Teks dan foto: Jaka HB
Fathul Mubin (43) Ketua KTH Wono Lestari mengenang bagaimana masa kecilnya di Air Sugihan Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan melihat gajah dan sapi makan di lahan yang sama. Dia pun sering mendekati gajah dan tak ada reaksi yang membahayakan. Namun, reaksi gajah di lanskap Alam Bukit Tigapuluh berbeda. Konflik berkepanjangan manusia dan gajah, memberi ingatan buruk pada elephas maximus sumatrensis itu.
DI wilayah ini, perjumpaan manusia dan gajah Sumatera kerap menegang. Bukan karena gajah berubah jadi hama, melainkan karena adanya penumpukan ruang hidup antar keduanya.
Riset KKI Warsi, Frankfurt Zoological Society dan Eyes on the Forest, dan WWF-Indonesia melaporkan lanskap ini dulunya terhubung dengan hutan lain di Sumatera. Namun pada periode 2008/2009 telah menjadi blok terisolasi yang dikelilingi perkebunan dan lahan terdeforestasi.
Padahal, lanskap ini adalah salah satu benteng terakhir gajah Sumatera. Sebab sekitar 150 gajah hidup bersama harimau, orangutan yang direintroduksi dan masyarakat adat Talang Mamak dan Orang Rimba. Namun, hutan dataran rendahyang disukai gajah justru banyak berada di luar taman nasional dan rentan berubah jadi konsesi, perkebunan serta pemukiman.
Pada titik ini lah konflik bermula. Bukan dari gajah yang tiba-tiba menjadi musuh warga, tetapi sebab lanskap yang berubah dan memaksa manusia serta satwa liar bertemu dalam ruang yang makin sempit.
Suyatmi (50) ingat betul ketika suatu malam dia bergumam.
“Minta ampun mbah, cucunya di sini nangis mbak,” gumamnya.
Perempuan yang berdarah Jawa dan lahir di Sumatera Selatan itu menggumam karena terdengar suara rumah seberang seperti dihantam-hantam sebuah benda besar. Lantas dia keluar dari belakang rumah dan lari ke arah pemukiman warga. Waktu itu dia baru saja pindah ikut suaminya, Kateman (67), dari Sumatera Selatan, pada 2013.
Sekitar 2011 hutan-hutan dibuka dan berubah menjadi pemukiman. Orang-orang dari jauh mencari penghidupan baru di Tebo. Mereka masuk dari Simpang Niam, Tebo, dua jam ke dalam wilayah Lanskap Bukit Tigapuluh dan berkebun di sana. Tak menyangka tanah di sana agak keras, mereka tetap berusaha hidup. Namun ternyata tempat yang mereka jadikan rumah adalah wilayah jelajah gajah-gajah Sumatera. Konflik berkali-kali terjadi. Namun karena semua sudah terlanjur, jalan tengah mau tidak mau harus dibedah dan diterapkan.
“Ndak, kami ndak benci sama gajah. Cuma takut saja,” kata Suyati (70). “Saya tak pernah lihat langsung. Tapi suaranya sering terdengar dan kami disuruh lari ketika ada tanda-tanda mereka datang.”
Suyati adalah satu-satunya perempuan dalam Kelompok Tani Sepenat Unggul di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo. Dia memiliki sedikit kebun karet yang dulunya juga terancam dirusak gajah. Kini dia menanam jeruk, durian dan alpukat.
Selain itu satu jenis tanaman yang ditanamnya adalah kayu meranti. Bibit-bibit itu adalah bantuan dari WWF Indonesia untuk ditanam agroforestri di kebunnya.
Suyati mengatakan dahulu ketika ada gajah waga akan mengusirnya dengan mercon atau bunyi-bunyian besar. Jika satwa ini datang rombongan besar maka itu dilakukan dari jauh.
Beberapa warga Desa Muara Kilis memasang kawat dengan bantuan baterai untuk memagari sawit-sawit dan karet mereka. Namun semua itu memang memakan biaya besar. Kalau rusak kadang harus diganti lagi.
Jalan Tengah untuk Fragmentasi Habitat
Nazli Herimsyah Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia mengatakan secara keseluruhan, tekanan yang paling dominan terhadap keberlangsungan Landscape Bukit Tigapuluh adalah perubahan tutupan lahan yang menyebabkan fragmentasi habitat.
“Yang kemudian memicu meningkatnya konflik manusia dan satwa liar, khususnya gajah Sumatera, yang mengakibatkan kerusakan tanaman, kerugian ekonomi masyarakat, hingga ancaman terhadap keselamatan manusia dan satwa. Kedua tekanan ini saling berkaitan dan menjadi akar berbagai permasalahan konservasi di Landscape Bukit Tigapuluh,” katanya.
Kondisi itu yang kemudian menjadi latar belakang program restorasi berbasis masyarakat di lanskap Bukit Tigapuluh.
“Program restorasi berbasis masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan ekologis dan sosial secara terpadu.”
Dia mengatakan pendekatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, memperkuat pengelolaan kolaboratif, serta memastikan keberlanjutan konservasi melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan landscape.
“Dengan demikian, restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landscape yang berkelanjutan.”
Dia mengatakan hingga Juni 2026 Program Restorasi Berbasis Masyarakat menunjukkan perkembangan yang positif.
Nazli mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari 30.000 jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup tanaman (setidaknya memiliki survival rate 80%). Namun juga keterlibatan aktif masyarakat yang mencakup 7 kelompok Masyarakat di 2 Desa yaitu Suo-suo dan Muara Kilis.
“Dengan 112 masyarakat terlibat), penguatan kelembagaan lokal, serta kontribusinya terhadap pemulihan fungsi ekosistem dan pengurangan tekanan terhadap habitat satwa liar (setidaknya berkonstribusi pada 163,62 ha).”
“Indikator-indikator tersebut akan terus dipantau secara berkala melalui kegiatan monitoring dan evaluasi dengan aplikasi reconnect+ untuk memastikan keberlanjutan hasil dalam jangka Panjang,” katanya.
Meskipun begitu tak seluruh tanaman lancar tumbuh. Ada pula tanaman-tanaman yang mati. Seperti pada beberapa kebun masyarakat yang tanaman meranti atau alpukatnya yang tidak berhasil tumbuh.
Nazli mengatakan kematian tanaman merupakan hal yang umum dijumpai dalam kegiatan restorasi, terutama pada fase awal setelah penanaman.
“Penyebabnya yang dijelaskan oleh Masyarakat sangat beragam, diantaranya adalah banjir akibat hujan terus menerus yang terjadi pada bulan maret hingga April 2026 lalu, kemudian tanaman yang tertimbun oleh lumpur, kemudian tanaman kekeringan karena jauh dari sumber air.”
“Ada juga faktor kualitas bibit karena bibit yang membutuhkan aklimatisasi/penyesuaian akibat bibit berasal dari cabutan (bibit yang belum siap tanam pada Lokasi penanaman), gangguan hama dan penyakit.”
Sebab itu WWF meminta masyarakat menyediakan 20% jumlah bibit akan disulam untuk bibit-bibit yang mati, kemudian secara berkala dilakukan perawatan seperti penyiraman atau pemberian pupuk kompos tambahan, dengan demikian ownership/rasa kepemilikan akan meningkat untuk menjaga atau merawat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
