Gasiang Tangkurak: Bawa Dia Sujud ke Kaki Denai

Penulis: Rio Jo Werry*

Tiap-tiap orang di kampung kami meyakini: kau tak perlu percaya pada tiap cerita yang kau dengar. Apalagi cerita yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kadang cerita ini bernama desas-desus, kadang berupa mitos, kadang berbentuk gosip atau carito ambuih-ambuih. Kau juga tak perlu mempertanyakan kapan peristiwanya berlangsung. Meski tak bisa dibuktikan kebenaran dan kapannya, cerita ini seperti dongeng yang dikisahkan turun-menurun. Dan sialnya, seperti gulma, cerita-cerita ini melekat di ingatan orang yang mendengarnya. 

Salah satu yang melekat di kepalaku adalah cerita ini: 

Di kampung kami– salah satu sudut Kota Padang, ada seorang perempuan bernama Kakak Itu, bukan nama sebenarnya tentu saja. Cerita Kakak Itu membuatku yang masih ingusan, merinding tanpa tahu harus merasa takut atau iba tiap mendengarnya. Dia adalah seorang gadis manis. Wajahnya ramah, senyumnya mudah diingat. Pipinya merona bagai tomat Karo. Rambutnya mayang terurai. Tatapan matanya teduh dan memikat. Cara ia bertutur kata, aiihh sopan betul dan mampu memukau siapa saja yang melihatnya berbicara. 

Salah seorang penduduk kampung kami yang sehari-hari dikenal pembual bahkan memuji Kakak Itu secara berlebihan. “Ia, semanis bidadari yang sedang mandi di sungai Lubuk Minturun. Aku kira dia bukan manusia. Kau tahu bidadari dari surga, kan?” kata dia disambut tawa beberapa kawannya.

Semua pria tergila-gila padanya. Tapi seperti cerita di FTV, sebagian hanya bisa memendam dalam, menyebut nama Kakak Itu dalam doa. Sebagian lain nekat: berusaha dan tentu saja kandas di tengah jalan. Tak terkecuali, sebut saja namanya Berandal. Berandal, seperti namanya seorang berandalan kampung. Sehari-hari ia bekerja sebagai freelance alias makan, tidur dan berjudi. 

Ia sudah lama menaruh rasa pada Kakak Itu. Cintanya semakin hari kian bertumbuh dan membabi buta seperti cinta pendukung Prabowo kepada presiden pilihannya. Tentu saja ia bernasib sama dengan pria-pria lain. Cintanya ditolak dengan bahasa yang halus. Tapi, sebuah penolakan tetap menyakitkan meski disampaikan dengan cara yang halus, bukan?

Cinta yang semula murni dan suci seketika berubah jadi dendam. Dendam itu kemudian dirawat dan berkarat. Dendam berkarat, kau tahu, selalu membutuhkan pembalasannya. Berandal pergi menemui dukun. Tak lama setelahnya, kakak itu jatuh sakit. Penyakit kulit. Orang-orang yang menjenguk kayak itu berbisik:  Tubuhnya dipenuhi bentol-bentol, itu sih bukan sekadar kusta biasa?

Kian hari, kondisi Kakak Itu makin mengenaskan  wajahnya sampai orang-orang nyaris tak lagi mengenalinya sebagai gadis manis yang dulu. Orang-orang, sambil berbisik kembali: Ini sepertinya ulah Berandal. Main gila dia, gasiang tangkurak

Cerita semacam itu bukan barang asing di Minangkabau. Ia hidup sebagai ingatan kolektif, diwariskan tanpa catatan tertulis, tapi cukup kuat untuk membuat orang menurunkan suara saat menyebutnya. 

Gasiang tangkurak dikenal sebagai ritual mistis untuk mendapatkan hati perempuan lewat jalan pintas, jalan gaib. Dibantu oleh jin, ritual ini kerap dilakukan laki-laki yang cintanya ditolak atau harga dirinya direndahkan. Dendam tanpa arah ini kemudian dikemas jadi pembalasan. Ia pergi ke dukun. 

Si dukun kemudian meminta tengkorak orang yang sudah mati. Berandal lalu menghabiskan waktu berhari-hari di kuburan untuk bersemedi. Setelah mendapat petunjuk, laki-laki yang cintanya kandas ini kemudian menggali kuburan. Bahan material sudah disiapkan, kemudian apa? Tengkorak kepala manusia dibentuk menyerupai gasing kecil ini kemudian diberi lubang untuk benang tujuh warna. Tak lupa, si laki-laki yang cintanya ditolak ini juga menyiapkan kemenyan, kain kafan, dan berbagai perlengkapan lain sebelum ritual dimulai. Si laki-laki lantas memainkan gasiang tangkurak yang dibarengi dengan dukun yang membaca mantra.

