Melihat Doa Amak Bekerja Saat Puasa di Rantau

Penulis: Rega Maulana

Ramadhan dua tahun lalu, aku masih berstatus sebagai karyawan magang di sebuah start-up. Mereka menggaji seratus ribu per-hari, Sabtu dan Minggu kadang masuk tetapi tidak dibayar. Aku tak pernah menerima gaji lebih dari dua juta dalam satu bulan karena saat itu kalender banyak tanggal merah.

Aku merasa dihajar dari berbagai sudut. Pulang dari kantor ke kos habis di jalan selama dua jam. Selama perjalanan diteror chat “Eh, bikinin caption buat postingan ini dong”. Karena saat itu bulan puasa, aku menyiram kerongkongan dengan air putih yang dibawa dalam Tupperware warisan Amak saat azan maghrib berkumandang. Biasanya posisi bus masih di Pondok Indah. Tidak ada pedagang asongan di bus 8 rute Pasar Baru-Lebak Bulus. Lenteng Agung masih jauh. 

Cacing di lambung sudah mengeluh. Perut makin diperas serupa cucian yang belum dikeringkan karena makin berpeluh. Hawa dingin di dalam busway bercampur bau peluh para pekerja pada penumpang yang berdesakan. Perjalanan ini belum usai. Aku harus menyambung angkutan lagi setelahnya, transit lanjut naik bus D21. Ini baru setengah perjalanan untuk pulang.

Pintu gang terlihat dari kejauhan, aku membuka gorden warung makan langganan yang ternyata tidak berjualan. Aku memutar arah, terlihat satu pintu rumah terbuka. Sebuah keluarga sedang berbuka bersama, satu orang ayah, satu orang ibu, dan satu orang anak perempuan yang terlihat baru menginjak usia remaja sedang menyuapi adik laki-lakinya. Pemandangan itu membuat ingatanku terlempar ke belakang.

Dua tahun lalu aku masih berada di rumah, Amak pada saat itu masih rewel memintaku untuk beli pabukoan dan takjil untuk berbuka puasa. Aku masih melihat Apak yang berbalut pakaian serba putih dan sarung Cap Gajah berwarna coklat dengan motif kotak-kotak sebagai persiapan berangkat ke surau. 

Saat itu, Ramadhan tahun 2022. Semua terlihat biasa saja, dan ternyata itu adalah Ramadhan terakhirku satu bulan penuh di kampung halaman karena tahun setelahnya aku menghabiskan Bulan Ramadhan di Pulau Sumba, di sebuah kampung yang belum tersentuh listrik seutuhnya. Dan selanjutnya di Jakarta. Kota yang hari ini aku tinggali. 

Tak jauh dari pintu rumah keluarga Jakarta tadi, sebuah warung soto bogor terlihat di sudut tikungan yang mulai kehilangan sinar matahari. Gang sempit ini perlahan dilahap gelap. Waktu maghrib sudah hampir lewat, ibu penjaga warung seakan menyadari langkah kaki pembeli yang berayun membawa rupiah. Aku ingat persis, warung ini biasanya jarang buka, tapi mungkin kali ini memang ia yang ditugaskan oleh takdir untuk menyambutku. 

Aku bersandar pada tiang warung persis di sebelah wadah kerupuk kalengan yang sudah berdebu. Barangkali sudah tidak ada yang mengantar kerupuk karena warung ini sangat jarang buka.

“Satu porsi berapa bu?” ucapku

“Dua puluh ribu om”

Aku sedikit terdiam. Mampus, uangku hanya tersisa sekitar Rp37.000 untuk satu minggu lagi. Aku ingat nominal ini karena kemarin malam aku beli ayam goreng bagian paha atas seharga Rp13.000 tanpa nasi memakai rupiah berwarna biru. Ayam itu aku bagi dua untuk berbuka dan untuk sahur. Angka kembalian ini pula yang aku bawa di saku belakang. Tanpa aba-aba si ibu masuk ke dalam warung, lalu memberikanku segelas teh manis hangat. 

“Terima kasih Bu. Tapi Bu, maaf, saya bisa beli setengah saja? Jadiin porsinya untuk porsi lima belas ribu, ga masalah ga pake daging, yang penting banyakin kuahnya Bu, soalnya bakal dimakan untuk sahur juga”. Seperti orang yang tak tau diri, kalimat itu terlontar. 

“Udah Om, minum dulu aja, jalan darimana keringetan gitu? Pasti belum berbuka ya? Minum dulu aja.” Insting seorang ibu memang tidak pernah meleset, ucapannya tepat.

Aku tak banyak berkata-kata saat itu, melamun, kosong. Tidak punya tenaga untuk berbasa-basi lagi 

“Om, udah jadi!” lengkingan si ibu memecah lamunanku serupa debur ombak yang membuat kepiting berhamburan. Aku memberikan satu lembar uang Rp20.000. Sesuai dengan harga yang disebutkan di awal dan perlahan bangkit dari tempat duduk. Belum sempat mengucapkan terima kasih, si ibu mengagetkanku kembali.

“Bentar om!” aku baru ingat, aku belum bayar teh anget yang dihidangkan. Aku merogoh saku kembali, si ibu membuka kaleng wafer yang digunakan sebagai mesin kasir. Ia memberikanku uang Rp10.000 sebagai kembalian. 

“Ini Om, pinter-pinter ya simpan duitnya.”

“Teh angetnya gimana Bu?”

“Udah gapapa”

“Terima kasih Bu, semoga rezekinya lancar selalu”

Si ibu tersenyum, membiarkanku berlalu, mataku sembab sambil berandai-andai bahwa ibu penjual soto itu adalah wujud doa Amak yang terkabul untuk keselamatanku di rantau. Tanpa sadar kelopak mataku basah. Aku rindu membeli pisang santan kesukaan Amak, aku rindu melihat Apak dengan setelan ke surau, aku rindu berbuka di rumah dengan saudaraku, dimarahi Amak karena sibuk dengan ponsel sehingga lupa waktu berbuka—saat itu juga aku ingin pulang ke rumah. Langkah kakiku berat, aku takut ditertawakan oleh anak kecil yang tadi disuapi kakaknya karena ia saja jarang menangis. Aku takut ia melihatku dan berteriak “jadi cowo kok cengeng”, lalu reputasiku hancur di mata penghuni gang sempit itu.

Langkahku yang berat mengantarkanku ke kos teman yang aku tumpangi—kos Abel. Bersama Cagur kami berbagi ruangan bertiga. Bagiku, peran Abel lebih penting daripada negara yang saat itu membiarkanku luntang-lantung. Barangkali jika ia punya bendera sendiri, aku pasti bakal bersedia menjadi serdadu tunggal di teritorial kosan sebesar 3×3 tersebut.

Waktu berbuka sudah lewat satu jam lebih. Aku membuka soto yang tadi kubeli. Si ibu ternyata tetap memasukkan potongan daging ke dalamnya, porsinya aku bagi dua. Untuk berbuka dan untuk sahur. 

Potongan daging lebih banyak aku sisihkan untuk porsi sahur. Aku harus segera memasak nasi karena waktu istirahatku tidak banyak—harus bangun sahur saat subuh dan langsung berangkat kerja, mengingat perjalanan dua jam lebih.

Aku memilih naik busway karena tidak sanggup harus transit tiga kali di jalur kereta. Biayanya juga lebih mahal, naik angkot dulu, lalu turun di stasiun, sambung kereta menuju Manggarai, menjelma zombie, transit kembali di Tanah Abang, lanjut kereta menuju Kebayoran Baru, lalu sambung busway rute 8. Membayangkannya saja sudah membuat puasa hampir batal. Waktu tempuh juga tidak berbeda jauh.

Sebelum rutinitas itu dijalani, aku menakar beras yang akan dimasak. Belum sempat memencet tombol rice cooker menjadi switch, sebuah notifikasi masuk.

“Reg, caption-nya udah jadi?”

Kapitalis sialan, bahkan aku belum sempat mengisi perutku.



    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi