Siasat Ekonomi Perempuan Pesisir Sinaka Kala Tangkapan Gurita Merosot

Teks dan Foto: Jaka HB

Menjelang sore Helentina (22) bersama Reni (27) dan Misdawati (25) turun dari sampan yang sudah berlabuh di pantai Pulau Simatapi. Bermacam ikan karang seperti karapu dan ikan lainnya bertumpuk di orek atau keranjang yang mereka gendong. 

“Dapat 8 kilo,” kata Helentina, pada 8 Juli lalu.

Sejak pagi sekitar pukul 8.00 WIB mereka mendayung sampan mereka ke kawasan Pulau Pacah Belah yang berada di belakang kampung mereka, Dusun Sinaka.  Pada pukul 17.00 WIB mereka pulang. 

Kadang Helentina berdua atau bertiga dengan temannya, begitu pula para ibu Dusun Sinaka lainnya. Mereka terbiasa memancing sehingga tidak mengalami kesulitan ketika ikut mencari ikan. 

“Sebelumnya tidak boleh digunakan untuk menangkap ikan, tapi sekarang sudah dibuka kembali,” kata Helentina.

Dia bersama ibu-ibu Dusun Sinaka lainnya kemudian mengumpulkan ikan yang sudah mereka tangkap di sebuah keranjang dan membersihkannya bersama-sama.

Fitri, salah satu ibu rumah tangga di Sinaka membuka dan merendam ikan-ikan itu. “Dibuka direndam dengan air tawar. Lalu di sikat. Rendam lagi dengan air tawar biar garamnya habis, lalu dijemur,” kata Fitri menjelaskan proses pembuatan ikan asin ini.

Hingga malam mereka mengerjakan pembersihan ikan-ikan itu dan keesokan paginya mereka menjemburnya di lapangan yang berada di pinggir pantai Pulau Simatapi itu. Mereka menyusun ikan-ikan yang sudah terbelah itu dengan arpi, mengusir lalat yang mengincar-incar tempat hinggap di ikan, lalu mereka menutupi ikan-ikan itu dengan kain halus yang serupa kelambu agar tak dihinggapi lalat.

Para ibu yang tergabung dalam Kelompok Simpan Pinjam Musara Simaeruk DUsun Sinaka Desa Sinaka itu menjemur ikan asin itu berhari-hari. “Kalau hari panas ya tiga hari kering,” kata salah satu dari mereka.

Kebutuhan Rumah Dari Mata Perempuan Sinaka

Dina Mariana Sapalakai (34) seorang ibu rumah tangga di Dusun Sinaka memiliki empat orang anak yang bersekolah di sekolah dasar yang berlokasi di Korit Buah itu. Anak yang paling tua di kelas lima, lalu kelas empat, kelas tiga dan kelas satu. Keempatnya hampir setiap hari harus naik sampan ke desa itu.

 

Sekali berangkat Dina harus mengeluarkan uang 8000 rupiah. Kalau sekolah Senin sampai Jumat maka ada Rp 40.000 yang harus dikeluarkannya. Terkadang kalau badai mereka tidak sekolah.

Dina Hanifatul Julia Sinta (25) selaku Ketua Kelompok Perempuan Simpan Pinjam Dusun Sinaka mengatakan dahulu nelayan masih dapat memperkirakan kapan musim gurita datang. Namun, dalam dua tahun terakhir, musim gurita semakin sulit diprediksi. Ketidakpastian itu sangat memengaruhi penghasilan keluarga nelayan.

“Dulu masih tahu musim gurita kapan. Sekarang kalau ke depan musimnya ada atau tidak, itu sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk menghadapinya,” katanya.

Dina menilai pembentukan usaha ikan asin cukup baik dan bermanfaat bagi ibu-ibu. Sebelum usaha tersebut dijalankan, anggota kelompok terlebih dahulu membicarakannya dalam sejumlah pertemuan.

“Kami berpikir bagaimana caranya supaya ada tambahan pendapatan, baik untuk tabungan maupun untuk kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Menurut Dina Hanifatul, ketika musim gurita sedang baik, penghasilan suami dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Para suami biasanya dapat menyetorkan uang untuk kebutuhan rumah tangga setiap minggu. Namun, ketika gurita sulit diperoleh, keluarga nelayan kehilangan sumber pendapatan utama.

“Kalau musim gurita lancar, hasil dari bapak-bapak bisa disetor setiap minggu. Tapi kalau gurita tidak ada, kami terpaksa mencari usaha lain. Salah satunya usaha ikan asin ini,” katanya.

Dina dan suaminya, Partogi, mulai tinggal di Sinaka pada 2024. Sebelumnya, suaminya lama bekerja di Jakarta. Mereka kemudian tinggal di Padang sejak 2023. Pada Januari hingga Juli 2024, mereka masih berada di Padang. Setelah itu, mereka pindah ke Sinaka.

Kelompok perempuan tempat Dina bergabung dibentuk pada Agustus 2024. Menurutnya, hasil tangkapan gurita sempat meningkat pada 2024, tetapi kembali menurun pada 2025.

“Pada 2024 hasil gurita sempat banyak. Tahun 2025 mulai menurun. Penurunannya langsung terasa di dapur,” ujarnya.

Ketika suaminya sakit atau tidak dapat pergi melaut, Dina terkadang harus meminjam uang dari tabungan kelompok. Kelompok sudah memiliki standar operasional untuk peminjaman dan pengembalian uang.

Pinjaman harus dikembalikan dalam waktu satu bulan. Apabila melewati batas waktu tersebut, anggota dikenai denda sebesar Rp10 ribu.

Saat ini, keluarga Dina belum memiliki sumber pendapatan lain yang tetap. Karena itu, usaha ikan asin diharapkan dapat memberikan tambahan penghasilan sehingga anggota tidak hanya bergantung pada pinjaman kelompok.

“Dengan adanya usaha ini, kami terbantu. Jadi tidak hanya meminjam. Hasilnya bisa dipakai untuk kebutuhan dapur, anak, dan kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Dina mengatakan ketiadaan gurita sangat memengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. Ketika hasil tangkapan menurun, keluarga mulai kesulitan membeli beras, garam, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Kalau gurita tidak ada, semuanya terasa. Untuk kebutuhan anak, kebutuhan sehari-hari, beli beras, garam, dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Dina memiliki seorang anak berusia satu tahun tujuh bulan. Salah satu pengeluaran yang paling berat adalah membeli popok. Di Sikakap, harga satu bungkus popok dapat mencapai Rp110 ribu, belum termasuk biaya transportasi atau ongkos pengiriman.

“Yang paling terasa itu kebutuhan popok karena harganya mahal. Kalau tidak pergi sendiri ke Sikakap, kadang kami menitip kepada orang yang pergi ke sana,” katanya.

Di Sinaka, perempuan mencari ikan biasanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga atau menambah penghasilan keluarga seadanya. Mereka mencari hasil laut sekitar hutan mangrove dan mendapatkan kepiting, lokan, lilit, sekoira dan labau.

Ertaria salah satu ibu rumah tangga di Sinaka mengatakan perempuan sejak lama juga diajari melaut oleh para orang tuanya. Dahulu mereka mengajak anak-anak, termasuk perempuan berburu ikan di hutan bakau. Dari pagi hingga sore.

Karena hanya untuk kebutuhan pribadi, ketika tangkapan suami mereka untuk dijual terutama gurita, ekonomi mereka sangat terdampak sampai ke dapur. Menurunnya jumlah tangkapan ini bukan tanpa sebab. Ada faktor perubahan iklim dan overfishing di dalamnya. 

Sinaka yang Bergantung Pada Gurita

Badai angin Selatan membuat gelombang tinggi di perairan Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sampan-sampan yang tertambat di pantai saling beradu. Badai angin Utara turut menurunkan hujan di perairan yang menghadap langsung ke Samudera Hindia itu. 

Nama badai itu kerap disebut musim galoro oleh nelayan setempat. 

Sampan-sampan yang beradu itu milik pengepul gurita untuk dipinjamkan ke para nelayan yang kadang melaut dari pagi hingga sore. Ada pula yang beranjak pukul 2 dini hari hingga subuh. Isi lambung sampan mereka dahulu penuh dengan gurita, lobster hingga teripang. 

Sutrisno Madogaho (35) adalah salah satu nelayan yang memandangi ujung laut. Mengira-ngira cuaca untuk dapat turun. Dia adalah pemburu gurita ulung dari Sinaka. Seperti tak punya libur, dia terus mencari gurita untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tahun 2018 dia pernah sampai per harinya menghasilkan Rp 500.000 sampai satu juta dari hasil tangkapan gurita.

“Kalau teman-teman yang beragama Kristen libur di hari Minggu karena harus beribadah, tapi karena saya muslim, setiap hari saya turun,” katanya.

Sutrisno sudah mulai menangkap gurita sejak harga 4000 rupiah per kilogram, pada 2016 naik menjadi 6000 dan pada 2020 melonjak 40.000 kilogram. Pada 2023 harga mencapai 65.000 per kilo. Tahun 2026 ini harganya mencapai 85.000 per kilo di kalangan pengepul Sinaka ke nelayan. Namun, harga yang naik ini tak segaris dengan jumlah tangkapan hari ini.

“Dulu di depan pantai ini aja dalam satu hari bisa dapat 80 kg.”

Hasil tangkapannya mereka simpan dalam cold box dan kemudian dikirim ke Sikakap yang merupakan pusat perdagangan antara Pagai Selatan dan Pagai Utara. Dari Sikakap gurita itu melaut sampai ke Padang, Sumatera Utara, Jakarta hingga Surabaya.

Pada 2024 tangkapan gurita terus menurun. Jertianus selaku ketua kelompok nelayan Sinaka menduga penurunan ini tak lepas dari masifnya penangkapan tahun-tahun sebelumnya. Sebab itu dia berharap adanya jeda tangkap yang mereka lakukan dapat menghambat penurunan rutin ini karena ekosistem pasti akan membaik dan gurita kecil akan dapat kesempatan dewasa dan regenerasi. 

Didampingi oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) sudah empat tahun Dusun Sinaka dan Korit Buah melakukan jeda tangkap untuk memperbaiki ekosistem gurita ini. Situasi ini membuat desa juga terdorong membuat peraturan desa serta tim pengawasanya yang bernama Sijago Koat.

Badai, overfishing dan situasi ini kemudian yang menyebabkan para ibu juga harus mensiasati kondisi ekonomi mereka.

Dalam catatan Yayasan Citra Mandiri-Mentawai nelayan gurita Desa Sinaka tersebar di dusun-dusun pesisir seperti Dusun Sinaka, Korit Buah, Mangka Ulu, Mangka Baga, Matotonan, Boriai, Kosai Baru, Kosai Batsagai dan Mabolak. Mereka semua laki-laki, perempuan setempat biasanya ke ladang atau jika pun mencari ke laut mereka hanya menangkap di dekat pemukiman dan tangkapannya hanya untuk konsumsi keluarga. Sesekali jika ada yang dijual akan mereka jual.

Program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan

Georgerius Baleuma Sakailoat sebagai fasilitator program perempuan dari Yayasan Citra Mandiri-Mentawai (YCMM) mengatakan program kelompok perempuan ini merupakan satu kesatuan dengan pendampingan kelompok nelayan. “Di Sinaka, kelompok ini sudah berjalan selama tiga tahun atau tiga siklus. Satu siklus berlangsung selama satu tahun,” katanya.

 

Dia mengatakan pembentukan kelompok tabungan perempuan ini berdasarkan kondisi perempuan di pesisir Sinaka sulit mengakses layanan perbankan. “Dari segi geografis, lokasi mereka cukup jauh sehingga menyulitkan mereka pergi ke bank, menabung atau mengakses layanan simpan-pinjam,” katanya.

 

Dia mengatakan kelompok tabungan ini jadi alternatif agar ibu-ibu dapat menyimpan dan meminjam uang lebih mudah. “Kami juga menyediakan brankas untuk menyimpan uang kelompok. Kalau mereka harus menabung ke bank setiap bulan tentu akan merepotkan. DEngan adanya brankas di kelompok akses mereka jadi lebih mudah.”

 

Georgerius mengatakan ada dua kelompok yang mereka dampingi yaitu di DUsun Sinaka dan Korit Buah. “Di Sinaka ada 22 orang perempuan anggotanya dan di Korit Buah ada 25 orang.”

 

Dia mengatakan ikan asin dipilih sebagai produk karena melihat potensi sumber daya yang tersedia di kampung mereka. “Sinaka memiliki sumber daya perikanan yang cukup melimpah. Karena itu kami mendorong kelompok perempuan untuk mengembangkan usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga,” katanya.

 

Selain sumber daya melimpah, George melihat produk ini memiliki pasar di Pagai Selatan. “Produk ini sedang dicari dan dibutuhkan, terutama di pasar Sikakap. Pilihan usaha ikan asin juga merupakan hasil kesepakatan kelompok. Sebab sebelum menentukan jenis usaha kami juga terlebih dahulu menganalisis potensi yang tersedia di kampung dan mendiskusikannya dengan para ibu,” katanya.

George mengatakan selain usaha dan tabungan kelompok, mereka juga mendorong penerapan manajemen keuangan keluarga. Ibu-ibu sudah diberikan pelatihan untuk mencatat dan menghitung pengeluaran rumah tangga, baik pengeluaran bulanan maupun tahunan.

“Mereka juga diajak menghitung jumlah pendapatan keluarga dan membandingkannya dengan pengeluaran. Dengan begitu, mereka dapat mengetahui kebutuhan yang harus diprioritaskan, jumlah uang yang bisa ditabung, serta modal yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha.”

Reportase ini merupakan kolaborasi Roehana Project dengan Jendela Perempuan Project Multatuli.

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi