
Teks dan Foto: Uyung Hamdani
Terbit pada 15 Desember 2025
Lebih kurang tiga kilometer dari Desa Matobe, Kecamatan Sipora Selatan– tempat saya menumpang tidur, di bawah jembatan panjang sungai Saureinu yang lebar, saya bertemu Lemi Daulina yang baru tiba dari ladangnya. Perempuan yang berusia 57 tahun ini mendayung sampan ramping yang panjang.
Sungai Saureinu punya tipikal berarus tenang dan tidak terlalu dalam, oleh sebab itu sampan orang-orang Saureinu tidak akan bisa dipakai menyeberang lautan. Perahu kecil itu dirancang langsing agar mudah meluncur cepat di sungai.
Begitu melihat saya, Lemi bergegas menepikan sampan lalu menariknya keluar untuk disandarkan di pondok samping rumah. Dia datang sendirian, biasanya bersama suaminya, namun suaminya sudah 15 tahun sulit beraktivitas karena penyakit ginjal.
Lemi tidak lahir dan besar di Saureinu, ia datang dari Sumatera Utara dan menikah disana. “Suami saya asli Saureinu dan saya sudah menjadi ibu-ibu Saureinu yang saban hari turun ke sungai mencari lokan, udang, toek, mengolah ladang dan mengambil pasir sisa pasang naik yang mengendap di sungai,” kata Lemi terkekeh.
“Saya ambil pasir semampu saya, berapa muat saja di sampan”.
“Yang terpenting tidak boleh rakus sebab akan membuat penjaga sungai jadi marah,” katanya.
Lemi menatap saya dan melanjutkan cerita awalnya. Dia mengatakan setiap orang di kampungnya percaya bahwa semua elemen alam raya punya penjaga. Malapetaka akan datang jika manusia bertindak seenaknya kepada alam sekitar mereka.



Mereka percaya akan keberadaan Si Beulepei– roh penjaga sungai. Beulepei itu menetapkan aturan tak tertulis yang harus mereka patuhi selama di sungai.
“Penjaga sungai ini suka kebersihan,” kata Lemi.
“Saya tidak pandai berenang, tapi tidak takut mendayung sampan ke ladang kami di hulu sungai Saureinu” katanya terkekeh. Dengan mendayung sampan, Lemi akan menghabiskan waktu lebih kurang 2 jam menuju ladangnya yang di hulu sungai.
“Kadang saya pergi dengan Santoso (anak lelaki Lemi) kadang sendirian saja karena Santoso mengolah ladang kami yang tak jauh dari sini.”
Saya mengangguk dan berjalan mengikutinya. Bahu Lemi terlihat kuat dari belakang, jalannya cepat dan tak ragu-ragu, sesekali ia menyapa orang yang berpapasan dan selalu ada tawa diantaranya. Saya tertinggal karena tanah yang licin.
Lemi menunggu saya dan berkata moile moile —pelan-pelan– saja, tak ada yang dikejar. Ah iya, tak perlu buru-buru macam pejabat baru, belum lama dilantik eh tiba-tiba kaya raya.
Lemi juga memimpin komunitas perempuan Saureinu untuk menanam keladi dan pisang, pangan lokal yang sampai hari ini selalu hadir di dapur orang-orang Mentawai umumnya. Selama 10 tahun ini Lemi dan 7 anggota lainnya menanam keladi jenis Caladium Bicolor atau keladi merah dan Colocosia Esculenta atau keladi batang besar. Dalam bahasa Mentawai, keladi merah disebut Sikobou dan keladi batang besar disebut Jalakjang. Dua jenis keladi jenis ini menyediakan karbohidrat yang cukup dengan kadar gula yang rendah dibanding nasi.
“Semua yang ditanam di ladang dan diambil dari sungai akan kami bagi rata hasil penjualannya di akhir tahun,” kata Lemi.
Kegiatan bersama lainnya adalah usaha toek, sejenis molusca yang hidup dibatang bakbak dan tummung yang dipotong-potong setengah meter. Batang-batang itu direndam di sungai selama 3 hingga 5 bulan lamanya. Begitu sabarnya mereka memulai usaha-usaha.
Untuk mendapatkan toek bisa dengan cara membeli kayu bakbak dan Tummung seharga 50 ribu rupiah untuk kayu kecil dan 75 ribu hingga 100 ribu per batang untuk kayu besar. Ada juga yang menjualnya dengan memasukkan toek kedalam kantong plastik ukuran setengah kilo dan dijual seharga 20 ribu rupiah per kantongnya. Sehari bisa terjual 5 hingga 10 kantong sehari.


Cahaya langit tiba-tiba redup. Udara langsung terasa lembab dan dingin. Saya buru-buru permisi pada Lemi sebab takut kehujanan pulang kerumah tempat saya menginap.
“Sering-seringlah kesini ya, ada kopi dan kalau mau makan langsung saja ke dapur” kata Lemi. Kami berjabat tangan. Jemarinya menggenggam erat jemari saya. Saya teringat ucapan guru SMP saya suatu hari. “kalau mau lihat orang itu tulus atau tidak, lihat erat jabat tangannya” kata guru saya itu.
Sesampai dirumah, saya diberi tahu untuk mengisi semua baterai gawai saya segera karena Sipora akan mati lampu sampai pagi, satu pulau tanpa kecuali! Wow. Coba ketik kata Mentawai di internet, maka muncul semua jualan eksotisme, berita-berita perusahaan kayu yang sudah menghasilkan trilyunan rupiah sejak pertama kali perusahaan-perusahaan itu datang dengan kawalan tentara, dan saya diberi tahu akan ada pemadaman listrik, di tahun ini pula! 2025!



Cerita Firda, Tenaga Kesehatan yang Tetap Ke Sungai dan Ladang
Esoknya saya bertemu Firda Samangilailai, perawat di Poskedes (Pos Kesehatan Desa) Dusun Pogari, Desa Matobe kecamatan Sipora Utara. Firda berusia 28 tahun, lahir di Saureinu, bersekolah di Padang dan kembali ke Saureinu. Di Poskedes status Firda adalah relawan medis. Dia tidak digaji harian, mingguan atau bulanan. Pemerintahnya belum punya anggaran menambah pegawai kesehatan untuk disebar ke seluruh wilayah.
Hari itu dia sedang sibuk melayani lansia yang akan berobat. Sebuah alat pengukur tensi modern teronggok di meja. Ada dua petugas lain yang ikut melayani. Di dalam ruangan sudah menunggu lima pasien menunggu giliran, sisanya diluar duduk di bangku beratap langit mendung.
Agar motornya tetap bisa terisi bahan bakar untuk pergi ke Poskedes, sepulang dari kerja Firda akan ke sungai mencari toek, lokan atau apa saja yang bisa didapat dari sungai. Bisa dibilang sungai Saureinu adalah kantor utamanya, sedang Poskedes adalah pengabdian lepas sekolah perawat. “aku tak digaji bang, makanya aku bisa pulang jam satu atau dua siang untuk bisa ke sungai atau ke ladang” kata Firda.
Kabupaten Mentawai memang masih disokong oleh pemerintah pusat untuk beberapa kegiatan, termasuk kesehatan. “Sebenarnya banyak anak-anak Mentawai ini yang jadi bidan, perawat juga dokter, tapi mau kemana kami? Lowongan tak banyak karena fasilitas masih sedikit” kata Firda lagi.
“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk bikin rumah, sungai sama ladang-ladang kami ini bisa kasih asal tak gengsi,” tiba-tiba suaranya memecah hening kami. Firda kembali ke sungai dan mengolah ladang bukan hanya semata-mata karena ia tak digaji di Poskedes. Setelah ibunya tiada 3 tahun lalu, ladang keladinya terbengkalai karena ia masih kuliah.

“Siapa lagi kalau bukan saya yang melanjutkan mengolah ladang yang biasanya dikerjakan mamak!” katanya lagi. Ayah Firda juga mengolah ladang milik mereka di tempat lain. Mereka berbagi peran mengolah milik keluarga. Kakak-kakak Firda sudah berkeluarga dan jauh dari rumah, hanya ia dan ayahnya tinggal berdua dirumah. Dan di ladangnya dia menanam pinang, kelapa, pisang dan keladi.
“Menanam keladi sudah kayak wajib gitu bang, sebab kami disini kalau dirumah selalu ada Subet,” kata Firda. Subet adalah pangan tradisional yang dibuat dari keladi. Bentuknya seperti onde-onde dengan tekstur lembut. Subet fungsinya sama dengan nasi, dimakan bersama lauk lain seperti ikan gulai dan macam lainnya.
Dari hasil ladangnya saja Firda bisa mendapat sekitar 2 hingga 4 juta sebulan, belum lagi dari hasil sungai seperti menjual toek dan lokan. “Toek itu dijual duapuluh ribu (rupiah) per kantong plastik ukuran setengah kilo. Kalo lokan duapuluh ribu hingga tigapuluh ribu” terang Firda. “Tapi itu musiman aja, tak semua bulan begitu” tambah Firda.
Pada hari yang lain, saya bertemu Firda di pinggir sungai. Dia dan beberapa perempuan sedang menyeret perahu ke darat untuk di parkirkan. Firda baru usai mengambil toek beberapa jam lalu. Sungai bagi Firda harus dijaga karena selain sebagai sumber ekonomi, ada roh yang menjaga keharmonisannya.
“Tak boleh buang sampah ke sungai, mau sampah mie instan, bangkai binatang, tak boleh dibuang ke sungai karena akan mengotori sungai dan kita tak dapat apa-apa kalau si Beulepei marah” kata Firda.
Langit sudah semakin gelap, kami berpisah untuk pulang kerumah masing-masing. Di perjalanan pulang, saya banyak berpapasan dengan barisan perempuan yang menyandang orek berjalan kaki pulang dari ladang. Sepertinya perjalanan pulang mereka lebih banyak diam saja, barangkali penat setelah seharian bekerja, pindah dari ladang ke sungai atau sebaliknya.
Di Sipora, selain Saureinu, perempuan-perempuan Matobe – desa tetangga Saureinu juga setali tiga uang. Para perempuan juga berjibaku di ladang, sungai bahkan laut. Matobe memang terletak di pinggir laut timur Sipora.



Cerita Rina yang Menurunkan Pengetahuan tentang Sungai dan Tanah ke Anaknya
Rina Siriroujou melilitkan kain ke kepalanya. Lalu memakai sepatu bot dan menyandang orek yang berisi parang. Rina hendak ke ladang. Gerimis pagi itu tak membuat niatnya surut.
“Mau panen jengkol ini, sudah waktunya.”
Jarak rumah ke ladangnya lebih kurang dua kilometer. Ia biasa berjalan kaki ke ladang walau tiga motornya nangkring di garasi kecil samping rumah. Usia Rina 55 tahun. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan sungai dan ladang.
Sebelum memanen jengkol, ia terlihat sibuk menebas ilalang yang meninggi. “Ilalang ini harus dipotong terus biar ladang terlihat terang, rapi,” katanya sambil mengayunkan parangnya.
Sesekali membersihkan parang dengan kain yang tersampir di pinggangnya. Rina mengatakan ilalang yang sudah ditebas itu akan dibiarkan saja. “Sebab nanti akan jadi pupuk alami,” kata Rina.
Setelah menebas secukupnya, Rina memanggil seorang pemuda untuk memanjat batang jengkol yang akan di panen. Pemuda itu dengan cepat sampai ke pucuk-pucuk dahan tempat rangkaian jengkol teruntai. Tak perlu lama, satu karung ukuran 50 kg segera terisi dan hampir penuh. Jengkol-jengkol itu nantinya sebagian dijual dan sisanya dikonsumsi. “Kadang saya bagi juga buat tetangga dan saudara yang lain” ujar Rina.
Di bagian lain ladangnya terlihat pohon pinang berjejer rapi. Batang rambutan, kelapa, matoa, pisang dan lainnya memenuhi tengah dan sudut-sudut ladang. Semua itu ia tanam sejak lama bersama suaminya.
“Semua yang ditanam disini saya dan bapak anak-anak yang menanam, sejak dari bibit, kecuali batang-batang sagu karena sudah ada lebih dulu,” Rina menunjuk batang-batang sagu yang berdiri seperti berdesakan. Sagu, selain dimakan juga diolah untuk pakan ternak terutama ternak babi.
“Anakku ada lima, semuanya sarjana. Uang sekolah mereka dari ladang ini lo!” kata Rina sembari menunjuk area ladang dari kiri kekanan. Sebab Rina bisa mendapatkan lebih kurang 5 hingga 7 juta sebulan dari tanaman-tanamannya.
“Ladang harus diolah, kalau tidak, perusahaan kayu akan datang menawarkan janji-janji kaya raya, padahal tak pernah ada yang kaya karena menjual kayu ke perusahaan kayu itu,” suaranya meninggi.
Dia pernah punya pengalaman tak enak soal ini. “Pernah datang perusahaan, mau kasih mobil Pajero asal ladang kami boleh diambil kayunya, tapi saya tolak,” katanya kemudian tertawa keras!
Bagi Robert, anak pertama Rina, Ibunya adalah kamus berjalan dan profesor tani dan ladang.
Rina belajar sedari kecil dari ibu dan bapaknya, yang juga diturunkan dari garis lebih atas lagi. “Kalau mau tanam kelapa yang airnya manis, lihat dulu bulan dan matahari serta arah condong daun tunas kelapa saat menanam,” katanya sambil merentangkan tangan.
Perempuan peladang seperti Rina adalah arsip utama pengetahuan yang akan diturunkan terus menerus. Para penyuluh pertanian kadang mereka ajari sesuai pengalaman yang mereka dapat bertahun-tahun dan dari nenek moyang mereka. Robert pernah tak menuruti cara ibunya, dan hasilnya tak sesuai yang diharapkan.

“Kata Mamak kalau mau buah berasa manis, tanam pohonnya di waktu pagi, kalau di siang hari, buahnya akan masam!” ujar Robert.
“Kalau mau menanam kelapa, lihat bulan dulu dilangit. Kalau bulannya sudah bulat namun belum bulat penuh, segera menanam, jangan tunggu bulan bulat penuh, sebab nanti pengaruh pada hasilnya, bisa tak bagus hasilnya nanti,” sambung Rina.
Ladang atau Mone atau Tinuglu selalu berisi tanaman jangka pendek dan panjang. Rina mencontohkan keladi dan pisang untuk jangka pendek. Keladi dan pisang bisa dipanen dalam tiga atau empat bulan setelah ditanam. Sementara untuk tanaman jangka panjang misalnya jengkol, rambutan, pinang dan kelapa butuh waktu tahunan sebelum mereka berbuah. “tapi kalau sudah berbuah kita tak perlu lagi menanam ulang seperti pisang dan keladi, tinggal tunggu buah selanjutnya saja” kata Rina.

Rina biasanya pergi ke ladang dan sungai bersama Wirda, anak perempuannya yang sudah berusia 28 tahun. Mereka juga ke sungai mengutip lokan seukuran telapak orang dewasa. Matobe yang pinggir laut itu juga membuat para perempuan mencari ikan di tepi pantai dengan alat tangkap bernama Panu yang dibuat dari jaring ikan dan ditopang dengan bilah bambu panjang. Alat ini berukuran empat meter persegi dan dioperasikan oleh satu orang saja. Sayangnya beberapa hari disana badai melanda Sipora dan tak ada kaum ibu yang membentangkan Panu di pinggir laut Matobe.
Rina juga mengingatkan bahwa perempuan atau orang-orang Mentawai harus menjaga sungai karena ada ruh penjaganya.. “Kalau kita buat salah mengotori sungai, bisa hilang kita di sungai itu,” katanya.
Lemi, Firda dan Rina adalah wakil perempuan-perempuan Sipora yang jarang tercatat konon apalagi dibicarakan. Mengajarkan saya untuk moile-moile, pelan-pelan saja, karena waktu akan berjalan sebagaimana mestinya. Kerja keras membuktikan segalanya dan tidak harus dengan berteriak kemana-mana.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Roehana Project dan Project Multatuli untuk koleksi “Jendela Perempuan“
Don’t miss our future updates! Get Subscribed Today!
©2025. Roehana Project
