Rekaman Leluhur Orang Mentawai tentang Bencana pada Lagu Teteu Amusiat Loga

 

 

Peristiwa gempa dan tsunami atau bencana besar yang setidaknya menggambarkan dua kejadian tersebut, telah terekam sejak masa yang lampau. Reman itu dimanifestasikan dalam lagu Teteu Amusiat Loga. 

 

Secara harfiah teteu diartikan kakek. Orang mentawai menyebut gempa bumi dengan sebutan kakek. Ini istilah yang banka digunakan pesisir Timur Siberut. Selain itu Amusiat artinya bernyanyi atau menjerit ketakutan. Terakhir Loga artinha tupai.

 

Tupai dianggap hawan yang sensitif terhadap rencana alam. Jika tupai sudah menjerit, maka orang Mentawai sudah seharusnya waspada.

 

Gerson Merry Saleleubaja menuliskan salad tabloid Puailiggoubat bahwa lagu tersebut menggambarkan gempa dahsyat disertai suara gemuruh besar, air laut pun digambarkan meluap dan seisi bumi panik.

 

Gerson mewawancarai salat satu tokoh adat di Siberut yang beraam Markus Safari. “Ini adalah lagu untuk mengenang kejadian masa lampau tentang pengalaman nene moyang terdahulu agar tak terlupakan. Mereka membuat cerita ini berupa lagu, namun sayang tidak banyak yang tahu makra lagu ini,” kata Markus di Siberut Selatan Mentawai.

 

Vic Sundesk, salah seorang seniman techno-music asal Padang meracik tradisi lisan ini dengan sentuhan-sentuhan moombahtoon, alasannya lebih cocok melodi vokalnya dengan ketukan-ketukannya.

 

Syair

 

Teteu Amusiat Loga 

[Kakek (gempa bumi), sang tupai menjerit]

 

Teteu katinambu leleu 

[Kakek (gempa bumi), suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit’]

 

Teteu girisit nyau’nyau’

[Karena pohon baiko telah ditebang]

 

Kuilak, pai-pai gou’ gou’

[Burung kuilak, ekor ayam berserakan]

 

Lei-lei gou’ gou’

[Ayam-ayam berlarian]

 

Barasita teteu

[Karena di sana kakek (gempa bumi) telah datang]

 

Lalaklak paguru seilet

[Orang-orang berlarian tak karuan]

 

…..

Caption di youtube

 

Masyarakat Mentawai memiliki mitigasi yang berbasis kearifan lokal tersendiri, mereka memiliki lagu berjudul Teteu Amusiast Loga (gempa akan datang tupai sudah menjerit).

 

Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh anak-anak Mentawai saat bermain gasing dari batang bakau atau manggis hutan juga saat bermain petak umpet.

 

Teteu adalah salah satu penguasa bumi. Jika Teteu murka, maka ia akan menggoncangkan bumi hingga mengeluarkan gempa. Lagu ini tak ubahnya seperti early warning system yang bersifat kultural bagi masyarakat di Kepulauan Mentawai.

 

Collaborator 

– Island Herbivore

– Roehana Project

– Sinuruk.id

 

Support by

– Kabitat

– Fvckrules

– Expanding Mentawai

– Vakansitrip

– Sanggar Seni Sipaumat

– Visit Mentawai

– Lamudra

 

Special thanks 

Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai 

 

#mentawai #moombahton #remix #newtrack #earthquake



Dukung kami untuk menghadirkan cerita, dan liputan yang mendalam terkait yang terpinggirkan.

 

Silahkan klik tautan dibawah ini.