Kincia Aia, Warisan Energi Terbarukan dan Penopang Ekonomi Perempuan di Agam

Teks dan Foto: Novia Harlina

Tayang: 18 Agustus 2026

Alamsiar membuka penutup aliran air menuju kincir yang berada persis di samping sebuah bangunan tua. Begitu pembatas dibuka, air mengalir deras dan roda kincir segera berputar. Di dalam bangunan, batang-batang kayu atau alu yang tersambung ke sumbu kincir otomatis bergerak mengikuti putaran roda dan menghantam lesung secara berulang.

Orang-orang di sana menyebutnya kincir aia atau dalam bahasa Indonesia kincir air. Biasa digunakan untuk menggerakkan penumbuk beras untuk dijadikan tepung.

Hari itu Alamsiar tidak menumbuk beras menjadi tepung. Belum ada pelanggan yang mengantarkan beras ketan untuk ditumbuk. Namun, menjelang sore, ia tetap menjalankan kincir agar kayu-kayu roda tidak kering di tengah teriknya cuaca di Jorong Galuang, Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Selama lima tahun terakhir, perempuan 46 tahun itu mengelola kincir tersebut. Sebelumnya, pekerjaan yang sama dilakukan oleh ibunya selama sekitar sepuluh tahun. Kincir itu menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sekaligus salah satu sumber penghasilan bagi Alamsiar.

Kampungnya, diberkahi sumber mata air yang melimpah. Air tersebut menjadi tenaga penggerak yang memungkinkan beras ditumbuk tanpa bahan bakar minyak maupun listrik.

Saat ini Alamsiar memiliki sekitar tiga pelanggan tetap yang datang membawa beras untuk ditumbuk. Mereka umumnya merupakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi kue-kue kering. Sekali datang, pelanggan biasanya membawa sekitar 25 hingga 75 kilogram beras.

Untuk 25 kilogram beras, ia mematok harga sekitar Rp120 ribu. Per sekali pengerjaan ia mampu menumbuk 75 kilogram tepung karena terdapat tiga lesung yang bisa beroperasi sekaligus ketika kincir berputar. 

“Tapi kalau dihitung per bulan tidak menentu, minggu pertama Agustus ini misalnya saya baru menumbuk beras ketan satu kali sebanyak 50 kilogram,” katanya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Selain pelanggan tetap, pesanan juga meningkat ketika warga sekitar membutuhkan tepung untuk membuat panganan, pesta atau perayaan hari besar.

“Kalau sedang banyak orderan, saya menumbuk tepung dari pagi sampai sore, istirahat ketika makan dan ibadah saja,” ujar Alamsiar.

Proses menumbuk tepung menggunakan alu yang dioperasikan dengan kincir ini, dimulai dengan merendam beras terlebih dahulu setelah direndam baru kemudian dimasukkan ke dalam lesung dan proses penumbukan dimulai. “Setelah ditumbuk, tepung diayak menggunakan kain. Bagian yang masih kasar dikembalikan ke lesung untuk ditumbuk kembali hingga halus, begitu seterusnya sampai tepung benar-benar halus.”

Alat penumbuk beras yang digerakkan dengan kincir air. Foto: Novia Harlina/Roehana Project
Kayu penyambung antara kincir dan penumbuk bergerak ketika pembatas air dibuka. Foto: Novia Harlina/Roehana Project.

Ia cerita kalau kincir air tidak selalu menghasilkan pemasukan setiap hari. Ketika tidak ada pelanggan, Alamsiar kembali bekerja di sawah. Ia juga memelihara marmut yang dijual sekitar Rp15 ribu per ekor. Dalam sekali penjualan, ia terkadang menjual hingga enam ekor.

Pekerjaan-pekerjaan itu menjadi bagian dari cara Alamsiar memenuhi kebutuhan hidupnya dan seorang anaknya. Ia telah berpisah dengan suaminya sejak anaknya masih kecil.

Sumbu Mulai Keropos

Mempertahankan kincir air juga membutuhkan biaya dan keterampilan. Salah satu bagian yang harus diganti secara berkala adalah sumbu atau poros yang menghubungkan roda dengan mekanisme penumbuk.

Sumbu kincir yang digunakan Alamsiar saat ini telah diganti sekitar lima tahun lalu. Kini, kayu tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda keropos lagi.

“Kayu untuk poros atau sumbu itu dibuat dari pohon nangka yang sudah besar,” katanya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa keberlangsungan kincir tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya pelanggan dan aliran air. Bangunan dan komponen kayunya juga harus terus dirawat.

“Mencari pohon untuk sumbu itu juga tidak mudah, kalau sudah ada tanda-tanda keropos seperti sekarang, kami mulai cari pohonnya di sekitar daerah ini.”

Kincia Aia dan Media Sosial

Salah satu orang yang berusaha menjaga agar kincir yang dioperasikan Alamsiar tetap dikenal adalah anaknya, Ayu Mustikarani (23).

Ayu bukan operator utama kincir. Pekerjaan menumbuk sehari-hari masih dilakukan oleh ibunya. Namun, ia mengambil peran lain dengan memperkenalkan kincir melalui media sosial Instagramnya yang bernama @ayukinciaaia.

Ayu, anak dari pengelola kincir air di Galuang Kabupaten Agam yang sering membuat konten tentang kincir di media sosialnya. Foto: Novia Harlina/ Roehana Project.

Selama sekitar delapan bulan terakhir, Ayu aktif membuat konten di TikTok dan Instagram mengenai kincia keluarganya.

“Iya, baru beberapa bulan ini kontennya mulai naik, mulai banyak yang tahu ada kincir di sini,” kata Ayu.

Ia khawatir perkembangan teknologi membuat semakin sedikit orang mengetahui bahwa di Galuang masih ada kincia yang digunakan untuk menumbuk beras menjadi tepung secara tradisional.

“Jumlah pelanggan kincir tidak selalu tetap. Ada kalanya beberapa hari tidak ada seorangpun yang datang membawa beras. Pelanggan tetap memang masih ada, tetapi jumlah beras yang dibawa bergantung pada kebutuhan produksi dan pesanan mereka,” kata Ayu.

Pelanggan kincia keluarga Alamsiar berasal dari sejumlah daerah, antara lain Sianok, Cangkiang dan Kubang Putiah. Mereka membawa beras untuk diolah menjadi tepung sebagai bahan baku pembuatan kue.

Sejak Ayu aktif mempromosikan kincia melalui media sosial, semakin banyak orang mengetahui keberadaannya.

Selain pelanggan, sejumlah peneliti dan pembuat film juga datang berkunjung. Salah satunya peneliti dari Universitas Indonesia yang mendalami persoalan bangunan kincia.

Ayu berharap pelaku usaha kue tradisional tetap memilih tepung hasil tumbukan kincia dibandingkan tepung yang diolah menggunakan mesin.

Tepung beras hasil tumbukan mesin kincir. Foto: Novia Harlina/Roehana Project.
Tepung beras hasil tumbukan mesin kincir. Foto: Novia Harlina/Roehana Project.

Menjaga Resep Turun Temurun

Salah satu pelanggan tetap kincia Alamsiar adalah Nini Hartati, 48 tahun, pembuat kue tradisional dari Cangkiang, Kabupaten Agam.

Nini membawa beras ketan ke tempat Alamsiar untuk diolah menjadi tepung yang kemudian digunakan sebagai bahan baku berbagai kue kering khas Cangkiang.

Ia telah mengenal kincia tersebut lebih daru 20 tahun lalu. Nini mulai membuat kue ketika masih muda, sebelum berhenti setelah mengikuti suaminya ke Jakarta. Dua tahun terakhir, ia kembali ke kampung dan menghidupkan kembali usaha kue miliknya.

Jenis-jenis yang dibuatnya adalah kue dorom, roti kering, kue sakura dan karak kaliang talua dan kue bawang cangkiang.

“Sekali mengantar beras ketan ke kincir itu sekitar 50-75 kilogram atau dua karung beras ketan. Biaya jasa penumbukan untuk jumlah tersebut sekitar Rp240 ribu untuk 50 kilogram,” katanya.

Menurutnya penggunaan kincir bukan sekadar mempertahankan cara lama. Ia merasakan perbedaan hasil kuenya. Ia pernah menggunakan mesin untuk menumbuk beras. Namun, menurutnya tepung hasil mesin membuat tidak membuat  kue mengembang sepeti ketika menggunakan tepung hasil tumbukan kincia. Tekstur dan rasanya dinilai berbeda.

“Kalau ditumbuk pakai mesin itu kue saya kurang legit dan juga tidak begitu kembang, kalau orang sini bilangnya ‘kurang bagatah (kurang bergetah)’ kalau pakai mesin,” kata Nini.

Selain itu proses menggunakan kincia juga lebih cepat dibandingkan mesin yang pernah digunakannya. “Pakai mesin paling banyak sehari itu 20 kilogram,” ucapnya.

Kue-kue tersebut kemudian dijual langsung kepada pelanggan dan di pasar-pasar tradisional. Harganya bervariasi, kue bawang Cangkiang misalnya dijual sekitar Rp80 ribu per kilogram, sedangkan karak kaliang talua sekitar Rp100 ribu per kilogram.

Nini bilang, mempertahankan kincia berarti mempertahankan pula cara pengolahan bahan baku yang menentukan kualitas kue khas Cangkiang.

Tidak jauh dari rumah Nini, juga terdapat satu kincir air yang dioperasikan untuk menumbuk tepung. Namun karena bergantung pada air, kadang-kadang kincir tersebut tidak bisa dioperasikan.

“Kalau musim kemarau, kincir yang di dekat rumah saya itu nggak bisa berputar,” katanya.

“Kalau di kincir Alamsiar roda kayunya dapat terus berputar karena berada pada aliran air yang besar berasal dari mata air,” jelasnya.

Nini, pelaku UMKM yang memanfaatkan jasa penumbukan tepung dengan kincir air. Foto: Novia Harlina/Roehana Project

Energi yang Disediakan Alam

Penggunaan aliran air sebagai tenaga penggerak membuat kincir memiliki prinsip yang berbeda dengan mesin penumbuk modern yang menggunakan listrik atau bahan bakar. Air yang mengalir menggerakkan roda kincir, kemudian putaran tersebut diteruskan melalui sumbu dan batang-batang kayu hingga menghasilkan gerakan mekanis pada alu yang menghantam lesung.

Dalam penelitian berjudul Sustaining Factors and Challenges of Traditional Watermill Lasuang Kincia in West Sumatra yang diterbitkan pada 2026 dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, Intan Findanavy Ridzqo, dkk menjelaskan kincir air merupakan teknologi tradisional yang memanfaatkan aliran air untuk menggerakkan mekanisme penumbukan hasil pertanian.

Teknologi tersebut memungkinkan proses penumbukan berlangsung tanpa menggunakan mesin berbahan bakar. Pemanfaatan tenaga air juga membuat kincia menjadi contoh bagaimana sumber daya alam di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan langsung untuk kebutuhan produksi.

Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lesung kincir air menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kerusakan bangunan, perubahan debit air, sedimentasi saluran, sulitnya memperoleh bahan kayu hingga minimnya regenerasi.

“Sumbu roda yang menjadi bagian penting dari mekanisme kincir mulai keropos setelah digunakan sekitar lima tahun. Kayu yang digunakan untuk membuat poros tersebut harus cukup besar dan kuat, sementara tidak selalu mudah mendapatkannya,” ditulis dalam penelitian tersebut.

Jika sumbu rusak, aliran air yang tetap mengalir tidak akan cukup untuk membuat kincia kembali bekerja. Artinya, keberadaan air saja tidak cukup untuk mempertahankan teknologi ini. Ada bangunan, komponen kayu, pengetahuan dan manusia yang harus terus merawatnya.

Pemanfaatan tenaga air sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi masyarakat di Sumatera Barat. Sebelum listrik dan mesin berbahan bakar minyak mudah diakses, aliran sungai telah dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan masyarakat, termasuk mengolah hasil pertanian.



Alat penumbuk beras yang digerakkan dengan kincir air. Foto: Novia Harlina/ Roehana Project.

Perempuan di Balik Keberlangsungan Kincia

Dalam jurnal yang sama, penelitian terhadap 13 informan, 11 di antaranya adalah perempuan. Perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga operator lasuang kincia dan pelaku usaha makanan tradisional yang menggunakan tepung hasil tumbukan.

Menurut penelitian, keterlibatan perempuan berhubungan dengan pembagian kerja dalam masyarakat agraris Minangkabau. Setelah panen, laki-laki umumnya kembali bekerja di sawah, sementara perempuan mengolah hasil pertanian menjadi bahan pangan.

Pengetahuan perempuan mengenai karakter tepung yang dihasilkan tenaga air juga menjadi salah satu faktor yang membuat kincia tetap digunakan. Tepung hasil tumbukan lasuang kincia dinilai lebih sesuai untuk sejumlah makanan tradisional karena menghasilkan tekstur dan cita rasa yang berbeda dibandingkan tepung yang diproses menggunakan mesin.

Di beberapa tempat, mesin berbahan bakar minyak mulai menggantikan tenaga air agar produksi tetap berjalan. Pergantian tersebut memang mempertahankan aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus menghilangkan karakter kincia sebagai teknologi yang memanfaatkan energi air.

Laporan ini merupakan kerjasama Roehana Project bersama Jendela Perempuan dari Project Multatuli.

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi