Penulis: Y Thendra BP | Foto: Y Thendra BP
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) baru panen disortir oleh tangan-tangan kaum ibu. Lalu jenis jamur yang kaya protein dan asam amino esensial itu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Ditimbang beratnya 2 ons.
Sekitar sepenanakan nasi, tujuh orang ibu tersebut selesai membungkus jamur tiram di lantai bertikar plastik di ruang depan 4×5 meter yang berdinding triplek. Cahaya matahari siang, Sabtu (7/3/2026), berhamburan masuk lewat dua jendela dan satu pintu terbuka ke ruang itu.
“Hari ini kami panen 4 kilogram jamur tiram dan siap dipasarkan kepada masyarakat,” ujar Lita Purnama Sari (38).
Jamur berbentuk bak cangkang tiram berwarna putih itu adalah jenis jamur kayu konsumsi yang populer. Teksturnya kenyal dan rasanya gurih.
Sejak empat tahun lalu budidaya jamur tiram itu dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Harapan Asri, Jorong Tanah Bato, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. Rata-rata memanen 2-5 kilogram jamur per harinya.
Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu. Secara alami bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan berhawa sejuk Tubuh buahnya bertumpuk di permukaan batang pohon lapuk atau pokok batang pohon sudah ditebang.
Selain itu, jamur tiram bisa dihasilkan melalui budidaya baglog. Serbuk gergaji, dedak, dan kapur dolomit dicampur. Takaran airnya disesuaikan hingga lembab–tidak pecah saat dikepal. Lalu campuran itu dimasukkan ke plastik PP, dipadatkan, sterilisasi dengan kukus selama 8 jam, diberi bibit (inokulasi), dan diinkubasi.
KUPS Harapan Asri membudidayakan jamur tiram dengan cara baglog. Awalnya mereka belajar secara otodidak. Referensinya dari YouTube dan media daring.
Baglog jamur tiram adalah media tanam (serbuk gergaji, dedak, kapur) padat berbentuk silinder yang dibungkus plastik, tempat tumbuh dan berkembang biaknya jamur tiram. Satu baglog (1 kg) dapat menghasilkan 700-800 gram jamur.
“Mula-mula kami buat 50 baglog. Ada yang berhasil. Dari situ, kami terus belajar,” ungkap Lita.


Modal awal pertama budidaya jamur tiram itu dari patungan anggota KUPS Harapan Asri. Masing-masing Rp20 ribu. Pada tahun pertama hasil budidaya itu digunakan untuk meningkatkan modal usaha. Kemudian tahun selanjutnya bisa bagi hasil untuk anggota yang seluruhnya kaum ibu.
Dalam enam bulan ini mereka membuat baglog dua kali dalam seminggu (Sabtu dan Minggu). Hari pertama 100 baglog dan hari kedua 150 baglog. Bahan utama seperti serbuk gergaji mereka dapatkan dari perabot dan sawmill kayu di Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung–ada puluhan sawmill kayu beroperasi di kecamatan ini.
Usaha mereka pun berkembang ke kuliner siap santap seperti rendang jamur tiram, martabak jamur tiram, dan nugget jamur tiram. Selain itu, mereka juga menjual baglog siap pakai.
Sementara rumah produksi jamur tiram KUPS Harapan Asri berukuran 17×5 meter adalah hibah pakai dari salah satu warga. Ruang belakangnya, dapur produksi jamur tiram. Ruang depannya, tempat mengemas hasil panen dan diskusi.
Di dinding triplek ruang depan masih ditempeli sticky note (catatan tempel) yang berkaitan dengan hutan seperti pemberdayaan, instansi pemangku kepentingan dan lembaga masyarakat, dan ancaman deforestasi–invasi lahan sawit, penambangan emas tanpa izin, dan illegal logging. Jejak dinding triplek itu menunjukkan bahwa KUPS Harapan Asri tidak semata-mata usaha jamur tiram, tetapi juga kelompok edukasi lingkungan bagi kaum ibu.
Ibu merupakan tempat awal bagi anak belajar mengeja dan mengenal dunia. Jika kesadaran lingkungan terbangun dalam sosok ibu bakal berdampak pula kepada anak-anaknya. Ibu yang melahirkan anak-anaknya bertumbuh menjaga lingkungan. Apalagi kaum ibu di Minangkabau adalah Limpapeh Rumah Gadang, memiliki peran penting dalam ruang domestik (rumah) dan luar pagar (sosio-kultural).
Lita mengatakan KUPS Harapan Asri dibentuk oleh LPHN (Lembaga Pengelola Hutan Nagari) Sijunjung pada tahun 2021.
“Anggotanya kaum ibu dari berbagai latar belakang seperti petani, pedagang, dan ibu rumah tangga.”

Ginartisuardi (36) selaku anggota KUPS mengatakan para ibu yang biasanya hanya di rumah saja, bisa dapat tambahan penghasilan. “Bisa untuk beli keperluan ibu-ibu di rumah tangga. Kalau tahun kemarin ibu-ibu itu sudah menerima hasilnya dan bisa dibeliin kayak karpet, kebutuhan rumah tangga, kalau sekarang ibu-ibu juga bisa beli lemari,” katanya.
Selain Lita dan Ginarti, hadir pula Wili Darni, Gusneti dan Vera Riswati yang merupakan anggota KUPS. Lita mengatakan anggotanya ada 10 perempuan, namun karena ada kesibukan lantas tidak bisa hadir.
Ketua LPHN Sijunjung Meci Andinas (37) mengatakan awal dibentuknya kelompok yang anggotanya khusus induak-induak (kaum ibu) ini untuk usaha panambah-nambah pitih balanjo (tambahan ekonomi keluarga) di kampung. Anggota awalnya cukup ramai yaitu 40 orang. Kemudian dibuatlah produksi jamur tiram yang kala itu sedang viral dan tidak membutuhkan bajet besar. Dari kelompok usaha induak-induak ini berkembang menjadi KUPS Harapan Asri.
“KUPS Harapan Asri ini juga sinkron dengan kami, LPHN Sijunjung, yang bergerak di bidang perhutanan sosial,” ujarnya.
Meci juga mengatakan budidaya jamur tiram KUPS Harapan Asri adalah usaha yang bisa menggerakkan ekonomi tanpa merusak hutan, mencemari sumber air dan lingkungan hidup.
Saat ini luas hutan produksi Nagari Sijunjung adalah 2.591 hektare. Kawasan hutan itu meliputi Jorong Tanah Bato, Padang Ranah, Pudak, dan Gantiang–yang paling luas di JorongTanah Bato dan Gantiang. Seluruh masyarakat Nagari Sijunjung bergantung dengan hutan tersebut untuk sumber air dan sumber pangan.
“Kawasan hutan nagari itu mengalami penyusutan, berdampak pada debit air berkurang, air irigasi berkurang, sehingga masyarakat Sijunjung biasanya panen padi dua kali dalam setahun, bahkan kini banyak yang gagal panen,” ujar Meci, Minggu malam (8/3/2026).
Dalam hutan Nagari Sijunjung mengalir berbagai batang air, salah satunya Batang Singonyang yang mata airnya dari Rimbo Sako. Namun kata Meci, Batang Singonyang dalam 2-3 tahun ini sempat alami kekeringan akibat deforestasi. Padahal sebelumnya tidak pernah kering.
“Malahan beruang madu dari hutan nagari sudah memasuki kawasan kampung dalam minggu ini karena habitatnya sudah rusak. Untungnya tidak ada penduduk yang jadi korban,” tambahnya.
Dari pantauan LPHN Sijunjung hampir 50 persen kawasan Hutan Nagari Sijunjung habis atau tidak lagi steril. Deforestasi itu disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit yang dimiliki perorangan dan pembukaan jalan di kawasan hutan. Ironisnya kini hampir seluruh perkebunan sawit itu dikuasai bukan oleh masyarakat Nagari Sijunjung karena sudah terjual ke pihak luar.
“Kawasan hutan itu awalnya dimiliki, istilahnya urang kampuang oleh sosok (kaum) kemudian dari sosok tersebut dibagi per individu,” kata Meci.
Sementara itu, belum ada kesepakatan adat oleh ninik mamak tentang alih fungsi lahan di Hutan Nagari Sijunjung. Meski begitu sudah muncul kekhawatiran masyarakat, sehingga akhir-akhir ini dilakukan dialog dengan Perangkat Nagari Sijunjung untuk merancang aturan tentang hutan nagari. Tetapi rancangan itu belum ditetapkan.
Selain sebagai sumber mata air dan sumber pangan, dulu Hutan Nagari Sijunjung merupakan sumber kayu untuk pembangunan maupun renovasi rumah gadang.
Di Nagari Sijunjung terdapat perkampungan adat yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. 76 rumah gadang peninggalan abad ke 16-17 masehi berjejer menghadap jalan di Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato. Sebagian besar rumah gadang itu masih dihuni oleh kaum dari enam suku. Berbagai peristiwa budaya pun masih berlangsung di perkampungan adat ini seperti batagak gala, baralek adat, mambantai adat, bakaua adat hingga festival kekinian seperti Festival Matrilineal dan Festival Kampung Adat Mendunia.
Namun kondisi saat ini sumber kayu baru makin sulit didapatkan di Hutan Nagari Sijunjung untuk mengganti kayu rumah gadang yang sudah lapuk.
“Kami punya hutan nagari seluas 2.591 hektare, tetapi bila rumah gadang rusak terpaksa beli kayu dari daerah lain. Ini lucu rasanya,” katanya.
Lita mengatakan bahwa KUPS Harapan Asri juga mendapat pendampingan dari WALHI Sumbar. Usaha mereka merupakan alternatif pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berbasis produksi rumahan.
“Dari awal proses, kami mendapat pendampingan dari Bu Winda dan Pak Andre dari WALHI Sumbar. Bagaimana pengembangan kelompok dan usaha,” katanya.
Lita mengatakan pula KUPS Harapan Asri mendapat dana hibah untuk pengembangan usaha dari KKI WARSI Jambi pada tahun 2025.
“Dari pihak WALHI Sumbar mengusulkan agar kami mengajukan proposal dana hibah itu kepada KKI WARSI Jambi,” ujarnya.
Bagaimana dana hibah dari pemerintah untuk usaha mereka? Lita mengaku hingga saat ini belum ada.
***
Winda Dalmi Susanti (30) dari WALHI Sumbar mengatakan selama kurang lebih 2 tahun Staff WALHI, salah satunya Andre Bustamar (27), mendampingi KUPS Harapan Asri dari penguatan kelembagaan kelompok hingga penambahan kapasitas anggota kelompok untuk bisa memobilisasi dukungan dan menggalang sumber daya lokal.
“Berkaitan dengan penambahan kapasitas, WALHI Sumbar dampingi anggota KUPS tersebut untuk pelatihan produksi bibit F1 jamur tiram yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam produksi jamur,” terangnya.
Kemudian anggota kelompok juga didorong untuk menjadi perempuan penggerak. Caranya dengan melaksanakan FPAR di tingkat tapak. Jadi FPAR (Feminist Participatory Action Research) ini riset partisipatif yang berdasarkan pada pengalaman perempuan di tingkat tapak. Tujuannya akhirnya adalah bagaimana perempuan mau ikut serta berperan aktif dalam perumusan kebijakan, minimal di tingkat nagari.
Menurut Winda bahan baku untuk media tanam jamur di Sijunjung relatif mudah didapat dan murah, sehingga minim modal dan berpotensi untuk terus dikembangkan.
“Berkaitan dengan permintaan pasar atas jamur tiram segar sangat tinggi. Di Sijunjung sendiri kalau tidak salah baru ada 2-3 Rumah Produksi Jamur Tiram (2-3 Kelompok), salah satunya adalah KUPS Harapan Asri,” ujarnya.
Lebih lanjut Winda mengatakan pada tahun 2024 permintaan yang masuk ke KUPS Harapan Asri berjumlah 1.200 baglog, sedangkan yang mampu di produksi pada waktu itu hanya sekitar 270 baglog. Ini menggambarkan permintaan pasar yang besar terhadap jamur segar ataupun permintaan terhadap baglog jamur. Belum lagi soal produk olahan jamur tiram, misalnya rendang, martabak jamur, dll.
Sementara itu, kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sarana dan prasarana budidaya jamur tiram seperti alat sterilisasi untuk produksi bibit jamur, keterbatasan alat press baglog, dan keterbatasan modal untuk memperluas dan memperbaiki bagian dapur rumah produksi. Hal ini akan mempengaruhi untuk pengembangan produk turunan, spesifik dalam pengurusan PIRT.
Terkait lingkungan, papar Winda, KUPS Harapan Asri memanfaatkan limbah menjadi suatu produk yang bernilai ekonomi, seperti serbuk kayu, dedak padi, dan ranting pohon–secara tidak langsung mengurangi limbah organik.
“Budidaya jamur tiram merupakan usaha yang ramah lingkungan, tidak perlu merusak hutan untuk mendapatkan nilai ekonomi, juga tidak menghasilkan limbah berbahaya,” ujarnya.
Selain itu, nilai ekonomi yang didapat dari KUPS akan mendukung kerja-kerja LPHN (Lembaga Pengelolaan Hutan Nagari) Sijunjung, yaitu perlindungan hutan dan rehabilitasi kawasan hutan.
*Liputan ini kolaborasi dengan Jendela Perempuan Project Multatuli
