Teks dan Foto: Jaka HB
Dari ketinggian belasan ribu kaki di pesawat, saya melihat hamparan sawit dan hutan yang tergenang banjir di Kalimantan Tengah. Beruntung saat mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya banjir tak sampai ke tengah kota. Dari Palangkaraya saya beranjak ke dua desa yang ada di Kabupaten Seruyan. Desa Parang Batang dan Paring Raya.
Saat langit Seruyan mulai redup, kami memasuki portal yang ada pos penjagaan. Pembatas jalan itu tanda kami sudah masuk dalam kawasan perusahaan sawit yang di dalamnya ada Desa Parang Batang dan Paring Raya. Desa yang awalnya banyak hutan dan tanah adat, pada awal 2000 hingga 2004 sudah diambil alih oleh perusahaan sawit. Akses jalan lama ditutup dan berubah jadi blok-blok sawit.
Warga mulai menyadari apa yang sedang terjadi ketika jalan desa ditutup dan mereka harus lewat blok-blok sawit. Kemudian semua yang tak memiiliki tanah harus bekerja di perusahaan, terseret keluar dari pola ekonomi lama mereka yang menanam karet, berkebun atau berladang dan mencari ikan. Tapi mereka merasa tak ada yang bisa dilakukan. Sawit terus diperluas dan warga semakin tergantung dengan perusahaan.
Suku Dayak yang ada di Desa Parang Batang dan Paring Raya marah berkali-kali pada korporasi dan pemerintah. Padahal reformasi belum genap sepuluh tahun waktu itu, tapi mereka harus mengalami kehilangan banyak tanah.
Beberapa orang warga di sana memang menerima sawit dan lainnya menolak. Ada yang menyesal dan mereka tetap menjalani kehidupan mereka. Saya akan mulai dari desa kedua yang kami datangi: Paring Raya.
Jarak Paring Raya ke ibu kota Kabupaten Seruyan 160 Km dan 33 Km menuju ibu kota kecamatan. Namun berbeda dengan Parang Batang yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat, saya harus menggunakan kelotok atau sampan untuk sampai di desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 512 orang ini. Meskipun saya merasakan kehidupan yang lebih kaya secara ekologis di sini. Meskipun sama saja dikepung oleh sawit dan dipermainkan oleh korporasi.


Suatu Pagi di Desa Paring Raya
Jam di telepon genggam saya masih menunjukkan pukul 6.00, tapi pagi sudah begitu terang. Sanariyah sudah bersiap dengan perlengkapannya. Dia mencari-cari sepatu botnya dan terpaksa menggunakan sepatu suaminya yang merupakan kepala desa. Saya mengikuti perempuan berusia 55 tahun ini.
Kami menyusuri jembatan kayu ulin hitam legam yang terbentang sepanjang desa menuju ladang. Di pertengahan jalan Sanariyah mampir ke rumah Khadijah (53), salah satu perempuan desa Paring Raya yang masih bertani hingga kini. Khadijah keluar dengan baju lengan panjang bergambar ikan dan menggunakan jilbab hitam. Kami melanjutkan perjalanan.
Tak sampai 40 menit kami sudah sampai di ladang gambut milik Sanariyah. Hamparan padi ladang itu dibatasi dengan hutan dan perkebunan sawit warga. Sanariyah kemudian mengambil bibit tomat dan bibit padinya di pondok yang berbentuk pematang yang cukup tinggi, lantai duduknya sekitar satu meter lebih tinggi dari tanah.
Tangan kanan Sanariyah lincah menancapkan bibit tomat itu di sela-sela padi yang ada di dataran atau pun di daerah pangkal tunggul pohon yang sudah ditebang yang ada di ladang itu. Sementara padi ditanami di rawa yang dalamnya hanya semata kaki itu.
“Kami tidak pernah menanam di gambut dalam,” kata Priska menceritakan pengalamannya dan pengalaman orang Dayak Mayan ketika bertani di lahan gambut. Priska adalah teman saya yang ikut dari Palangkaraya yang bekerja di Progress Kalteng, sebuah organisasi nirlaba yang mengadvokasi kasus konflik agararia di provinsi itu.
Sekitar 500 meter dari tempat saya berdiri, Khadijah sibuk menugal untuk membuat lubang, memasukkan bibit padi dan memadatkan pinggiran lubang padi itu agar ketika air naik, bibit tidak tergenang dan mati.
“Ini kalau pun banjir dan rebah, dia tetap tumbuh dan bisa dipanen, padi-padi di ladang gambut cukup kuat,” katanya sembari menugal dengan tongkat kayu di tangan kirinya.
Di sela-sela padi itu, dia juga menanam sayur. Padi-padi yang ditanamnya di dekat dahan atau sisa tunggul kayu, diselipkannya bibit tomat. Terkadang sayur sawi, labu dan lainnya. Tak hanya itu, dia juga meletakkan jebakan-jebakan ikan di pinggir-pinggir ladangnya yang berbatasan dengan hutan atau pun kebun sawit.
Beberapa warga masih menanam dan memanen sawit. Bahkan ada kebun-kebun karet mereka yang ditebangi dan ditanami sawit. Tapi menjelang sawit itu besar dan berbuah, warga menanam padi di sekitarnya.
“Karena banyak yang menanam, kami juga ikut menanam,” katanya.
Alfred Russel Wallace dalam bukunya Kepulauan Nusantara Kisah Perjalanan, kajian manusia dan Alam menceritakan sedikit tentang perempuan dayak pada dekade 1800-an. Dia menyebut perempuan Dyak–sebutan dia untuk suku dayak waktu itu– selalu berjalan kaki jauh, melewati perbukitan yang berbatu dari ladang ke ruman untuk mengolah tanah dan bercocok tanam-tanaman pangan.
Namun, tak semua generasi perempuan Dayak di Paring Raya masih bercocok tanam sayur atau pun padi. Sebagian sudah menggantungkan hidupnya bekerja pada perusahaan sawit atau menanam sawit di lahan pribadi. Lantas untuk beras mereka beli.



Saat Generasi Penerus Memanen Sawit
Menjelang siang, Sanariyah pulang ke rumahnya. Setelah mandi dan berganti baju, dia duduk di dapur menganyam tanaman bamban yang sudah dikeringkan. Anyaman itu menjadi keranjang-keranjang kecil yang biasa digunakan untuk membawa bahan-bahan dari kebun atau belanjaan. Perempuan dayak ini merasa lebih bahagia menanam padi dan sayur, padi dan menangkap ikan di ladang ketimbang bekerja di lahan sawit.
“Tidak mau lagi,” katanya.
Kalau pun dia dan suaminya memiliki kebun sawit sekitar satu atau dua hektar, itu pun karena permintaan anak mereka dan iming-iming sebagai jaminan masa depan. Lagipula sudah hampir semua orang dilihatnya menanam sawit di desa itu. Selain itu juga ada perusahaan sawit yang juga berada di dekat kampung mereka.
Dia mengatakan jika para ibu di desanya mau rajin membuat keranjang-keranjang ini dan bisa dijual maka pendapatannya lumayan, selain dari pisang dan sayur-sayuran.
Aktivitas menanam padi dan sayur-sayuran di ladang itu juga dilakukan Yanah, seorang ibu rumah tangga Paring Raya yang berusia 42 tahun. Namun urus mengurus ladang ini hanya dilakukannya pada Sabtu dan Minggu. Sebelum ada pemecatan besar-besaran Buruh Harian Lepas oleh korporasi terdekat di sana, Senin sampai Jumat ibu dua anak ini memutik brondolan sawit hingga siang. Meskipun begitu kesenangannya berladang tak berhenti.
“Biar nggak beli beras. Beras sekarang ada yang 18 ribu kalau beli. Kalau aku ‘kan ndak beli. Ndak menjual juga. Untuk makan aja cuma, sedikit-sedikit,” katanya. Dalam sebulan dia bisa menghemat sampai 300 ribu dengan memanen beras sendiri.
“Kadang panennya satu ton dan cukup sampai berbulan-bulan,” katanya.
Selain itu dia juga punya tanaman pisang yang mendatangkan pendapatan 800 ribu hingga satu juga. Pelanggannya ada banyak, baik karyawan di kebun perusahaan hingga ke Kuala Pembuang, ibu kota kecamatan. “Banyak pelanggannya,” katanya.
Dia punya sekitar satu hektar lahan yang sebagian ditanami padi dan sayur dan sebagian lagi ditanami sawit. Katanya untuk jangka panjang. Setelah tak bekerja untuk perusahaan dia bekerja di kebun sawit sendiri.
Berbeda dengan Yanah, Sunah tidak memiliki kebun sendiri. Dia hanya bekerja di perusahaan memutik brondol sawit dan membersihkan piringan atau sekitar batang-batang sawit. Pemecatan semena-mena dari perusahaan dirasanya sangat tak adil. Sebab pendapatan dirinya sebagai buruh sawit yang hanya bergantung pada pekerjaan itu hilang. Tinggal suaminya yang pindah perusahaan dan mendapat gaji yang lebih layak, namun berada di desa lain.
“Kerjanya juga tidak setiap hari. Setiap 15 hari, gantian dengan rombongan lain,” katanya.
Yanah, Sunah dan sebagian perempuan Paring Raya awalnya bekerja di SPW yang merupakan anak perusahaan PT Musirawas Citra Harpindo yang memiliki luas 1.622 ha. Desa Paring Raya sebenarnya dikelilingi dua perusahaan sawit selain Musirawas ada pula PT Wana Sawit Sbur Lestari II dengan luas 1.242,48. Dalam catatan YMKL ada 41 persen lahan mereka dibebani izin korporasi.




Mereka yang Tak Punya Tanah
Rus Kesumawati diam saat ditanya mengapa dia tetap bekerja di perusahaan sawit. Usianya sudah 42 tahun dan setengah hidupnya bekerja di perusahaan sawit untuk menghidupi anak semata wayangnya. Suaminya sudah meninggal lama, dia terpaksa bekerja sendiri. Dia ingat saat hamil pun dia tetap bekerja. Hanya ketika melahirkan dia libur, 40 hari setelahnya kembali bekerja. Anaknya ditinggal sendirian di rumah.
“Waktu belum bisa makan sendiri, saya letakkan sepiring nasi di dekat pintu,” katanya. Hanya tetangganya yang turut membantu mengawasi anak perempuannya agar tak terjadi peristiwa buruk atau kecelakaan.
Mata Rus kembali menerawang jauh ke langit. Ada sunyi yang misterius menyelinap dari ekspresi datarnya beberapa detik.
“Kadang menangis, kadang pas sakit kepala itu juga menangis,” tuturnya menceritakan harus bekerja walau pun haid. Sakit yang luar biasa harus ditahan agar anaknya terus bisa makan dan sekolah.
Bagi Rus yang kerap disapa Unik ini, anaknya adalah satu-satunya alasan kakinya terus berjalan dan tangannya terus bergerak. “Nangis sambil mikirin anak,” katanya.
Akhir Oktober lalu warga Paring Raya menduduki lahan korporasi PT SPW yang sudah dijanjikan akan diberikan ke masyarakat dalam skema plasma sebanyak 500 hektar selama 15 hari. Skema itu sudah diperjuangkan bertahun-tahun oleh warga. Namun PT Agrinas Pangan Nusantara tiba-tiba memasang plang kalau itu disita negara dan menjadi hak kelola mereka. Pada 28 Oktober terakhir mereka menduduki lahan itu.
Berhari-hari Rus ikut menduduki lahan itu agar bisa memperjuangkan hak ekonominya. Bagi para ibu yang tidak bisa tinggal di lokasi, seperti Yana misalnya, mereka membantu mengantarkan makanan dan dukungan secara moral pada warga yang ikut pendudukan lahan. Mereka masih menunggu niat baik Agrinas.
Yana, Rus dan Sunah sepakat bahwa ini semua tidak adil. “Tak adil,” kata mereka.
Bagi mereka, apa beda negara dengan korporasi jika hanya bisa merebut lahan mereka dan tidak turut memperjuangkan hak masyarakat.

