Grup Facebook, Tuak, Biduan dan Kerusuhan, Ini Pengalaman Saya Saat Jadi Anggota Remaja Pecinta Orgen Tunggal di Payakumbuh

Meninggalnya seorang kawan saya ketika menonton orgen tunggal  menjadi luka mendalam bagi saya dan siswa MTSN Gadut Bunga Setangkai lainnya. Kabar yang disampaikan oleh orang tuanya kepada pihak sekolah mengejutkan. Padahal sebelum meninggal saya masih bercerita dengannya perihal tugas sekolah sambil menghisap rokok surya. Ternyata nasib berkata lain, mungkin sudah takdirnya, kata salah seorang guru.

Ini merupakan cerita saya ketika menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 2014. Saya punya seorang teman  kelas namanya Miko. Miko merupakan salah satu pria idaman para wanita dengan tinggi 187 cemetir sedikit kumis tipis dan alis tebal. Dia punya hobi  nonton orgen tunggal, setidaknya satu kali dalam satu minggu.

Berawal dari cerita Miko, saya mencoba mencari sebuah grup facebook. Grup itu bernama Report. Akronim dari Remaja Pecinta Orgen Tunggal. Miko bercerita Report banyak diisi anak muda dan perkumpulan pecinta orgen  di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

Langkah pertama saya bergabung dengan grup Facebook Report, setelah disetujui oleh admin barulah bisa melihat apa pembahasannya. Saya cek memang sama seperti yang dikatakan Miko, grup Report isinya banyak  anak-anak muda umurnya kisaran 19 tahun sampai 25 tahun, itu terlihat dari perawakan wajah di foto profil. Grup Report memiliki 100 orang anggota aktif. 

Para anggota grup selalu aktif berbagi lokasi organ tunggal, sekali-kali ada yang menjual barang seperti handphone. Setiap malam minggu grup ini bakal heboh setiap malam minggu, pasti ada yang bertanya lokasi organ tunggal dimana, “Dima orgen malam ko sanak,” tulis salah satu anggota grup, beberapa menit ada yang menyautnya dan mengirimkan jadwal orgen tunggal. 

“Jadwal Idola DJ, tanggal 08 Januari 2016 di Tanjung Pauh, 09 Januari di Balai Batuang, 10 Januari Danguang Gaduik, itulah jadwal sementara,” tulis akun bernama Refki.

Saya merasakan hal berbeda di sini daripada grup facebook lainnya. Anggota grup ini sangat ramah. Sesama anggota grup biasa memanggil anggota lainnya dengan sebutan sanak atau dunsanak, bahasa minang-nya saudara.

Kota Payakumbuh punya dua grup Facebook orgen tunggal, satu lagi bernama Repogal (Remaja Pecinta Orgen Tunggal). Namun, Repogal tidak seeksis Report  jika dibandingkan dari peserta grup. Report memiliki anggota 15 ribu lebih anggota sedangkan Repogal hanya 5 ribu.

Setelah lama bergabung  grup facebook Report, saya memutuskan untuk mencoba datang ke lokasi orgen di Nagari Mungo, Kabupaten Lima Puluh Kota. Bersama dua teman satu kampung Irsyad dan Rama, kami berjanji untuk berkumpul pada 20.00 WIB di warung tempat biasa nongkrong. Satu hal yang wajib sebelum berangkat saya mencari baju kemeja warna warni dan celana jeans yang sedikit diketatkan yang sedang trend pada tahun 2010-2015.

Tepat pukul 20.00 WIB dua teman saya sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan. Saya melihat ada dua orang lagi yang bergabung dengan kami untuk menyaksikan orgen tunggal, kami berempat menggunakan kemeja dengan motif kotak-kotak dan celana jeans sedikit ketat ke bawah.  Bermodalkan uang 15 ribu kami berangkat menuju Kenagarian Mungo di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan jarak tempuh 15 menit.

Berjarak 900 meter dari lokasi orgen, kami sudah mendengar suara alunan musik dj dan lampu kelap kelip bak di diskotik. Biasanya musik Dj akan dimulai pada pukul 22.00 WIB setelah yang punya acara selesai melaksanakan hajatannya.

Sampai di lokasi, saya melihat ratusan anak muda laki-laki dan perempuan sudah berkumpul bersiap untuk bergoyang dengan iringan suara  biduan yang terlihat menggunakan baju gaun berwarna merah di atas panggung berukuran . Ada juga yang membawa pasangannya untuk menonton organ tunggal.

Musik yang menjadi favorit ketika itu  Dj Morena mulai diputar (itulah sebutan musiknya), diiringi cahaya lampu berwarna hijau, merah dan putih seperti di diskotik, satu persatu tangan peserta orgen di angkat ke atas dengan diputar.

Karena ini pengalaman pertama, saya sangat menikmati grup musik tersebut, tiba-tiba kawan saya menarik mengajak untuk ikut bergoyang di depan panggung. Sambil tangan diangkat ke atas  saya menikmati musik dan  bergoyang sekitar 1 jam lebih. Merasa sudah lelah saya mulai ke belakang untuk mencari posisi untuk duduk sambil menjulurkan kedua kaki.  

30 menit kemudian, seorang kawan sekolah menghampiri dengan menggenggam sebuah kantong plastik berwarna hitam dengan sedotan, lalu menyodorkan kepada saya. Saya mengira cairan di dalam kantong plastik itu tuak, karena baunya yang menyengat seperti telur busuk. Tuak merupakan minuman tradisional yang katanya memabukan dengan harga terjangkau bagi kalangan anak muda. Harga tuak kisaran 5 ribu sampai 10 ribu per satu bungkus plastik jauh lebih murah dari anggur merah orang tua.

Tuak juga menjadi pelengkap dalam acara orgen tunggal, ada yang kurang rasanya jika tidak ada minuman tradisional tersebut. Setiap penikmat orgen tunggal biasanya tau dimana lokasi orang menjual tuak. Kalau di Payakumbuh tuak yang paling terkenal adalah tuak naga yang terbuat dari fermentasi ubi-ubian dan air batang anau.

Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB, saya bertambah hanyut dengan alunan musik yang diputar. Para peserta melihat ada peserta yang sudah teler dan berjalan sempoyongan sambil memegang plastik kresek yang di atasnya ada sedotan plastik.

Tiba-tiba musik orgen berhenti, muda-mudi yang tadinya bergoyang mencoba untuk bernegosiasi kepada pemain musik agar tetap dilanjutkan pertunjukannya. Tetapi, mereka mengatakan, musik orgen berhenti karena permintaan yang punya acara, mereka khawatir akan terjadi perkelahian sebab sudah banyak dari peserta yang tidak sadarkan diri.

Akhirnya, para hadirin paham dengan kondisi tersebut, mereka satu per satu pergi meninggalkan lokasi organ tunggal, tidak sedikit juga tetap bertahan untuk sekedar beristirahat. 

Kematian Kawan yang Mengejutkan 

Saya lupa persis kapan kejadiannya, sekitar 2014 atau 2015. Seorang kawan di SMP dikabarkan meninggal karena berkelahi ketika menyaksikan orgen tunggal. Saat meninggal kawan itu ditemukan berlumuran darah dan kepalanya bocor. Ada kabar mengatakan, sebelum meninggal dia sempat dipukul dengan kayu balok yang ujungnya tertancap paku.

Setelah mendapatkan kabar tersebut, pembelajaran langsung ditiadakan hari itu dan, kami secara bersama-sama mendatangi rumah kediaman kawan untuk mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. 

Dari cerita yang meluas di sekolah, perkelahian itu disebabkan aksi saling senggol saat bergoyang,. Perkelahian yang awalnya hanya aksi saling dorong ketika bergoyang hingga pukul-pukulan, sampai berujung kepada pertarungan antar kampung yang sebelumnya telah memanas.

Setelah kejadian itu, perselisihan antar kampung Nagari Mungo dengan Nagari Taram semakin panas, beredar isu akan terjadi tawuran. Namun hal itu dapat diredam oleh tokoh masyarakat dengan cara mediasi dan membuat perjanjian dari kedua belah pihak. Mereka sepakat menyelesaikan permasalahan ini dengan cara damai.
Walaupun telah merenggut jiwa seorang anak muda,  hal itu tidak menghentikan aktivitas Report, sampai tahun 2016 grup Facebook tersebut masih aktif dan pengikutnya bertambah banyak. Persinggungan antar kampung A dengan B tetap saja terjadi. Tak sedikit dari acara orgen tunggal yang berujung chaos.

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi