Galanggang Arang dan Upaya yang -Hanya- Menceritakan Ulang dan Meromantisir Narasi Sejarah Eksotik

Oleh: Jaka HB

 

 

Untuk Randi Reimena

 

 

 

You can’t be neutral on a moving train”- Howard Zinn.

 

Akhir 1960-an kesadaran kultural masyarakat Amerika mulai tumbuh. Kritik terhadap perang vietnam dan kebijakan-kebijakan Amerika yang invasif bermunculan. Salah satu yang protes itu adalah Howard Zinn, seorang sejarawan Amerika berhaluan kiri.

 

Perayaan Columbus Day menjadi titik marahnya mantan guru sejarah ini. Dalam A People’s History of The United States, Columbus menemukan daratan yang dihuni Suku Arawaks. Penghuninya menyambut rombongan asing dan ajaib ini dengan sukacita. Columbus tertarik dengan satu hal, emas yang menjadi anting-anting mereka.

 

Mulai dari sana pelayar brengsek ini memaksa beberapa orang dari suku itu ikut dan menemukan sumber emas. Karena orang-orang itu baik hati, Christopher Columbus memanfaatkan keahlian mereka. 

 

Dia juga membujuk raja Spanyol untuk lebih invasif, dengan berjanji akan membawa pulang emas dan rempah-rempah yang orang-orang suci di Spanyol puja. Columbus mengklaim sepuluh persen keuntungan untuk dirinya. Selanjutnya dia memperbudak Suku Arawaks, termasuk anak-anak dan perempuan.

 

Perbudakan ini tak terdengar sampai ke dataran Asia. Kita sering menyebut Columbus sebagai penemu Benua Amerika, tetapi sebenarnya ia hanya menjadi pelaut yang dipuja-puji, sementara sejarah tidak pernah menyebut korban-korban dari tindakannya. Columbus menyebabkan banyak orang Arawaks kehilangan kebebasan dan nyawa karena keserakahannya akan emas dan rempah. Sejarah tak pernah menuliskan kisah ini dengan adil.

 

Sejarah kelam ini mengingatkan kita pada praktik kolonialisme di banyak tempat, termasuk Indonesia. Salah satu contohnya di Sawahlunto, tepatnya pada Gelanggang Arang.

 

Perayaan Gelanggang Arang sering kali mengaburkan kompleksitas penderitaan para tahanan dan pekerja paksa di masa kolonial Belanda. Festival ini menampilkan kesenian-kesenian yang dibawa tahanan Belanda dari pelbagai daerah.

 

Namun, kita harus mempertanyakan pemaknaan ulang sejarah ini. Apakah perayaan ini benar-benar mengungkap penderitaan para ‘orang rantai’ yang bekerja paksa di tambang-tambang batubara? Ataukah hanya sekadar meromantisasi masa lalu tanpa mengakui ketidakadilan yang mereka alami?

 

 

 

Mempertanyakan Pemaknaan Ulang Sejarah Gelanggang Arang? 

 

Howard Zinn memunculkan nama Suku Arawaks dalam kritiknya terhadap sejarah Amerika. Siapa nama-nama orang rantai yang muncul di Galanggang Arang? Siapa mereka yang menjadi ‘orang rantai’? Bagaimana penggambaran sejarah mereka hari ini? Mengapa kesenian-kesenian etnik itu ada? Memori apa yang Galanggang Arang rawat? Apakah ini hanya eksotisme budaya dalam bingkai kolonial?

 

Perayaan-perayaan atas memori kolektif anti-kolonial atau anti-rasisme sering menyederhanakan kompleksitas sejarah dan mengabaikan fakta-fakta lain. Misalnya, kita sering mengabaikan cerita-cerita tentang manusia yang menjadi ‘orang rantai’ yang dipaksa menonton kesenian yang ada agar uang mereka habis dan tidak bisa melarikan diri dari sawahlunto.

 

Selain itu, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa mereka menjadi ‘orang rantai’? Apakah mereka benar-benar merugikan sehingga kita harus memenjarakan mereka dan memaksa mereka bekerja hingga paru-paru mereka rusak di lobang tambang? Apa yang mereka lawan?

 

Selanjutnya, apa yang anda maksud dengan dekolonisasi dalam konteks tulisan ini? Apakah itu berarti kita harus mempertahankan warisan memori yang sudah ada begitu saja, seperti patung-patung orang Belanda yang memandori orang-orang rantai?

Sisi Positif untuk Siapa?

 

 

Galanggang Arang juga menyoroti sisi positif dari perkembangan infrastruktur yang menghubungkan Kota Padang ke pedalaman, termasuk pelabuhan Emmahaven yang kini bernama Teluk Bayur sebagai kota bandar terpenting, serta berbagai dampak positif lainnya untuk mobilisasi. Namun pertanyaannya adalah: Siapa yang merasakan dampak positif itu?

 

Bukankah pada masa itu, kolonialis juga melihat semua itu sebagai sesuatu yang positif, tetapi tidak demikian bagi warga yang mereka gusur dari Emmahaven atau yang mereka paksa bekerja membangun rel demi kekayaan negeri bunga tulip itu?

 

Merebut Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) dan menjalankan dekolonisasi adalah pekerjaan besar yang tidak main-main. Ini tidak hanya sekadar mengganti orang-orangnya dan menjalankan narasi yang sama dengan romantisasi, tetapi juga harus adil dalam mengungkap sejarah manusianya.

 

Jika hanya mengganti orang-orangnya, itu sama saja dengan Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), militer Belanda yang banyak anggotanya dari penduduk terjajah, namun tetap menjalankan misi kolonial.

 

Lantas, menggunakan kereta siapa Anda menceritakan ini? Kereta kolonial yang menuju kejayaan kolonial atau dekolonialisasi semu yang Anda sebut-sebut?



 

Padang, 14 Mei 2024

 

ps: Tulisan ini dimaksudkan untuk membalas artikel Yang Dirayakan, Dirawat dan Diwariskan di Galanggang Arang di laman resmi Ombilin Heritage. Kritik juga ditujukan pada Galanggang Arang dan WTBOS.

 

BACA JUGA

DEKOLONISASI PALSU GALANGGANG ARANG DAN LANGGENGNYA EKSPLOITASI BATUBARA (BAGIAN II)

DIALOG DENGAN JIN MUSLIM (BAGIAN III- PENUTUP)

 

 

 

Dukung kami untuk menghadirkan cerita, dan liputan yang mendalam terkait yang terpinggirkan.

 

Silahkan klik tautan dibawah ini.