Paguyuban Petani Sunda Bertahan di Bawah Bayang-Bayang Gunung Marapi

Teks dan Foto: Sarah Azmi

 

Sudah enam belas tahun Adek Jainal bercocok tanam di kaki Gunung Marapi. Meski usianya sudah 58 tahun, dia tetap terlihat segar saat berbincang dengan petani lainnya di dalam sebuah pondok beratap triplek yang berada di Nagari Aia Angek Bukittinggi.

Adek bukan orang asli nagari ini, dia berasal dari Bandung, Jawa Barat. Saat dia merantau ke Sulawesi, seorang kawannya selalu bercerita tentang tanah subur kaki gunung dan peluang bertani yang terbuka lebar di Sumatera Barat. 

Pada 2010 ia pulang dari Sulawesi menuju Bandung. Lalu dia lanjut menyeberang ke Sumatera Barat, tepatnya ke Nagari Aia Angek, Bukittinggi. 

“Waktu pertama datang, kami tinggal di bawah, daerah padat penduduk di dekat pasar Aur Kuning Bukittinggi, saya waktu itu sudah mengurus surat pindah di Bandung dan melapor ke Wali Nagari Aia Angek, lalu kami membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk menjadi penduduk sini,” katanya.

Ketika ia pertama kali melihat kawasan yang kini menjadi ladangnya, tempat itu masih dipenuhi semak dan pepohonan liar.

“Dulu di sini lahan tidur semua, banyak kayu kaliandra, babinya juga banyak,” katanya sambil tertawa.

Bersama perantau lain dari Jawa Barat, yang saat ini sudah berjumlah 130 KK. Ia mulai membersihkan lahan sedikit demi sedikit.

Di dalam pondok, percakapan terus mengalir di antara kepulan uap kopi. Cangkir-cangkir plastik berpindah tangan. Adek Jainal sesekali menoleh ke arah lereng yang disambut oleh pemandangan ladang cabe, ia memastikan apakah puncak gunung masih tertutup kabut. 

Ketika saya menanyakan tentang letusan gunung Marapi  pada 3 Desember 2023 lalu, ia menjelaskan tidak ada petani yang menjadi korban, namun ia sangat sedih mengetahui ada 23 orang meninggal dunia di atas puncak marapi dan sampai saat ini ada bagian tubuh yang belum ditemukan.

“Kalau petani di sini nggak ada yang meninggal. Tapi dampak dari peristiwa itu kami gagal panen, sekiranya menyebabkan sekitar 960 hektar lahan pertanian dan perkebunan panen, berdampak pada 3.000 petani. Tanaman seperti padi, jagung, cabe, dan sayuran membusuk akibat abu vulkanik,” katanya.

Di kalangan petani di kaki lereng marapi, cerita itu masih sering disebut. “Erupsi ada. Kadang hampir tiap malam. Tapi abunya kadang ke sini, kadang ke Batu Sangkar, kadang ke Agam. Tergantung angin,” ujarnya.

Sesekali letusan itu juga terlihat jelas dari ladang mereka.“Kalau lagi besar, keluar api.”

Ia mengingat satu malam ketika api dari puncak terlihat dari kejauhan. Waktu itu sekitar pukul dua dini hari. “Ngeri aja kalau lihat api begitu,” katanya sambil tertawa kecil

Meski tinggal di radius yang tergolong sangat berbahaya, kehidupan di lereng tetap berjalan seperti biasa. Para petani hanya menyiapkan diri jika keadaan benar-benar memburuk.

“Kalau udah parah mungkin baru dievakuasi. Kita sih siap-siap aja.”

Pada erupsi besar tanggal 14 Maret 2026, sekitar 14 keluarga sempat mengungsi ke daerah bawah. “Waktu pertama meletus kemarin, kami sempat turun. Takut juga.”

Namun kerugian terbesar bukan hanya rasa takut, melainkan ladang yang hancur. “Waktu itu baru mau panen pertama di sini. Belum sempat dipanen, habis semua.”Abu turun setiap hari. Tanaman tomat yang ditanamnya mengering dan mati.

“Tomat sama cabe nggak kuat. Jasi keriting, rusak semua.”Ia mencoba menanam ulang hingga tiga kali.

“Dicabut, tanam lagi. Dicabut lagi. Sampai akhirnya diganti bawang, baru agak bagus tumbuhnya.” Di lereng seperti ini, bertani memang selalu berhadapan dengan dua ketidakpastian yaitu harga pasar dan  aktivitas gunung marapi yang sangat aktif.

“Kalau tanam-tanam itu ibarat kita bermain judi,” katanya. Ia menjelaskan bahwa petani sering mengeluarkan modal sangat besar tanpa jaminan hasil.

Pada erupsi pertama yang besar, kerugian yang ia alami mencapai sekitar tiga ratus juta rupiah.

“Tomat saja hampir dua ratus kilo habis semua. Sampai sekarang masih ada yang tertimbun abu di atas.” Meski begitu, para petani mencoba melihat sisi lain dari bencana.

“Habis gunung meletus biasanya tanah jadi lebih subur,” kata Adek.

Ia mengatakan kalimat itu dengan nada tenang, seperti sebuah keyakinan yang sudah lama dipegang oleh para petani di kaki lereng marapi.

Gagal Panen Tagihan Kredit Usaha Rakyat Mencekik Petani Perempuan

Gagal panen karena erupsi marapi ternyata juga memiliki rantai panjang kerugian. Beberapa petani mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan gagal panen membuat mereka sulit membayar tagihan.

Yulianti (37), salah satu petani perempuan di sana mengatakan KUR berdampak positif bagi petani sayur dengan mempermudah akses modal, meningkatkan daya beli benih, pupuk dan alat tani lain. Selain itu juga meningkatkan pendapatan petani melalui pengembangan skala usaha. KUR juga membantu mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan mendukung kelangsungan produksi.

Perempuan yang kerap disapa Yuli ini mengatakan pinjamannya sabanyak Rp. 15.000.000 di Bank BRI, dengan cicilan selama tiga tahun, perbulan ia harus mendapatkan uang sebanyak Rp.700.000 untuk membayar KUR. Ada bunga yang memberatkan bagi Yuli.

Bagi Yuli, itu  jalan satu-satunya agar ia bisa mengembangkan usaha pertanian, meski kadang pertanian yang ia garap tidak selalu berhasil atau menutup hutang apalagi untuk kebutuhan hidup dengan dua orang anaknya yang satu masih bersekolah.

“Kadang susah, kadang senang,” ujarnya ketika ditanya rasanya bertani di lereng yang rawan bencana ini.

Di sela-sela kesibukan di ladang, Yuli menatap tanah hitam vulkanik yang baru saja digarap. Ia bercerita bahwa perbedaan budaya tanam juga membedakan komunitas di lereng. Orang Sunda seperti dirinya biasanya menanam tomat, cabai, dan bawang, sedangkan penduduk asli daerah ini lebih banyak menanam wortel.

Bagi Yuli, setiap panen adalah pertaruhan. Tanaman yang tampak sehat bisa rusak oleh abu vulkanik atau lahar dingin dari Marapi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengalaman pahit itu sudah menjadi rutinitas. Panen yang tertunda atau gagal tidak hanya berarti kehilangan pendapatan, tapi juga menambah tekanan cicilan KUR yang harus dibayarnya.

“Kalau orang Sunda aman, kan, nanamnya tomat, cabe kayak gitu. Kalau orang sini kebanyakan nanam wortel,” kata Yuli menerangkan. 

“Kita berusaha aja. Harus sabar. Tanahnya subur, nanti kalau aman, bisa dapat hasil,” katanya sambil menepuk-nepuk tanah di ladangnya.

Kesabaran itu juga tercermin dalam solidaritas Paguyuban Sunda. Ketika ada peringatan erupsi, anggota paguyuban membantu satu sama lain dalam evakuasi, memastikan semua keluarga terutama perempuan dan anak-anak dapat turun ke lokasi aman tanpa meninggalkan ladang terlalu lama.

Bagi Yuli dan banyak petani lain, bertahan berarti menghidupi keluarga, menjaga ladang, dan terus menanam meski ketidakpastian selalu mengintai dari puncak Marapi seperti letusan erupsi kuat pada Sabtu 14 Maret ma­lam. 

Letusan yang terjadi sekitar pukul 23.29 WIB itu diawali dengan dentuman keras yang bahkan membuat kaca rumah warga di sekitar kawasan gunung bergetar. Yuli saat itu masih berada di pondok, yang berjarak 4 km dari puncak, saat itu masyarakat ternyata tidak terima pemberitahuan peletusan erupsi marapi.

Cerita Roza

Roza (26) masih mengingat jelas tahun 2024 tahun ketika abu vulkanik turun hampir tanpa jeda.

“Dalam tiga bulan itu, abunya turun terus,” ujar petani perempuan ini. “Abu datang begitu pelan, tipis, tapi terus-menerus. Menempel di daun, menutup pori-pori tanaman, dan perlahan mematikan tanaman kami di ladang.”

Tanaman cabai yang ia harapkan menjadi sumber penghasilan utama justru menjadi yang paling terdampak.

“Rusak cabenya. Tidak mau dipanen orang,” kata Roza. Bukan hanya cabai. Sayur-sayur lain yang ia tanam di sekitar rumah di lahan yang ia kelola sendiri ikut mati.

“Yang parah itu sayur-sayur semua.” 

Situasi itu menyebabkan dia rugi ratusan juta karena gagal panen. Dia mencari akal dan terpaksa bekerja diladang orang untuk menanam atau menanen dengan bayaran Rp.80.000 per hari. 

Roza juga melakukan pinjaman KUR sebanyak Rp 15.000.000, tidak jauh beda dengan Yulianti.

“Kalau meletus, ada rasa takut. Apalagi kalau abunya turun terus, itu yang rusak tanaman kita,” katanya.

Ia juga memikirkan kemungkinan yang lebih buruk lahar dan galodo yang bisa turun dari gunung. “Takut juga. Mudah-mudahan tidak sampai ke sini,” katanya.

Saat erupsi terjadi, Roza mengaku pernah menerima bantuan dari pemerintah berupa sembako.

“Waktu itu ada bantuan erupsi Marapi,” katanya. Namun, berbeda dengan bantuan, informasi tentang evakuasi tidak selalu ia dapatkan. “Kalau sosialisasi evakuasi, belum ada,” ujarnya.

Di tengah aktivitas gunung yang meningkat, ketidakpastian informasi menjadi bagian lain dari beban yang harus ditanggung.

Sebagai petani perempuan, Roza memikul tanggung jawab rumah tangga dengan satu orang anaknya yang masih kecil, memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Ketika panen gagal, tidak banyak pilihan yang tersedia. Ia bertahan dengan apa yang ada lalu berusaha untuk menanam kembali, menunggu kembali. 

 

Wali Nagari Aia Angek

Aktivitas Gunung Marapi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir membuat para petani merugi. Abu vulkanik yang menutupi lahan pertanian mereka. Tanaman seperti cabe, tomat, dan sayuran lain banyak yang rusak sebelum masa panen.

Selain merusak tanaman, abu vulkanik juga berdampak pada kesehatan warga. Debu halus yang menyebar di udara kerap mengganggu saluran pernapasan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Pemerintah nagari dan pemerintah daerah membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) penanggulangan erupsi serta penetapan titik-titik evakuasi bagi warga. Mereka berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Datar untuk melakukan pelatihan evakuasi dan kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat.

“Untuk evakuasi sudah ada tempat-tempat yang ditetapkan di setiap nagari,” kata Riki Mulyadi selaku Wali Nagari Aia Angek.

Meski demikian, dalam situasi darurat menurutnya masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan. Salah satu yang sering terjadi adalah gangguan jaringan komunikasi ketika listrik padam atau sinyal telepon tidak stabil.

Sebab selain erupsi, dia mengatakan ada bencana lain seperti longsor dan lahar dingin juga pernah terjadi di beberapa wilayah sekitar lereng Marapi. Namun dampaknya tidak selalu merata di setiap nagari.

“Kalau di Sungai Jambu itu parah. Kalau di tempat kita ada terdampak juga, tapi tidak begitu besar,” ujarnya.

Letusan baru-baru ini Wali Nagari Aia Angek memberitahu bahwa peringatan sudah disebar via grup whatsapp. Namun setelah saya telpon Yuli, salah satu warga mengatakan bahwa tidak ada pemberitahuan dari pemerintah terkait aktivitas erupsi gunung Marapi pada tanggal 14 lalu. 

Mengapa pemberitahuan yang menyangkut keselamatan ribuan jiwa orang tidak sampai?  

    Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

    Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi