Penulis: Abdul Rahman* | Foto: Uyung Hamdani, Novia Halrina
“Aua langang,” keluh seorang perempuan paruh baya di warung kecil di sebuah nagari pinggiran Agam, Oktober 2025.
Arti keluhan itu adalah Pasar Aur Kuning sepi. Ungkapan pendek itu mengandung keresahan mendalam tentang perubahan yang sedang melanda ekonomi lokal di Sumatera Barat.
Bagi mereka yang hidup dari industri konveksi rumahan selama puluhan tahun, yang tersebar di beberapa nagari selingkaran Agam Bukittinggi dan sekitarnya, kelesuan Pasar Aur Kuning bukan sekadar fluktuasi musiman dalam aktivitas perdagangan. Ia adalah penanda dari transformasi struktural yang mengubah tatanan ekonomi yang telah mereka kenal dan jalani selama beberapa dekade.
Memori Ekonomi Jahit di Nagari
Tidak ingat persis saya bagaimana kejadiannya, ketika jari telunjuk tangan kiri saya ditembus jarum mesin jahit yang sedang dikayuh ibu. Saya tidak punya memori bagaimana sakitnya. Tapi saya ingat betul moment duduk nyaman dipangku ibu yang tengah memutar mesin jahit. Kayuhan kakinya jungkat jangkit, mengayunkan pula badan kecil saya naik turun dipangkuannya.
Dua hal terjadi dalam satu waktu, ngemong anak–yang entah tengah dibujuk dari tantrum soal apa, atau memang satu kesenangan bocah kecil saja yang sedang gandrung mengagumi sensasi duduk di mobil angkutan di atas jalan berlobang desa-desa orde baru, taonjek-onjek. Dan yang kedua, sekaligus, menyelesaikan jahitan – sebuah produksi menjahit pakaian yang tengah tumbuh pada waktu itu.
Saya belum lahir ketika Joel S Kahn melakukan risetnya di tahun 1970-an di salah sebuah Nagari Konveksi di Agam Tuo. Dalam monograf-nya ia mendokumentasikan bagaimana tahun tersebut konveksi telah mewarnai ekonomi masyarakat nagari yang memproduksi apa yang dikategorikan Kahn sebagai “komoditas kecil” (petty commodity production), berdampingan dengan aktivitas bertani subsistensi, sawah dan kebun, serta keahlian kerajinan lainnya seperti pandai besi dan kuningan serta anyaman daun rami dan rumbio.
Tahun 1980/1990-an, rumah-rumah di nagari ini riuh dengan deru mesin jahit. Laki-laki, perempuan duduk menghadapi mesin dan kain. Di waktu-waktu senggangnya, terutama pada masa-masa menjelang dan selama puasa Ramadhan sebelum atau selepas menghadapi buku-buku pelajaran sekolah dan TPA, anak-anak pun ikut terlibat membantu orang tua. Sekadar menjahit lurus, mengobras pinggiran jahitan, memotong kain, atau menyetrika – keterampilan-keterampilan paling sederhana yang bisa dilakukan siswa sekolah dasar dan menengah. Tambahan uang jajan dinanti sebagai apresiasi atas kontribusi dalam keluarga, sekedar untuk ekstra goreng tongkang atau roti gabus pada sela-sela jam istirahat sekolah.
Beragam barang jahitan diproduksi, pakaian orang dewasa hingga anak-anak, londres perempuan (kami merujuk long dress) hingga jilbab dan mukena, pakaian anak sekolah, topi, sarung bantal, kain pintu hingga beha. Kain-kain warna-warni, jeans, sutra dan katun. Musim dan trend pun berubah rupa. Setiap Ramadhan dan menuju hari raya, model-model terbaru bermunculan. Celana mambo pernah satu kali menjadi mode di awal 1990. Celana laki-laki (anak dan remaja), yang longgar berwarna polos dengan dua strip berwarna cerah, memanjang di kedua sisi luar, dari lingkaran pinggang ke ujung lingkar kerung bawah celana. Pasangan atasnya cukup kaos oblong yang juga longgar. Gaya betul lebaran kali itu.
Kami mengakrabi aroma kain bawaan pabrik dan bau minyak masin, disamping bau bawang merah yang tengah dijemur di halaman dan bau cabe merah yang dibentang di tengah rumah – barangkali bercampur sisa racun kimia yang masih menempel pada kulit buahnya. Bau-bauan ini menjadi penanda lucu dikalangan teman-teman di sekolah. Si Roki yang berbau bawang, si Kori yang berbau saka tebu dan si Paja yang berbau minyak masin jahit. Kami saling menjuluki masing-masing.
Anak-anak lain juga senang menunggui angkutan desa yang pulang dari pasar. Dari kejauhan sudah akan ketahuan angkutan mana yang sarat dengan gulungan-gulungan kain – yang biasanya akan ditumpuk dan diikat kuat di bagian atas angkutan. Mereka akan berebut meminjam gerobak kayu milik petugas kebersihan pasar desa, membantu menurunkan gulungan-gulungan kain dari mobil, mengangkatnya ke atas gerobak.
Kadang-kadang muatan gerobak tak sarat, hanya dua atau tiga gulungan saja. “Tak cukup berat”, satu tubuh kecil teman menggenapinya, duduk menahkodai di haluan gerobak di atas tumpukan gulungan. Mendorong ke rumah ibu pemilik kain, bergantian. Setengah bermain, pun beberapa ratus perak masuk kantong sebagai apresiasi.
Gulungan-gulungan kain masuk ke rumah-rumah, bersama beragam jenis warna benang, sekoci. stok minyak pelumas mesin jahit, mesin obras, renda, dan pernak-pernik lain. Siap untuk berproduksi untuk pekan berikut.
Pengalaman-pengalaman kecil di rumah-rumah konveksi nagari ini, jika dibaca lebih jauh, sesungguhnya bukan sekadar kisah lokal. Ia adalah pintu masuk untuk memahami perubahan struktural yang jauh lebih besar dalam cara kerja ekonomi hari ini.

Model Produksi Jahit
Dari waktu ke waktu, semenjak Kahn, sejak masa kecil di 1980/1990 hingga dekade pertama abad 21, konveksi menjadi lebih marak. Lebih banyak keluarga menggantungkan penghidupan mereka dari sektor ini – yang bukan selalu berarti pertanian ditinggalkan sepenuhnya.
Terdapat beberapa pembeda jenis pelaku usaha dalam ekonomi konveksi. Namun, corak usaha skala rumah tangga adalah unit terkecil sekaligus paling besar porsinya dari seluruh bentuk usaha ini.
Rumah tangga-rumah tangga biasanya menjahit kain sendiri: memilih model dan bahan, menjahit dan menjualnya ke pasar (penjahit dan pedagang), atau murni sebagai penjahit saja (anak jaik).
Bagi penjahit sekaligus pedagang, seluruh keuntungan dan resiko diterima keluarga produsen ini. Jika produksi meningkat mereka (yang dengan ini menjadi induak samang/juragan) akan melempar bahan baku untuk dikerjakan oleh anak jaik, yang menerima kain dari induak samang (entah pedagang murni, atau penjahit yang sekaligus pedagang), mengikuti model atau pola yang sudah ditetapkan mereka, menjahitnya dan menyerahkan pakaian jadi kembali ke induak samang, untuk mereka jual di pasar.
Penjahit akan menerima upah berdasarkan produksi yang dihasilkan. Anak jahit tidak mengakses pasar, spesialisasi mereka hanya memproduksi barang.
Mesin jahit, pada umumnya adalah milik pribadi atau keluarga tukang jahit. Meskipun kadang-kadang induk semang menyediakan mesin tersebut untuk mereka gunakan, barangkali melalui skema hutang atau pinjaman ringan, namun pada akhirnya mesin itu akan sepenuhnya menjadi milik keluarga penjahit.
Pada era itu, bisa dikatakan tidak ada keluarga penjahit yang dalam jangka lama bekerja tanpa memiliki sendiri alat produksi, bahkan tenaga kerja (anak jahit) yang di datangkan dari luar daerah, tidak memiliki mesin, dan sepenuhnya hidup dari gaji, pun memiliki orientasi dan determinasi (semangat) untuk menjadi lebih mandiri atau setidaknya memiliki alat jahit sendiri.
Pelan-pelan mereka menabung dan coba-coba memproduksi bahan dan model pakaian sendiri. Jika pasar menyerap dengan baik hasil percobaan mandiri mereka, jumlah produksi juga makin ditingkatkan, mereka akan migrasi menjadi induk semang kecil-kecilan dengan mengoper bahan jahitan ke tetangga atau anak jahit lain.
Selanjutnya menyewa kios hitungan jari meter persegi di pasar grosir, menjajakan hasil produksinya. Dari los sempit, menjadi mampu membeli kedai kecil, sebuah toko, dan beberapa toko.
Meskipun prosesnya tidak selalu linear, determinasi untuk menjadi lebih mandiri dan ‘besar’, dimana kepemilikan atas alat produksi adalah langkah utama yang penting, telah membuat banyak keluarga-keluarga penjahit bisa melampaui peran mereka hanya sebagai penjahit/tenaga kerja, menciptakan kategori penjahit sekaligus pedagang, atau sepenuhnya pedagang dengan menginduk-semangi keluarga-keluarga penjahit.
Kecenderungan rumah tangga untuk memiliki mesin jahit sendiri melahirkan satu bentuk relasi yang relative dinamis atau tidak kaku. Induak samang perlu memelihara relasi yang baik dengan penjahit, karena jika tidak, anak buah bisa saja berpindah mengambil jahitan dari induak samang yang lain. Begitu juga sebaliknya, para penjahit perlu menjaga hubungan yang sama agar mereka bisa terus mendapatkan kain untuk dijahit, agar terus bisa menabung dan mungkin suatu waktu memproduksi produk sendiri.
Yang penting dicatat, meskipun ada keluarga-keluarga yang menjadi lebih kaya dari aktivitas ekonomi ini, keuntungan relatif menyebar ke banyak keluarga produsen skala kecil.
Model ekonomi ini padat karya, berbasis keluarga, dan nilai tambahnya berputar tersebar di dalam komunitas lokal. Budaya ekonomi seperti ini telah menciptakan banyak wirausahawan skala kecil dan menengah. Agak sulit menemukan – kalaupun tidak ada sama sekali – pengusaha berskala besar dengan jumlah tenaga kerja ratusan atau bahkan hanya puluhan saja. Deru mesin jahit bukan hanya bunyi produksi, ia adalah irama kehidupan ekonomi rakyat banyak.
Selama puluhan tahun, keberlanjutan ekonomi ini ditopang oleh satu simpul penting, Pasar Aur Kuning, yang menghubungkan kerja-kerja produksi di nagari dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.

Pakan Aur Kuning
Rabu dan Sabtu adalah pakan besar. Barang jadi dari proses menjahit dibawa pedagang ke pasar sentral konveksi Aur Kuning di Bukittinggi. Mobil angkutan desa dipanaskan sebelum subuh. Sebagian kecil pedagang mengejar subuh di pasar – artinya keluar dari kalumun dinginnya pinggang Marapi lebih awal. Sebagian yang lain berangkat setelah sholat subuh selesai ditunaikan. Mobil angkutan desa bolak balik di hari-hari pasar ini mengangkut goni-goni berisi pakaian yang siap dipasarkan di Aur. Dua armada transportasi desa dengan rute yang berbeda, pada hari-hari sibuk ini, mengarah pada satu lokasi, Aur Kuning.
Pasar Aur Kuning pun sekaligus menjual bahan-bahan kain belum jadi dan seluruh material pendukungnya. Bahan-bahan ini sebagian besar di pasok dari jawa. Para produsen membeli bahan dasar di pasar ini namun juga tidak jarang memesan langsung ke Jawa. Disini kita melihat bagaimana dalam tarafnya waktu itu Aur Kuning – dan selanjutnya ekonomi sejumlah nagari-nagari sentra produksi konveksi di Sumatera Barat – bukan tidak terhubung dengan sistem ekonomi yang lebih besar, bahkan pasar global.
Itu baru cerita dari satu nagari. Produsen dan pedagang dari nagari-nagari sentra konveksi lain pun disekitaran Bukittinggi dan Agam, bergerak bersamaan menuju satu titik. Moda-moda transportasi AKDP – AKAP sesak memenuhi terminal membongkar atau memuat. Setiap ibu kota provinsi di Sumatera atau bahkan ibukota kabupaten tertentu di provinsi-provinsi tersebut, memiliki trayek rutin dari maupun ke Aur Kuning. Disini para pedagang bertemu dengan pembeli dari berbagai wilayah, untuk digunakan sendiri maupun (dan lebih banyak) di jual kembali di daerah asal mereka.
Menurut sebuah catatan bari-baru ini, pasar sentral ini setidaknya dihuni oleh 16 ribu pedagang, baik pedagang toko maupun kaki lima. Tidak lagi bisa dibedakan pakan besar Rabu dan Sabtu, hampir sepanjang minggu Aur Kuning sama sibuknya. Pembeli utama kebanyakan berasal dari Riau, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Utara maupun pembeli dari dalam Sumbar sendiri, membuatnya disebut sebagai Tanah Abang kedua di Indonesia.
Titik Balik: Dari Pasar ke Platform
Perubahan mulai terasa sejak 2010-an, kemudian mengalami akselerasi drastis selama dan pascapandemi COVID-19. Konsumen yang biasa berbelanja di Pasar Aur Kuning beralih ke marketplace digital. Barang yang dulunya dipasok dari rumah-rumah jahit di nagari kini digantikan oleh produk impor – terutama dari Tiongkok – yang dijual melalui Shopee, TikTok Shop, dan Lazada.
Pedagang grosir di Pasar Aur Kuning melaporkan penurunan omzet hingga 80-90%. Seorang pedagang besar mengungkapkan: “Omzet dulu sebelum maraknya toko online mampu ratusan juta rupiah dalam sehari, tapi kini sangat sulit mencapai Rp 10 juta saja”. Kios-kios mulai tutup. Yang bertahan pun hanya berupaya sebisanya mengurangi stok menumpuk.
Di nagari-nagari sentra konveksi, terutama bagi anak jahit, pesanan semakin jarang datang. Mesin jahit yang dulu berputar hampir tanpa henti kini mulai berdebu. Deru yang dulu menandai kehidupan ekonomi lokal perlahan tergantikan oleh kelesuan. Untuk memahami mengapa perubahan ini berlangsung begitu cepat dan terasa timpang, kita perlu melihat kekuatan ekonomi yang bekerja jauh melampaui batas nagari dan pasar lokal.
Mengapa Ini Terjadi: Anatomi Disrupsi Digital
Kalau dipikir-pikir, agaknya perubahan ini bukan sekadar soal preferensi konsumen yang berubah. Mungkin ia adalah hasil dari bertemunya beberapa faktor struktural yang saling memperkuat satu dan yang lain. Mulai dari ekspansi produsen global, perkembangan dan dominasi platform digital, atau juga terkait dengan ketimpangan infrastruktur yang menyebabkan konsentrasi nilai menumpuk – setidaknya – di Jawa.
Siapa produsen utama global tahun-tahun belakangan ini? Tidak untuk menipiskan perhatian pada negara-negara produsen lain, tetapi Tiongkok – sebagai contoh – makin memperkokoh statusnya sebagai salah satu negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Konon, negeri ini mampu menekan biaya produksi melalui skala ekonomi yang masif dan otomatisasi. Dengan begitu, mereka dapat menjual produk dengan harga jauh di bawah biaya produksi lokal. Sejalan dengan itu, beragam perjanjian perdagangan regional seperti RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) di tahun 2020, membuka akses pasar yang lebih luas dengan tarif yang lebih rendah, dan artinya akses bagi pemasaran produk-produk mereka, termasuk ke Indonesia.
Regulasi impor Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan dinamika yang lucu. Di satu sisi, pemerintah berupaya menyederhanakan prosedur impor melalui serangkaian peraturan Kementerian Perdagangan – dari Permendag 36/2023 hingga serangkaian Permendag tahun 2025 (Nomor 21, 22, 23, 24/2025) yang mengatur berbagai kategori barang impor. Di sisi lain, ambang batas bea masuk untuk barang kiriman e-commerce yang rendah, makin memudahkan masuknya barang impor murah tanpa beban fiskal signifikan. Baru belakangan, ketika dampaknya terhadap industri lokal semakin nyata, pemerintah mulai memperketat regulasi – termasuk wacana pengenaan tarif hingga 200% untuk barang impor tertentu dari Tiongkok. Namun sebagian kalangan menilai langkah ini datang terlambat, setelah pola konsumsi dan struktur perdagangan sudah terlanjur berubah.
Dominasi platform digital global dalam model pasar kita hari ini adalah faktor berikutnya. Siapa yang tidak mengenal sekaligus pengguna Shopee (Sea Group, Singapura), Lazada (Alibaba Group, Tiongkok), dan TikTok Shop (Byte Dance, Tiongkok). Perusahaan-perusahaan ini menguasai lebih dari 80% pasar e-commerce Indonesia. Yang paling krusial platform ini menguasai visibilitas. Algoritma mereka menentukan produk mana yang muncul di halaman pertama hasil pencarian. Pedagang kecil harus membayar iklan untuk bisa terlihat- sementara produk impor murah dengan margin tipis tapi volume besar bisa mendominasi hasil pencarian organik. Mereka bukan sekadar perantara netral – mereka adalah pengendali ekosistem, yang pengaruhnya menciptakan wajah Aur Kuning hari ini.
Ketimpangan infrastruktur menjadi faktor lain bagaimana produsen kecil dan Pasar Aur Kuningnya menghadapi disrupsi ini. Data Bank Indonesia (2023) menunjukkan bahwa sekitar 80% nilai transaksi e-commerce nasional terjadi di Pulau Jawa. Hampir semua gudang besar, pusat logistik, dan hub distribusi e-commerce berada di Jabodetabek – khususnya Bekasi, Karawang, dan Tangerang. Ini berarti meskipun konsumen tersebar di seluruh Indonesia, efek berganda ekonomi dari aktivitas e-commerce – berupa lapangan kerja di gudang, packaging, kurir, hingga konsumsi tenaga kerja tersebut – berputar di Jawa. Daerah seperti Sumatera Barat menjadi pasar konsumtif pasif, bukan bagian dari rantai produksi atau distribusi yang menghasilkan nilai tambah.
Selain itu, sekitar 60-70% UMKM digital aktif di Indonesia berlokasi di Pulau Jawa. Mereka memiliki akses lebih baik ke infrastruktur digital, pelatihan, permodalan, dan jaringan. Sementara UMKM di luar Jawa, termasuk konveksi rumahan di nagari Sumatera Barat, menghadapi hambatan: konektivitas internet terbatas, biaya logistik tinggi, literasi digital rendah, dan akses permodalan terbatas.
Aliran Nilai dalam Ekonomi Platform: Siapa yang Diuntungkan?
Ketika kita bertanya siapa yang paling diuntungkan dari transformasi ini, jawabannya akan mengungkapkan struktur ekonomi politik yang sangat timpang.
Platform e-commerce global sepertinya adalah pemenang terbesar. Mereka mengambil komisi dari jutaan transaksi (2-10% per transaksi), mendapat pendapatan iklan yang masif, dan – paling berharga – menguasai data perilaku konsumen Indonesia yang bisa dimonetisasi. Data ini digunakan untuk mengoptimalkan rekomendasi produk, menargetkan iklan, dan bahkan dijual kepada pihak ketiga. Nilai kapitalisasi perusahaan-perusahaan ini tumbuh pesat, menguntungkan investor global – bukan masyarakat lokal tempat transaksi terjadi.
Produsen besar di Tiongkok (dan negara-negara produsen lainnya) menikmati akses langsung ke konsumen Indonesia tanpa perlu melalui distributor atau pedagang lokal. Volume besar mengkompensasi margin yang tipis. Mereka mendapat untung dari sistem lintas batas e-commerce yang efisien, di mana barang bisa dikirim dalam jumlah besar ke gudang platform di Indonesia atau bahkan langsung dari Tiongkok ke konsumen (dropshipping). Menukilkan satu contoh sebagai ilustrasi, pada 2023 Indonesia mengimpor dari Tiongkok senilai US$ 205,75 juta produk untuk kategori apparel (yang mencakup pakaian, busana, atau garmen dan seluruh item yang dikenakan pada tubuh manusia, termasuk aksesori seperti topi, sepatu, tas, dan produk fesyen lainnya), mencapai 43% dari total impor kategori tersebut. Untuk tekstil dan produk tekstil, dalam periode Januari-Juli 2024 saja, Tiongkok mengekspor sekitar US$ 2,15 miliar ke Indonesia. Agak sulit membayangkan banyak cindua yang mungkin diadakan untuk uang sejumlah nantun.
Selain itu, perusahaan logistik dan pembayaran digital seperti J&T, SiCepat, serta dompet digital seperti GoPay, OVO, dan DANA kabarnya juga mengalami pertumbuhan yang terus meningkat. Mereka mendapat kapacak dari setiap transaksi dan pengiriman. Namun, sekali lagi, perusahaan-perusahaan logistik besar ini terintegrasi dengan platform global dan berpusat di Jawa.
Konsumen – setidaknya dalam jangka pendek – tentu mendapatkan keuntungan, mendapat harga lebih murah dan kemudahan akses. Sambil duduk-duduk saja di depan TV, tidak perlu ke pasar, barang-barang seperti pintuluik hingga pinjaik bisa sampai ke depan pintu rumah. Namun ini adalah keuntungan yang semu dan sementara. Ketika pasar lokal hancur dan pilihan menyempit ke beberapa platform besar saja, konsumen kehilangan daya tawar. Mereka juga kehilangan akses ke produk-produk lokal dengan kualitas yang sebenarnya lebih baik, dengan cerita dan identitas yang melekat padanya. Dampak dari perubahan struktural ini tidak berhenti pada grafik penjualan atau angka transaksi, tetapi merembes hingga ke ruang-ruang paling intim dalam kehidupan nagari.
Siapa yang Dirugikan: Kerugian yang Lebih dari Sekadar Ekonomi
Produsen kecil dan pedagang kecil adalah pihak yang paling terdampak. Konveksi rumahan kehilangan pesanan. Pedagang di Pasar Aur Kuning kehilangan pelanggan. Siklus ekonomi yang dulu berputar relatif secara lokal – dari pemesan ke penjahit, dari penjahit ke pedagang kain lokal, dari Pasar Aur Kuning ke pedagang eceran di daerah lain – kini memudar. Bahkan ketika mereka mencoba beradaptasi dengan berjualan online, posisi mereka sangat lemah. Mereka harus bersaing langsung dengan produk impor yang jauh lebih murah. Biaya promosi digital tinggi. Untuk tampil di halaman pertama hasil pencarian, mereka harus bayar iklan, sementara produk impor dengan margin tipis bisa menang karena volume. Algoritma platform tidak berpihak pada penjual kecil tanpa data historis penjualan yang kuat.
Namun kerugian terbesar bukan hanya ekonomi. Yang hilang adalah ekosistem sosial yang selama puluhan tahun menopang kehidupan ekonomi nagari. Beberapa yang mungkin bisa disebut; kerja kolektif keluarga, di mana orang tua, anak, kakek-nenek terlibat dalam proses produksi, solidaritas antar tetangga, di mana pesanan besar dibagi-bagi ke beberapa rumah anak jahit, dan transfer pengetahuan antar generasi, di mana skill menjahit diturunkan dari orang tua ke anak. Joel Kahn dalam persembahan studinya mencatat pentingnya “ekonomi moral” dalam masyarakat nagari Minangkabau – sistem ekonomi yang tidak hanya mengutamakan profit individual tetapi juga kohesi sosial dan distribusi kesejahteraan yang relatif merata. Atau temuan Nursyirwan Efendi (1999) yang memperlihatkan bagaimana transaksi dibangun di atas kepercayaan, relasi kekerabatan, etika Islam, dan moral timbal balik. Disrupsi digital mengikis ekonomi moral ini, menggantinya dengan logika pasar yang atomistik dan zero-sum – di mana seseorang menganggap begitulah ekonomi, dimana situasi kompetitif pasti menghasilkan pemenang dan pecundang.
Yang hilang juga adalah kedaulatan ekonomi. Dulu, masyarakat nagari mengontrol proses produksi mereka sendiri – dari memilih desain, membeli bahan, menjahit, hingga menjual ke pasar. Mereka adalah subjek dalam ekonomi mereka sendiri. Kini, mereka menjadi objek – konsumen pasif dalam sistem yang dikendalikan oleh algoritma dan keputusan korporasi di Singapura dan Tiongkok. Apa akal lagi.
Sekedar membawa serta obrolan para cendikia lain, apa yang terjadi di Pasar Aur Kuning adalah manifestasi lokal dari fenomena global yang oleh sosiolog Nick Srnicek disebut sebagai “platform capitalism” – kapitalisme yang nilai ekonominya tidak lagi terutama dihasilkan dari produksi barang, tetapi dari penguasaan platform digital yang menjadi infrastruktur bagi aktivitas ekonomi. Sepantun dengan Srnicek, David Harvey, dalam analisisnya tentang “akumulasi melalui perampasan”, menjelaskan bagaimana kapitalisme kontemporer tumbuh bukan melalui produksi nilai baru (saja), tetapi juga melalui pengambilalihan nilai yang sudah ada dari ekonomi-ekonomi lokal dan komunal. Digitalisasi ekonomi adalah bentuk baru dari proses pengambilalihan ini. Platform global mengambil alih fungsi pasar tradisional – yang dulunya adalah ruang publik milik komunitas – dan memonetisasinya untuk keuntungan pemegang saham di tempat lain.
Kita menyaksikan sentralisasi nilai ekonomi yang berlapis. Nilai dari aktivitas ekonomi di Sumatera Barat mengalir ke Jawa, di mana infrastruktur digital dan logistik berada. Nilai dari transaksi domestik mengalir ke korporasi besar yang menguasai platform. Dan nilai yang dulu dinikmati produsen kecil kini diambil oleh produsen besar, pemilik platform melalui komisi, iklan, dan monetisasi data. Di titik inilah, kelesuan Pasar Aur Kuning tidak lagi bisa dibaca semata sebagai masalah ekonomi, melainkan sebagai pertanyaan tentang arah pembangunan dan keadilan sosial di era digital.
Penutup
Deru mesin jahit di nagari-nagari Sumatera Barat belum sepenuhnya padam. Masih ada keluarga-keluarga produsen yang bertahan, masih ada pedagang di Pasar Aur Kuning yang berusaha beradaptasi. Tetapi mereka beroperasi dalam sistem yang tidak lagi dirancang untuk mereka menang – setidaknya sejauh ini. Hari-hari di ujung Sya’ban.
* Penjual buah dan berdomisili di Yogyakarta. Anggota Komunitas Titian.
