
Penulis: Novia Harlina Foto: Novia Harlina, Uyung Hamdani, Jaka HB. Editor: Ray
Menjelang sore, Suci tampak sibuk menata botol-botol kaca berisi potongan daun dan akar kering di atas meja kayu. Di dalamnya tersimpan racikan herbal yang sudah digunakan turun temurun di Kampung Batu Busuk, sebuah kampung di lereng Bukit Barisan yang masih dikelilingi hutan rapat dan sara satwa.
Saat anaknya demam, alumnus Universitas Islam Negeri Imam Bonjol ini bergegas memetik daun bunga rayo dan daun jarak di sekitar rumahnya. Dia mengambil tujuh helai daun lalu merendamnya dalam wajan berisi sedikit air. Selanjutnya daun-daun dibalurkan ke seluruh tubuh, terutama di kening.
“Jika panasnya tinggi, daun itu ditempelkan di bagian yang panas. Biasanya cukup satu kali, daun itu layu, dan proses ini diulangi sampai tiga kali sampai demam turun,” kata perempuan berusia 34 tahun ini.
Dia menyusun ramuan yang berisi campuran jahe merah, puding hitam, gula aren dan serai yang sudah kering di rumah. Pemakaian ramuan tradisional menurut Suci tak sekadar soal budaya, tapi juga soal akses ke fasilitas medis yang cukup berat dilalui.
“Jarak hanya 3,5 kilometer. Tapi kalau malam jalan licin, terjal, tidak ada motor, bagaimana mau ke rumah sakit?” katanya.

Di wilayah Lambung Bukik yang masuk dalam Kecamatan Pauh ini, banyak perempuan memiliki kebiasaan tersebut. Hutan Suaka Margasatwa Bukit Barisan menyediakan bahan pangan dan obat alami untuk mereka. Sehingga mereka terbiasa menangani masalah tersebut.
Roslaini, perempuan Batu Busuk lainnya, bercerita warga jarang membawa orang sakit ke rumah sakit untuk berobat. Bahkan ketika anaknya sakit tipes, anaknya hanya bisa terbaring lemah, tidak mau makan dan minum dan suhu tubuhnya terus-terusan panas. Dia berinisiatif mengobati anaknya dengan cacing tanah.
Ingatannya terpaku pada tahun 2000. Anaknya masih duduk di Sekolah Dasar. Ia kemudian mengobati anaknya dengan cacing tanah yang dicari di sekitar pohon pisang. Cacing itu kemudian dibelah dan dibersihkan. Setelah itu direbus dan airnya diminumkan ke anaknya.



“Satu sampai dua hari, anak saya berangsur membaik, yang awalnya tidak mau makan dan minum, setelah mengonsumsi air rebusan cacing ia mulai minta makan dan sembuh setelah dua minggu,” ujar wanita 52 tahun itu.
Roslaini mencontohkan, obat lain yang biasa digunakan seperti daun jarak untuk menurunkan panas anak, rebusan jahe untuk masuk angin, puding hitam untuk melancarkan pencernaan.
Ramuan lainnya seperti “ubek abuih”, yang berarti obat yang direbus. Roslaini menjelaskan ramuan ini terdiri dari jahe merah, akar alang-alang, dan daun puding hitam (Graptophyllum pictum L. griff). Fungsinya lebih untuk menjaga kesehatan, mencegah penat, pegal-pegal, dan terutama anemia.
“Puding hitam bermanfaat melancarkan pencernaan, jahe merah untuk memperkuat tubuh, sedangkan ramuan ini menurut pemahaman kami yang sudah mencobanya secara keseluruhan berguna bagi penderita anemia,” katanya.
Dalam Jurnal Indonesian Journal of Biological Pharmacy oleh Sartika & Indradi (2021) Universitas Padjajaran disebutkan Kandungan kimianya meliputi flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan glikosida, yang secara farmakologis terbukti memiliki aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba.

Dulu, lanjut Roslaini, saudarinya sempat mengalami anemia berat dan hampir dirawat di rumah sakit. Setelah rutin minum ramuan itu, kondisinya membaik dan tidak jadi dirawat di rumah sakit.
“Intinya, masyarakat masih sangat bergantung pada obat-obatan herbal karena keyakinan, pengalaman pribadi, dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Mereka percaya, tanaman di sekitar rumah sudah cukup untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit,” kata Roslaini.
Cerita tersebut diamini Sumiati, salah satu perempuan lainnya di Kampung Ubi berusia 70 tahun. Sumiati bilang pengetahun akan obat-obatan dari tanaman di sekitar rumah dan juga dari hutan ini, biasanya diturunkan dari ibu ke anak-anaknya terutama yang perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Selain itu juga biasanya dalam momen-momen seperti pernikahan, para tetua memberi tahu pasangan baru menyampaikan tanaman obat apa saja yang berkhasiat untuk ragam penyakit,” katanya.
Menurut Sumiati, masyarakat terbiasa mengonsumsi obat dari tumbuhan ini karena yakin akan khasiatnya sesuai yang diturunkan nenek moyangnya. Kemudian juga fasilitas kesehatan memang tidak mudah, ketika sakit ia harus menempuh perjalanan sulit karena untuk keluar dari kampungnya hanya bisa dilewati jalan setapak.
“Cuma bisa pakai onda (sepeda motor) dan jalan kaki, kalau dulu kan tidak ada onda, jalan naik turun dan licin, dan keluar saat ada yang sakit malam-malam, keluarga mengandalkan daun dan akar di sekitar rumah, dan itu manjur,” ia menambahkan

Melihat potensi yang sudah ada di masyarakat Batu Busuak secara turun temurun, Maizaldi dari World Resource Institute (WRI) Indonesia memfasilitasi para ibu mencatat tumbuhan yang sering dipakai dan formulanya.
“Kita hanya memfasilitasi mulai dari pendokumentasian tanaman obat, cara mengemas dan menjualnya. Pendokumentasian itu dibuatkan katalog lengkap dengan nama latin, nama lokal dan manfaatnya,” katanya.
Menurutnya dorongan utama masyarakat untuk tetap memanfaatkan tanaman obat datang dari kondisi geografis dan sosial masyarakat Batu Busuk. Akses ke fasilitas kesehatan masih sulit, jarak rumah ke puskesmas atau rumah sakit cukup jauh, jalanan menanjak, dan kendaraan umum tidak ada.
“Iya sudah turun temurun, aksesnya sulit, karena itu, masyarakat memilih mengandalkan pengetahuan tradisional untuk menjaga kesehatan keluarga,” ujarnya.
Melalui pertemuan WRI dan masyarakat, akhirnya dibentuk kelompok yang fokus dalam pengembangan produk ramuan dari tanaman obat tersebut yang diberi nama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Padusi Etnobotani.
Kelompok yang beranggotakan perempuan-perempuan di Batu Busuk ini mengembangkan taman tanaman obat yang juga berfungsi sebagai ruang belajar dan destinasi ekowisata. Selain melestarikan pengetahuan leluhur, inisiatif ini diharapkan menjadi sumber ekonomi baru bagi warga, sekaligus memperkuat hubungan antara perempuan, hutan, dan kesehatan.
Kelompok ini kemudian juga melakukan pendokumentasian tanaman obat, mereka berhasil mendata lebih dari 70 jenis tanaman obat dan merumuskan 34 resep tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit, mulai dari demam, rematik, sakit kulit, hingga perawatan pasca melahirkan.
Perempuan Padusi Etnobotani turut mengelola hutan dengan skema perhutanan sosial Hutan Kemasyarakatan atau Hkm. Luas izin hkm-nya 250 hektar.

Beberapa tanaman obat yang terdokumentasi, misalnya daun jarak (Ricinus communis), sirih merah (Piper ornatum), daun capo (Asteraceae blumea balsamifera), empedu tanah (Lamiaceae perilla frustescens), dan sitawa (Costus speciosus).
Kemudian ada juga daun sikaduduak (Melastomataceae melastoma malabathricum L.), kumis kucing (Lamiaceae Orthosiphon aristatus), daun puding hitam (Acanthaceae Graptophyllym Pictum), daun garundi (Vitex trifolia) serta banyak lagi.



Suci, yang juga Ketua KUPS Padusi Etnobotani menyebut 34 resep obat itu sudah diproduksi bahkan dijual dalam beberapa bulan terakhir, seperti salah satunya sarang semut untuk penderita kanker.
“Sarang semut diambil langsung dari hutan oleh ibu-ibu kelompok, sarang semut bisa dijual utuh atau hasil olahan dalam bentuk teh,” jelasnya.
Untuk obat dari sarang semut itu, katanya, salah satu istri anggota kelompok yang pernah mengidap kanker merasakan perbaikan kondisi setelah rutin minum teh tersebut.
“Kemudian ada juga ramuan dari daun benalu yang tumbuh di pohon kopi, yang dipercaya membantu mengatasi sakit ginjal,” ucap Suci.
Ibu-ibu yang sebelumnya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan sesekali membantu suami ke ladang, kini memiliki aktifitas baru, memproduksi ramuan dari tanaman obat.
Suci menyebut biasanya sehari hari ia membantu perekonomian keluarga dengan menanam padi di sawah. Selain itu sesekali mereka juga mengambil pakis di hutan untuk dikonsumsi atau pun dijual. “Kalau musim durian ya panen durian, selain itu ada juga tanaman lain,” katanya.
Kemudian untuk ramuan yang dijual, ia menyebut penjualannya masih tidak menentu karena tergantung dari pesanan. Tetapi setiap bulan selalu ada yang memesan.
“Beberapa bulan ini lumayan turun karena tidak banyak kegiatan di luar yang biasanya saya bawa ramuan-ramuan ini, sebelumnya sebulan ada penjualan sampai Rp3 juta,” katanya.
Bagi masyarakat di sejumlah daerah, penggunaan obat tradisional bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga tentang pilihan yang rasional dan praktis. Kepala Herbarium Universitas Andalas, Nurainas menjelaskan bahwa alasan utama masyarakat masih menggunakan obat tradisional sangat bergantung pada dua hal, ketersediaan dan akses.
“Kalau kita lihat, masyarakat itu masih menggunakan obat tradisional karena memang ketersediaannya tinggi. Tanaman-tanaman obat atau bahan-bahan alami yang mereka butuhkan masih banyak di sekitar mereka. Sementara fasilitas kesehatan kadang jauh dari tempat tinggal,” ujarnya.
Ia mencontohkan, banyak masyarakat yang rumahnya berjarak cukup jauh dari puskesmas atau rumah sakit. Jalan menuju ke sana pun tidak selalu mudah. Karena itu, mereka berpikir, “Ngapain ke fasilitas kesehatan kalau bahan-bahan obat sudah ada di sekitar rumah?”
Selain karena faktor jarak dan ketersediaan, ada pula faktor kepercayaan yang sudah mengakar kuat.
“Bagi masyarakat yang sudah turun-temurun memakai obat tradisional, ada keyakinan bahwa apa yang diwariskan itu memang mujarab,” katanya.
Ia menjelaskan, misalnya saat seseorang mengalami flu atau masuk angin, mereka tidak langsung ke puskesmas. Biasanya mereka akan merebus jahe, menambahkan sedikit serai atau madu, lalu meminumnya hangat-hangat. Setelah itu tubuh terasa lebih baik. Karena terbukti ampuh, kebiasaan itu terus dilanjutkan.
“Kepercayaan seperti ini diturunkan terus-menerus, dari orang tua ke anak, dari nenek ke cucu. Jadi walaupun sekarang fasilitas kesehatan sudah dekat, mereka tetap merasa lebih nyaman dengan yang tradisional,” tambahnya.


Dalam hasil riset yang dilakukan oleh Herbarium Universitas Andalas, terlihat jelas bahwa perempuan terutama ibu rumah tangga memegang peranan penting dalam menjaga pengetahuan tentang obat tradisional.
“Kalau kita lihat di lapangan, memang ibu-ibu yang lebih banyak tahu soal obat-obatan tradisional,” katanya. Alasannya sederhana, karena mereka yang paling sering berurusan dengan kesehatan keluarga sehari-hari.
“Kalau anaknya sakit, ibu yang mencari obat. Kalau suaminya sakit, ibu juga yang meracik ramuan. Jadi otomatis mereka yang paling paham,” tambahnya.
Pengetahuan itu mengalir dari satu ibu ke ibu lain, dari satu rumah ke rumah berikutnya. “Sesama ibu biasanya saling memberi tahu. Misalnya, kalau anak demam pakai daun ini, kalau batuk minum rebusan itu. Informasi itu beredar dari percakapan sehari-hari, dari dapur ke dapur,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam konteks budaya Minangkabau, hal ini sangat wajar. Di Sumatera Barat, ibu atau nenek memang punya peran besar dalam mengurus rumah tangga. Jadi pengetahuan soal pengobatan rumah tangga memang lebih banyak dipegang perempuan.
Namun, ada pengecualian. Untuk kasus tertentu seperti proses melahirkan atau perawatan pasca persalinan, biasanya yang lebih paham adalah dukun beranak.
“Kalau urusan seperti itu, memang ada pengetahuan khusus yang dikuasai oleh dukun atau bidan tradisional. Tapi untuk penyakit umum seperti demam, batuk, dan panas dalam, ibu-ibu yang paling tahu,” ujarnya.
Dalam riset Herbarium Unand, kelompok yang paling sering dijadikan narasumber adalah ibu rumah tangga. “Kami tidak menyebutnya hanya ‘perempuan’, tapi secara spesifik ‘ibu rumah tangga’. Karena mereka yang benar-benar menggunakan dan mewariskan pengetahuan itu,” jelasnya.
Ia berharap, masyarakat dan akademisi bisa melihat bahwa tanaman obat bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga potensi masa depan.
“Kalau dikelola dengan baik, tanaman obat bisa menjadi sumber kesehatan, ekonomi, sekaligus identitas budaya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk menjaga baik tumbuhannya maupun pengetahuan di baliknya,” ia menambahkan.

Selain untuk mencari tanaman obat, hutan di sekitar Batu Busuk juga menjadi bagian dari aktivitas harian warga. Misalnya mencari pakis pada pagi hari untuk dijual atau untuk keperluan pangan keluarga.
Roslaini juga hampir setiap hari beraktivitas di kawasan itu, sebab kebunnya ada di pinggiran hutan. “Kalau seperti sekarang musim durian, ya kita tunggu durian jatuh, atau kalau di kebun sekrang ada jagung,” katanya.
Tak hanya itu, mereka juga biasanya mencari kayu bakar atau bambu, sementara sebagian warga lainnya mengelola ladang kecil di lereng-lereng bukit. Mereka menanam jahe, kunyit, dan lainnya.
Bagi mereka, hutan bukan hanya tempat mencari obat, tetapi juga ruang hidup yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Roehana Project dan Project Multatuli untuk koleksi “Jendela Perempuan“
Don’t miss our future updates! Get Subscribed Today!
©2025. Roehana Project
