica. Masing-masing gunakan 12 stup. Jumlah ada 24 dibagikan pada 12 orang.

Tommy menjelaskan, program ini tidak hanya ditujukan untuk membantu ekonomi warga, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan alternatif penghidupan yang lebih lestari. “Budidaya madu ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa ada pilihan ekonomi yang tidak merusak lingkungan dan tetap bisa menopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Pada tahap awal, puluhan stup madu disalurkan kepada kelompok dampingan, dengan fokus pada perempuan. Seiring waktu, masyarakat mulai merasakan manfaatnya, meski belum sepenuhnya mampu menggantikan sumber penghidupan sebelumnya.

Namun demikian, inisiatif ini menjadi semacam wacana tanding terhadap model pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Bagi warga, budidaya madu kelulut tidak hanya soal tambahan penghasilan, tetapi juga simbol bahwa pengelolaan lingkungan yang lestari dapat membuka peluang ekonomi yang lebih aman, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.

 

*Liputan ini bekerjasama dengan Jendela Perempuan Project Multatuli

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi