Upaya Kolektif Petani Perempuan Kapa dengan Melon Hidroponik Pasca Lahan Dirampas Korporasi

Penulis: Sarah Azmi |Reporter: Sarah Azmi, Jaka HB | Tata Letak: Ray

Terbit: 29 November 2025

Kami petani digusur

Di-binatang-kan oleh bejatnya korporasi

yang dibekingi oleh para aparat

mimpi kami hancur berkeping-keping

semua tanaman kami dihancurkan

rumah bagonjong, musala dan pondok-pondok petani dihancur-leburkan

tanpa meninggalkan rasa iba…

Baris puisi tersebut saya dengar dibacakan langsung oleh Syahmiarti, seorang petani perempuan berusia 43 tahun dari Nagari Kapa, Kabupaten Pasaman Barat. Dia salah satu perempuan yang memperjuangkan lahannya yang dikuasai salah satu perusahaan sawit besar di Sumatera Barat. Lampu panggung hijau menyorot wajahnya dan tangisnya meledak. Namun selepas pembacaan itu dia merasa lega. Sebab menurutnya perjuangan mereka belum selesai dan mereka tetap melawan dengan menanam melon sebagai gerakan ekonomi tanding perlawanan terhadap perusahaan.

Foto Puisi Bu Icha pas ketika panen raya melon hidroponik. Foto: Jaka/Roehana

“Ini upaya untuk memperpanjang nafas perjuangan kami. Kami masih tetap memperjuangkan tanah ulayat kami untuk mendapatkan hak kami, karena kami butuh tanah untuk hidup kelak,” kata perempuan yang kerap disapa Ica ini.

Juli lalu mereka melakukan panen raya dari dua greenhouse yang dikelola petani perempuan Kapa menghasilkan 400 buah melon berjenis Intanon dan Apollo. Dari jumlah itu 300 buah terjual dan 20 persen dari penjualan masuk ke kas perjuangan mereka dan ada yang digunakan untuk modal lagi. 

“Jika masih ada sisa, akan kami bagi dengan anggota kelompok,” katanya.

Ica mengatakan pasca kebun pangan mereka digusur perusahaan Oktober tahun lalu, ruang pemenuhan hidup mereka hilang. Melon hidroponik ini jadi harapannya dan perempuan Kapa lainnya untuk meneruskan perjuangan.

“Sebab kami butuh ruang pekerjaan untuk kami, karena kami butuh hidup dan kehidupan secara mandiri,” katanya.

Dari hasil penjualan melon itu para ibu juga bisa membantu menambah pendapatan dari suami untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya juga berjumpa Nurliza. Perempuan petani pejuang Kapa yang turut mengelola greenhouse melon ini. Dia mengatakan ada 30 orang mengelola greenhouse dan dibagi dua kelompok. “Dalam satu hari dua orang piket,” katanya.

Menurut Nurliza ide soal melon ini harus ditularkan ke anak-anak muda. Agar dapat mengembangkan ekonomi mereka.

Zaki selaku fasilitator pembangunan greenhouse mengatakan pada saya ada dua greenhouse dengan luas 180 meter persegi masing-masingnya. “Satu bidangnya 9×20,” katanya.

Dia mengatakan mereka menggunakan sistem Deep Flow Technique agar ketika pemadaman listrik terjadi, tanaman tidak akan layu, sebab air masih tetap menggenang di dalam media tanamnya.

“Setiap hari melakukan piket. Pertama, mengisi nutrisi ke bak nutrisi. Selanjutnya, melilitkan batang melon ke tali agar berdiri tegak dan menghindari busuk batang. Selanjutnya ada pruning, pemangkasan pucuk air, jadi tunas-tunas air jangan dibiarkan berkembang agar fokus di pembuahan,” katanya.

Dia mengatakan dalam satu greenhouse ada 600 lubang tanam. Dia menghitung-hitung kalau satu lubang satu kilo maka ada 600 kilogram yang akan didapatkan.

Pada panen pertama panennya melebihi ekspektasi. Sebab dia juga tak menyangka ada yang beratnya satu buah sampai 3 kg. Dia mengatakan panen akan dilakukan setiap 75 sampai 85 hari. “Faktor buah yang besar bisa jadi faktor pematangan yang lebih lama,” katanya.

Kini greenhouse mereka sudah dipasang solar panel agar biaya listrik lebih hemat.

Kebun Melon Hidroponil Petani Kapa. Foto: Jaka/Roehana

Sebelum Hidroponik Melon Berdiri

Pada sore yang lain, saya duduk di pelataran rumah Mega–salah seorang petani pejuang Nagari Kapa.

“Kalau bukan karena anak-anak, mungkin saya sudah berhenti hidup sejak dulu,” kata perempuan berusia 40 tahun ini, diriringi suara jangkrik yang mulai ramai.

Angin sore meniupkan debu dari jalan tanah, mengangkat aroma kering dedaunan sawit yang gugur. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak bermain, namun di rumah Mega, senyap menyelimuti seperti kabut tipis yang enggan pergi.

Mega duduk bersandar pada dinding rumah yang terbuat dari papan tua. 

Tangannya sibuk memilah lidi sawit yang baru dikumpulkannya siang tadi. Ia tak menatap langsung ketika mulai bercerita, hanya sesekali menghela napas, menahan sesuatu yang tak terucap.

“Sejak suami saya meninggal tahun 2015, saya sendirian urus anak. Empat orang. Paling kecil dulu masih dalam perut,” katanya pelan, matanya menerawang ke arah halaman. Sore itu, bayangan pepohonan menjulur panjang, seolah ingin memeluk luka yang Mega simpan sendiri.

Tangannya berhenti. Suaranya mulai serak, seperti ingin menyelamatkan dirinya dari kenangan yang menggulung.

Ladang jagung sebagai pembatas ulayat/ Uyung Hamdani

“Dulu saya bisa berkebun. Menanam jagung di tanah ulayat. Sekarang tinggal lidi sawit ini, itu pun kadang orang udah rebutan,” ia tertawa kecil, getir, lalu diam sejenak. “Kalau dulu saya masih bisa bantu kupas jagung, bisa dapat 10 karung sehari di rumah Bu Ica. Sekarang? Kadang dua minggu sekali aja orang manggil.” Karena semua petani kapa tidak lagi menghasilkan jagung, sejak tanah mereka dikuasai kembali oleh korporasi.

Langit mulai gelap, suara azan maghrib terdengar sayup dari surau. Mega memalingkan wajahnya. Di ujung matanya, genangan air terlihat berkilat dalam cahaya sore.

“Anak saya yang pertama baru masuk SMK pelayaran di Pariaman. Yang kedua di pesantren. Tapi sering mereka berangkat sekolah tidak saya kasih belanja, tapi gimana? Kadang gak tega saya lihat anak-anak diam aja pas ditanya uang jajan. Dulu paling tidak saya bisa kasih dua ribu, sekarang seribu pun kadang gak ada.”

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara lirih,“Anak saya yang besar bilang, nanti kalau dia berhasil, dia mau beli tanah dua hektar. Buat ganti tanah yang sudah hilang. Itu harapannya.”

Kini Ica dan beberapa warga Kapa harus rutin ke Pengadilan Negeri Pasaman Barat untuk menghadiri sidang laporan perusahaan terhadap pendudukan lahan warga. 

Dia bercerita pada saya bahwa selama memanfaatkan lahan yang mereka perjuangkan, Ica sempat menerima dua kali hasil panen jagung. “Yang pertama sudah lunas hutang ke toke jagung 13 juta. Hasil bersih yang saya terima 14 juta. Alhamdulillah lah, itu yang baru ibu berhasil di tanah ulayat Nagari Kapa. Sebelum penggusuran saya terima 2 juta,” katanya.

Semenjak masyarakat berkebun di tanah ulayat itu perekonomian masyarakat petani Kapa terbantu. “Bayangkan bisa membeli motor kontan dan mobil bekas dari hasil berkebun di lahan. Sehingga terbuat rumah bagus untuk anggota yang lain sejak berkebun di lahan itu,” katanya.

Namun setelah penggusuran, banyak perekonomian warganya yang anjlok. “Kehilangan mata pencaharian lah masyarakat kini. Jadi buruh lah masyarakat kini di ladang pribadi orang,” katanya.

Potret Nurani dan anak-anaknya. Foto: Uyung Hamdani/Roehana

Mundur Sejenak Sembari Memperbaiki Ekonomi Warga

Kepolisian berhadapan dengan masyarakat di tanah perjuangan. Foto: dokumentasi warga

Diki Rafiqi selaku Direktur Lembaga bantuan Hukum (LBH) Padang mengatakan tiga pleton brimob dikerahkan untuk mengusir para ibu dan diberi waktu 10 hari untuk pergi tahun lalu. “Setelah peristiwa itu kami berefleksi bersama. Kami menyadari bahwa hari ini kita sedang menghadapi kekuatan yang sangat besar, baik dari sisi finansial atau pun pengaruh politiknya,” kata Diki.

Pasca insiden tu, kata Diki muncul luka dan trauma yang panjang. Ada kelompok yang mulai saling tidak percaya, ada yang mulai merasa lelah dan enggan melanjutkan perjuangan, dan pada saat yang sama Diki juga berdiskusi dengan Uslaini dari Walhi Nasional apa yang bisa mereka lakukan bersama. 

“Dari situ kami berpikir tanah yang sedikit ini setidaknya bisa mejamin ekonomi satu kelompok untuk kebutuhan bulanan mereka. Maka dipilihlah model pertanian hidroponik melon,” katanya. 

“Bagi LBH dan petani perempuan pejuang Kapa hidroponik adalah tempat konsolidasi, tujuan jangka panjangnya lebih besar dari itu”.

Dia mengatakan mereka berkomitmen bersama pada 2032 masyarakat Kapa harus sudah merebut kembali tanah mereka, sebab HGU perusahaan akan habis pada tahun tersebut. 

“Sembari menanam melon dan mengelola hidroponik kami terus melakukan konsolidasi,” katanya.

Walhi: Kembali ke Ekonomi Kerakyatan Tanpa Mendukung Sirkuit Kapital Korporasi

Uslaini dari Walhi Nasional mengatakan Kapa sudah melewati jalan panjang dalam perjuangannya akan tanah ulayat. Terkait apa yang dilakukan petani Kapa menurut Uslaini harus dirancang dari sekarang. 

 

“Dan kalau kita mau membangun ekonomi kerakyatan, jangan menyuplai sesuatu kepada pihak yang sedang kita lawan. Untuk apa kita menanam sawit, padahal kita tahu buah sawit itu akan dikirim dan diproses di pabrik CPO yang ujungnya memperpanjang napas kekuasaan mereka atas tanah ulayat kita,” katanya.

 

“Apa yang kita lawan seharusnya tidak kita dukung. Tapi saat ini banyak yang tidak konsisten, kita lawan perusahaannya tapi kita sediakan bahan bakunya jadi mereka tetap tumbuh, berkembang dan mengambil keuntungan dari tanah kita,” katanya.

 

Selain itu Uslaini mengatakan warga tidak bisa mengendalikan harga sawit. Misalnya panen hari ini, tapi perusahaan tetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) cuma 400 rupiah, warga tidak bisa menolak. 

“Kita juga tidak bisa simpan. Kualitasnya turun dalam hitungan jam, harga juga langsung turun. Artinya, kita tidak punya kuasa. Kita tidak merdeka secara ekonomi. Gimana ekonomi kerakyatan bisa tumbuh, kalau kita tanam komoditas yang tak bisa kita kendalikan?” katanya.

Sebab itu menurutnya penting melibatkan pihak perguruan tinggi di Sumatera Barat seperti Unand misalnya. “Lakukan penelitian bersama dan menemukan tanah di sini cocok untuk ditanam apa,” katanya.

“Komoditas apa? Rantai pasok mana yang harus kita putus, agar putus juga urat nadi perusahaan?” katanya.

“Mungkin akan lebih baik kalau kita ganti sawit dengan kelapa. Saat ini, harga kelapa sangat bagus, pasar ekspor terbuka ke Tiongkok,” katanya.

Dia bilang kalau orang tidak beli kelapa kita, kita masih bisa simpan. “Tidak seperti TBS, kelapa bisa tahan berbulan-bulan. Kita bisa jual sebagai kelapa, atau olah jadi santan, atau bahkan jadi minyak kelapa. Sebotol minyak kelapa bisa dijual Rp50 ribu,” katanya.

Kekhawatiran Pasar dan Peran Studi Dapur

Dia mengatakan Satu hal yang penting dalam bicara ekonomi kerakyatan adalah kekhawatiran petani: kalau kami tanam ini, ada yang beli nggak? Pasarnya ada nggak?

Ini juga muncul tadi waktu diskusi dengan Dayu di Talang. Kekhawatiran itu nyata. Maka saya paling suka, di komunitas-komunitas dampingan WALHI, sebelum kita putuskan mau menanam apa, lakukan studi kecil-kecilan dari dapur.

Coba, ibu-ibu dalam seminggu tulis: bahan makanan apa saja yang biasa dimasak, tapi tidak berasal dari kebun sendiri? Anggap saja 10 bahan. Coba identifikasi, lalu bayangkan kalau 5 dari 10 bahan itu bisa kita hasilkan sendiri—berapa uang yang bisa kita putar dalam kelompok?

“Tidak usah memikirkan skala besar dulu. Yang penting adalah kedaulatan di dapur: kita masak apa yang kita tanam dan kita tanam apa yang mau kita masak,” katanya.

Jadi, menurutnya penting untuk ibu-ibu mencatat bahan pangan apa saja yang biasa digunakan di dapur. Lihat, mana yang bisa ditanam di kebun sendiri, mana yang harus dibeli. Lalu rencanakan bersama kelompok, supaya bahan-bahan yang dibeli itu bisa ditanam.

“Bayangkan uangnya berputar di kelompok atau di nagari—bisa untuk pembibitan, bisa untuk pengolahan. Ini yang saya bayangkan,” katanya.

Menjaga Harapan

pada saat panen raya bersama dengan pengunjung/pembeli buah melon

Sudah sebulan lebih Ica melewatkan delapan kali persidangan bersama 10 kawan perjuangannya di Pengadilan Nagari Kapa.  

“Kalau hakim netral sudah lebih dari cukup untuk kami,” harapnya.

Ica tak ditahan. Dia masih menjaga harapan dengan terus bergerak dengan ikhlas.

“Karena perjuangan ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk masyarakat Kapa. Apa pun yang terjadi, saya sudah ikhlas. Saya berjuang demi kehidupan kami bersama,” katanya.

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Roehana Project dan Project Multatuli untuk koleksi  “Jendela Perempuan”.

Kirim Energi untuk Liputan Selanjutnya

Mari bantu penulis Roehana Project mengerjakan liputan-liputan penting tanpa kompromi