Dikenang dalam Lagu

Cerita gasing tengkorak ini hidup dalam berbagai generasi. Saking populernya ritual ini, Syahrul Tarun Yusuf—yang kemudian dikenal sebagai Satayu—pernah “memotret” cerita ini lewat lagu. Berbeda dengan ceritanya, lagu ini dinyanyikan dengan nada gembira seperti lagu Simpang Ampek atau Ratok Pasaman.

Berbagai penyanyi seperti Elly Kasim, Andi Mulya, Dedy Agam sampai Ratu Sikumbang pernah menyanyikan lagu ini. Dalam buku Perjalanan Panjang Musik Minang Modern yang ditulis Agusli Taher, Satayu pernah menceritakan proses kreatifnya menciptakan lagu ini.

Menurut Satayu, semasa muda ia merupakan seniman iseng dan mencoba mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dalam berkarya. Keisengan ini membuat Satayu mendalami lebih jauh gasiang tangkurak.  Bukan sebagai pelaku tentu saja, melainkan sebagai orang yang ingin memahami bagaimana gasiang tangkurak bekerja. Ia percaya, lagu tak lahir dari ruang kosong. Maka ketika gasiang tangkurak terus berputar dalam cerita orang-orang, ia memilih mendekat.

Lelaki yang lahir di Agam tahun 1942 ini kemudian mencari mereka yang mengaku tahu. Ada yang menyebut diri Raja Rimba, memamerkan kekebalan tubuh di sebuah hotel di Bukittinggi, menusukkan sangkur ke perutnya sendiri. Satayu yakin benar, orang-orang gadang uwok seperti itu bukan dukun yang ia cari. Singkat cerita, ia bertemu seorang dukun tua yang dipanggil Inyiak. Nama dan tempat tinggalnya, ujar Satayu sengaja ia rahasiakan.

Satayu mendatangi kediaman dukun tersebut. Inyiak semula menolak. Menurut Inyiak, Satayu masih muda, sehat dan gagah yang tak membutuhkan bantuan jin atau setan untuk perkara percintaan. “Untuk apa sih pakai ilmu seberat itu?” kata Inyiak. Satayu menjawab jujur. Gasiang tangkurak tidak akan ia gunakan untuk menyakiti siapa pun. Ia tak sedang atau ingin membalaskan dendam terhadap perempuan mana pun

“Nyiak, gasiang tangkurak akan dijadikan lagu, akan direkam, Coba Inyiak bayangkan, gasiang tangkurak akan terkenal bukan saja di Minang, tapi sampai ke seluruh Indonesia,” kata Satayu. 

Dukun itu akhirnya luluh dengan alasan Satayu. Ada tujuh syarat yang harus dipenuhi. Yang paling sulit adalah mencari ayam hitam—bulu, paruh, lidah, kuku, taji, hingga matanya harus hitam seluruhnya. Ayam itu ditemukan di Pasar Bawah Bukittinggi. Harganya 2 ringgit emas. Namun lantaran butuh, Satayu enggan menawar. Ia membawanya pulang ayam ini dengan hati yang gembira. Setelah semua dirasa lengkap, datanglah hari melakukan ritual ini. Dilaksanakan di hutan, Satayu tiga hari tak pulang. Menurut seniman satu ini, malam ketiga jadi malam yang paling menegangkan.

Bunyi gasiang berputar di atas tanah, diiringi dendang dan mantera. Bulu kuduk Satayu berdiri. Bayangan harimau jadi-jadian muncul di ujung bacaan. Satayu hampir kehilangan kendali. Namun justru di saat ketakutan itu memuncak, naluri senimannya bekerja. Bunyi tengkorak yang berputar, irama gasiang yang berdentang, tersimpan kuat di kepalanya. Seperti ilham yang bagai hujan turun dari langit, nada demi nada mengalir dan tersusun dengan sendirinya. Satayu sebagai seniman kemudian menangkapnya dengan baik.

Asakan dapek urang den cinto

Tolong tangkurak namonyo gasiang

Namuah disuruah jo disarayo

 

[Asalkan dapat orang yang aku cinta

Tolong tengkorak namanya gasing

Mau disuruh dan diapain aja]

 

Gasiang batali jo kain kafan

Di patang kamih malam jumahaik

Gasiang tangkurak nan den nyanyikan

Putuihnyo gasiang putuih makripaik

 

[Gasiang kasih tali dan kain kafan

Di kamis sore dan malam jumat

Gasiang tengkorak yang aku nyanyikan

Putus gasiang putus makripat]

Lagu Gasiang Tangkurak kemudian direkam dan masuk dalam album Gumarang 71 (juga dikenal dengan judul Bapisah Bukannyo Batjarai). Album ini keluar sesuai angkanya: 1971.

“Itu gak ada kisah (dengan diriku).  Itu emang lagu diciptakan Tarun untuk lagu-lagu magis,” ujar Elly Kasim dalam sebuah wawancara. 

Lagu Gasiang Tangkurak kemudian menjadi hits dan sempat mendapat pencekalan dari pejabat publik Sumatera Barat. Lagu Gasiang Tangkurak di mata orang Pemerintahan Daerah (Pemda)  telah mencoreng martabat orang Minang yang dianggap dekat dengan kebiasaan syirik. 

Satayu tak menolak pencekalan itu, tapi ia menolak alasan di baliknya. “Ok lagu itu dicekal, tapi apa cerita lagu itu fiktif?” tanya Satayu geram ke orang-orang perwakilan pemda. Satayu benar, jika fenomenanya nyata, mengapa harus berpura-pura meniadakannya? Mengapa harus malu mengakuinya? Kenapa orang Minang sejak dulu sering banget….ah sudahlah.

Padahal kalau mau melihat dari perspektif moral, bukankah lagu ini cukup dijadikan pengingat agar tak berbuat hal serupa? Mengapa mesti takut sama lagu, sih? Sebagai seniman, Satayu bertugas sebagai “tukang catat” yang kemudian dituangkan menjadi lagu. Toh, kalau kamu mendengar lagu tersebut, terasa betul jika Satayu menulis gasiang tangkurak bukan untuk mengajarkan atau mengampanyekan ritual ini. 

Tolonglah japuik, japuik tabaok

Suruh nyo sujuik di kaki denai

Jiko tak namuah tanggang matonyo

Tanggang salero bianyo rasai

 

[Tolong jemput dia, jemput terbawa (harus dapat)

Suruh dia sujud di kakiku

Kalo dia gak mau, tutup matanya

Tutup seleranya biar dia tahu rasa]

 

Datang sijundai bia nyo gilo

Siang jo malam, nyo cari denai

Baru.. baru nyo sanang yo kiro-kiro

 

[Kalau masih tak mau, minta tolong lagi ke jin sakti 

Biar siang malam dia mencariku 

Habis itu, baru hatiku senang]

Seperti cerita orang di kampungku, lagu Gasiang Tangkurak terdengar di sepanjang zaman. Tiap lagu ini berkumandang, kita akan paham kalau selalu ada kasih tak sampai dan dendam harus terbayarkan.

 

*Penulis dan Pendengar Musik Minang

Lirik Lengkap:

Indak kayu …, mak janjang dikapiang

Asakan dapek urang den cinto

Tolong tangkurak namonyo gasiang

Namuah disuruah jo disarayo

 

[Tak ada kayu, tangga kupotong

Asalkan dapat orang yang aku cinta

Tolong tengkorak namanya gasing

Mau disuruh dan diapain aja]

 

Gasiang batali jo kain kapan

Di patang kamih malam jumahaik

Gasiang tangkurak nan den nyanyikan

Putuihnyo gasiang putuih makripaik

 

[Gasiang kasih tali dan kain kafan

Di kamis sore dan malam jumat

Gasiang tengkorak yang aku nyanyikan

Putus gasiang putus makripat]

 

Lah manggabubu asok kumayan

Urang di dunia banyak kiramaik

Tolong … tolong lah jihin si rajo hawa

 

[Asap kemenyan sudah tercium

Orang di dunia banyak yang sakit

Tolong. Tolong lah jin si penakluk wanita]

 

Gasiang tangkurak baoklah pasan

Jikok nyo lalok tolong jagokan

Jikok nyo tagak suruah bajalan

Di siko kini denai nantikan

 

[Gasiang tangkurak tolong bawa pesan ini Kalau dia tidur, tolong bangunkan

Kalau dia berdiri, suruh jalan

Di sini aku menantikan dia]

 

Tolonglah japuik, japuik tabaok

Suruah nyo sujuik di kaki denai

Jikok tak namuah tanggang matonyo

Tanggang salero bia nyo rasai

 

[Tolong jemput dia, jemput terbawa (harus dapat)

Suruh dia sujud di kakiku

Kalo dia gak mau, tutup matanya

Tutup seleranya biar dia tahu rasa]

 

Datang sijundai bia nyo gilo

Siang jo malam, nyo caro denai

Baru … baru nyo sanang dek kiro-kiro

 

[Kalau masih gak mau, minta tolong lagi ke jin sakti

Biar siang malam dia mencariku Habis itu,

baru hatiku senang]

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi