Pameran foto Halaman Depan Multikulturalisme 27 Februari 2023 di Fabriek Bloc yang mengundang polemik.

Jejak Polemik Ihwal Pameran Foto Halaman Depan Multikulturalisme Sumatera Barat

Pekara manajemen pameran dan tidak ada penyebutan satu nama fotografer menjadi polemik mengemuka pada acara Pameran Foto Halaman Depan Multikulturalisme. Acara ini terselenggara pada rentang waktu 27 Februari sampai 12 Maret 2023 di Fabriek Bloc Kota Padang.

Roehanaproject mencoba mengarsipkan tautan-tautan perdebatan itu  secara berurutan. Pertama dari Ramadhani seorang fotografer dokumenter sekaligus editor di salah satu media lokal di Padang, Esha Tegar Putra dan Heru Joni Putra sebagai kurator. Selain itu Zhu Qincay selaku fotografer profesional yang sempat menanyakan kenapa salah satu panel foto punya nuansa berbeda dan bertanya apakah ada fotografer lain. Serta jawaban dari Uyung Hamdani, seorang fotografer dokumenter lepas yang namanya disebut-sebut sebagai pemotret foto-foto pada panel arsitektur rumah tradisional pesisir Siberut. 

Artikel terakhir dari Muhaimin selaku fotografer dan Randi Reimena melalui Medium-nya selaku periset dalam pameran ini.

 

ARTIKEL I

Yang Luput dan yang Abai dari Pameran Foto Halaman Depan Multikulturalisme (19 Maret 2023)

Oleh Ramadhani

102 foto yang dipamerkan pada pameran Halaman Depan Mulitikulturalisme dibuat seolah-olah merupakan karya otentik sang fotografer Muhaimin Nurrizqy. Namun ada nama fotografer lain yang diberangus. Ada pengkarya lain yang namanya harus dipangkas agar muncul satu orang fotografer saja. Saya teringat catatan kuratorial berjudul REPRESENTASI itu. Halaman Depan Multikulturalisme menjadi pameran yang mengorbankan fotografer lain agar muncul satu fotografer saja. Di mana si representasi mengklaim diri sebagai presentasi. Yang penting halaman depan terlihat indah.

Jika absennya nama Uyung Hamdani dari pameran ini merupakan kesalahan teknis, tentu saja mudah untuk memperbaikinya. Pameran foto juga merupakan representasi yang cair dan terbuka, bisa diubah dan diperbaiki.

Zulkifli sudah mengingatkan sejak hari pertama pembukaan pameran. Namun hingga hari terakhir pameran pada 13 Maret 2023, nama Uyung Hamdani tetap diabaikan. Lima belas foto karya Uyung Hamdani tentang Uma di Pesisir Mentawai dipaksa menjadi foto karya Muhaimin Nurrizqy.

Tulisan lengkap di sini

 

ARTIKEL II

Tanpa Judul (20 Maret 2023)

Oleh Heru Joni Putra

aya membaca dengan penuh minat tulisan Ramadhani tentang pameran “Halaman Depan Multikulturalisme”, berikut dengan komentar turunan dari para sahabat lainnya dalam rangka menyemarakkan terbitnya tulisan itu. Di tengah semakin apatisnya umat manusia dengan apapun yang tidak sesuai dengan keinginan serta kepentingan mereka, Ramadhani dan teman-teman lain dengan baik hati masih meluangkan waktu untuk memberikan tanggapan. Tentu saja hal ini tak terlepas dari perkawanan yang sudah terbangun sejak lama, baik dengan saya ataupun kawan-kawan penyelenggara pameran lainnya.

Saya mencoba memahami tulisan tersebut dan komentar-komentar setelahnya satu per satu. Intinya adalah menyampaikan bahwa pameran tersebut banyak kekurangan. Di antaranya disebabkan oleh kurator yang bukan seorang fotografer, strategi pemajangan karya yang tidak efektif, dan keberadaan foto lain yang bukan karya Muhaimin Nurrizqy.

Meskipun tidak semua bagian tulisan + komentar turunan yang dapat saya pahami maksudnya, setidaknya saya masih bisa membedakan mana tanggapan dan mana yang bukan tanggapan. Namun begitu, ijinkan saya tetap ingin memahami semua yang bukan tanggapan itu sebagai kebaikan. Kalau tidak kebaikan yang terselubung, berarti kebaikan yang tertunda.

Tulisan lengkap di sini.

 

ARTIKEL III

Tentang Kolektif Bala dan Sebuah Permohonan Maaf (20 Maret 2023)

Respon atas tulisan Ramadhani

Oleh Esha Tegar Putra

Saya membaca dengan baik catatan Ramadhani di sumbarsatu, dengan judul Yang Luput dan yang Abai dari Pameran Foto Halaman Depan Multikulturalisme (19/3/2023), tentang pameran Halaman Depan Multikulturalisme yang berlangsung di Fabriek Bloc, 27 Februari sampai 13 Maret lalu. Sebagai salah seorang kurator pameran dalam nomenklatur (atau yang dipandang mengaku-ngaku kurator), meskipun dengan segala keterbatasan dan rasa rendah diri di hadapan para fotografer profesional yang hadir saat pembukaan pameran, saya berupaya menjelaskan bagaimana gagasan dari pameran tersebut berikut dengan kelemahannya pada saat pembukaan pameran. Mulai dari bagaimana Randi Reimena selaku periset sekaligus penulis melakukan pendekatan dan pembacaan terhadap arsitektur vernakular di Sumatera Barat melalui basis ilmu kesejarahannya. Termasuk Muhamin Nurrizky, sebagai fotografer, di mana ‘mayor’-nya bukan fotografi melaikan ia pekerja film dan juga seorang penulis.

Kritik Ramadhani terhadap ‘dua hal’ pada dasarnya juga telah dijelaskan pada saat pameran dibuka. Meskipun, hal kedua terkait dengan apa yang dianggap oleh Ramadhani “memangkas hak intelektual seorang fotografer atas karya-karyanya” (Uyung Hamdani), dalam harapan saya bisa didiskusikan oleh Tim Pameran dengan rekan-rekan fotografer, namun hal tersebut tidak kesampaian. Saya berpikir bukankah Tim Pameran (termasuk Randi Reimena dan Muhaimin Nurrizky) juga kerap bertemu dengan Ramadhani, termasuk Uyung Hamdani, sebagai fotografer yang dianggap telah dipangkas hak intelektualnya?

Tulisan lengkap di sini.

 

ARTIKEL IV

Pameran dan Kurator-Kurator Nomenklatur (22 Maret 2023)

Tanggapan atas tulisan Esha dan Heru

Saya telah membaca tulisan Heru Joni Putra dan Esha Tegar Putra terkait catatan saya atas Pameran Halaman Depan Multikulturalisme. Dua tulisan dari dua publikasi berbeda itu menyorot dan membuka beberapa poin yang nyaris sama, walau ada beberapa perbedaan. Saya rasa dua tulisan itu dapat ditanggapi sekaligus, tanpa saya harus membuat dua publikasi yang berbeda.

Esha Tegar Putra dan Heru Joni Putra, pada pameran yang mereka sebut sebagai pameran foto narasi itu berperan sebagai kurator. Jelas, kerja-kerja kuratorial dan urusan pameran bukan hal baru bagi Esha maupun Heru. Keduanya sudah berpengalaman dan terlibat dalam begitu banyak kerja kesenian termasuk pameran, apakah itu pameran di kampus, di galeri konvensional, pameran arsip maupun pameran seni rupa. Mereka tentu paham benar, menjadi fotografer tidak pernah menjadi satu-satunya syarat wajib untuk menjadi kurator pameran foto. Jadi rasanya, tak perlu pula terlalu merendah-rendahkan diri begitu rupa di balik selimut kurator dalam nomenklatur itu.

Saya mengunjungi pameran selayaknya pengunjung dan mencatat apa-apa yang saya temui dalam pameran. Di luar itu, tentang rencana kerja yang berubah, keterbatasan waktu dan dana, tentang tidak adanya tim pameran yang mayor fotografi, soal urusan-urusan dapur dan bilik kecil penyelenggara pameran bukan tempat saya untuk mengomentarinya. Dan mohon maaf, semua itu bukanlah urusan saya.

Tulisan lengkap di sini.

 

ARTIKEL V

Perkara yang Datang Belakangan (22 Maret 2023)

Oleh Zhu Qincay

Ini adalah respon saya terhadap Yang Luput dan Yang Abai dari Pameran Foto Halaman Depan Multikulturalisme (sumbarsatu.com, 19 Maret 2023) yang ditulis oleh Ramadhani, Tanpa Judul (garak.id, 20 Maret 2023) yang ditulis oleh Heru Joni Putra, dan Tentang “Kolektif Bala” dan Sebuah Permohonan Maaf (sumbarsatu.com, 20 Maret 2023) milik Esha Tegar Putra.

Baiknya, handai tolan sekalian membaca tiga tulisan yang ditulis kawan-kawan saya itu terlebih dahulu sebelum lanjut membaca apa yang saya sampaikan ini.

Ada banyak keganjilan yang saya temui dalam pameran “Halaman Depan Multikulturalisme: Pameran Foto Narasi Keragaman Arsitektur Tradisional di Sumatera Barat”. Handai tolan yang telah membaca tulisan-tulisan di atas tentu, sedikit-banyak, bisa membaca apa-apa saja keganjilan yang saya lihat. Dan tiga penulis dari masing-masing tulisan itu, baik langsung ataupun tidak langsung, telah dengan terang menera keganjilan-keganjilan tersebut.

Tulisan Lengkap di sini.

 

ARTIKEL VI

Halaman Belakang Pameran Foto (22 Maret 2023)

Oleh Uyung Hamdani

Nama saya menjadi cikal polemik usai sebuah pameran foto yang digelar beberapa waktu lalu di Padang. Berawal dari tulisan berjudul Yang Luput Dan Yang Abai Dari Pameran Halaman Depan Multikulturalisme yang ditulis Ramadhani. Tulisan itu kemudian ditanggapi kurator pameran Esha Tegar Putra dan Heru Joni Putra. Ketiga tulisan yang mereka tulis membahas perihal nama saya, Uyung Hamdani.

Saya membaca berulang-ulang tulisan Ramadhanu. Dia mengulas pameran secara singkat dan mempersoalkan nama saya yang tidak ada dalam pameran. Meski foto karya saya ada dipajang di pameran tapi hanya satu nama fotografer yang muncul, yakni nama Muhaimin Nurrizqy.

Tulisan itu lalu dijawab Heru Joni Putra dan Esha Tegar Putra. Tulisan mereka senada dengan cara yang tidak sama. Komunikasi mereka cukup baik mengingat salah satunya tidak hadir saat pembukaan pameran. Lewat tulisan ini saya perlu menceritakan beberapa hal.

Tulisan lengkap di sini.

 

ARTIKEL VII

Kronologi Penggunaan Karya Foto Uyung Hamdani (22 Maret 2023)

Oleh Muhaimin Nurrizqy

2 Januari 2023

Tiga hari menjelang ke Mentawai, saya mengatakan tidak bisa ikut ke sana karena ada urusan yang mendadak. Di hari itu pula, malamnya, kami saya dan Randi Reimena, bertemu Uyung Hamdani di Steva. Di sana juga ada Fatris MF.

Kami pun berbincang masalah pengambilan foto di Mentawai. Kami menjelaskan dari awal masalah administratif dan penamaan foto. Kami jelas-jelas menjelaskan kalau membeli foto dan jasa fotografi Uyung secara penuh dan menggunakan nama saya. Uyung pun menyanggupinya.

20 Maret 2023

Seminggu setelah pameran usai, ketika catatan dari Ramadhani terbit, saya mencoba mengonfirmasi lagi ke Uyung. Beliau rupanya punya pandangan berbeda tentang kesepakatan awal tersebut. Beliau menyangka tidak dicantumkan nama bukan memakai nama saya, tapi menjadi “Tim Foto”.

Lihat di postingan Instagram Garak.id.

 

ARTIKEL VIII

Halaman Penutup (23 Maret 2023)

Oleh Randi Reimena

Saya menulis agar semua ini tidak makin berkembang menjadi fitnah. Ada beberapa poin yang perlu ditekankan:

  1. Sejak awal posisi Uyung Hamdani dalam pameran adalah sebagai semacam ‘artisan.’ Kami punya ide dan gagasan, Uyung mengeksekusinya. Kami membeli foto-fotonya untuk ditampilkan atas nama Muhaimin Nurrizqy berdasarkan kesepakatan tak tertulis.
  2. Hak ekonomi sang ‘artisan’ sudah dipenuhi secara fair.
  3. Karena itulah saya tidak menyanggupi saran ‘Pinyu’ Ramadhani agar nama Uyung ditambahkan saat pameran telah berjalan, di samping adanya alasan administratif. Pada saat itu saya juga menjelaskan perkara jual beli karya dan kesepakatan tak tertulis.

Artikel selengkapnya bisa dilihat di sini

Traktir Kopi

Jika tertarik membaca karya penulis ini dan ingin memberikannya dukungan.

Silahkan klik tautan dibawah ini agar penulis lebih bersemangat dan produktif.

Click Here

Dukung kami untuk menghadirkan cerita, dan liputan yang mendalam terkait yang terpinggirkan.

 

Silahkan klik tautan dibawah ini.